Para Raja dari Barat: Kami Bawis. Kamu?

0
646
Diboncengkan mas Bendum sampai di depan Cafe Kapal

Tamu ibarat raja dan barang siapa memuliakannya ia akan diberikan kesejahteraan dan derajat mulia. Demikian barangkali prinsip yang dipegang oleh para pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bontang. Ini dibuktikan dengan “aksi nyata” mereka dalam memperlakukan tamu dari Pengurus Pusat IGI yang datang ke Bontang. Sekjen dan Bendahara Umum IGI diperlakukan bak para raja dari barat. Barat yang dimaksud adalah wilayah-wilayah di sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur.

Selepas kegiatan worksop pemanfaatan IT dan Menemu Baling (menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga) di kantor walikota Bontang, Sekjen dan Bendahara Umum IGI diangkut untuk “mencari angin” ke tepi laut. Tempat itu bernama Bontang Kuala yang merupakan sebuah area perkampungan di atas air laut. Luasnya sekira 1 km x 1 km persegi.

Bontang Kuala
Sebelum memasuki gapura perkampungan, kendaraan roda empat para pengunjung harus diparkir di sebuah lapangan parkir yang tersedia di luar pintu gerbang. Disekeliling lapangan parkir itu terdapat kios-kios yang menjual aneka oleh-oleh khas kampung Bontang Kuala seperti terasi, ikan asin dari yang paling lembut sampai segede layang-layang, dan berbagai jenis dodol yang dibuat dari rumput laut.

Berakit-rakit ke hulu berenang renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah jalan hidup. Ibaratnya, tidak ada makan siang yang gratis. Meskipun senyatanya siang itu kami mendapatkan suguhan makan siang gratis, tetapi syarat untuk mencapai tempatnya kami harus berjalan kurang lebih satu kilo meteran.

Bontang Koala

Tempat yang kami datangi itu dilalui sebuah jalan utama yang ditata dari kayu ulin. Pembatas di tengah-tengahnya berupa balok kayu kecil seukuran kayu usuk. Sementara ujung kiri kanan jalan tidak ada pembatasnya sama sekali. Jalan dibuat di atas kayu pancang setinggi satu setengah sampai dua setengah meteran. Jalan itu membentang dari pintu gerbang menuju ke tengah laut. Di bawah jalan utama ada beberapa motor boat dan perahu yang ditambatkan. Alat transportasi dan mencari nafkah tersebut baru bisa dioperasikan manakala air pasang telah datang.

Ujung pintu gerbang perkampungan berupa gapura yang diatasnya tertera nama kampung tersebut. Rimbunnya mangrove yang mengelilingi gapura membuat gerbang kampung yang terbuat dari kayu ulin itu tampak lebih cantik. Lokasi gapura berada di atas jembatan masuk ke perkampungan yang di bawahnya mengalir air yang berwarna coklat muda. Jika dilewati maka jalan utama itu akan berhenti di ujung satunya lagi yang berada di tengah laut. Di sanalah berdiri cafe-cafe dan resto yang menyediakan tempat memancing dan berbagai macam makanan dan minuman untuk para wisatawan.

Jalan Utama

Jalan utama kampung itu memiliki beberapa cabang yang berupa jalan-jalan yang lebih kecil yang saling terhubung satu dengan yang lain. Lebar jalan utama kurang lebih tiga meter sedangkan cabang-cabangnya selebar kurang lebih dua meter. Kayu ulin dipilih sebagai bahan baku jalan maupun bangunan di daerah pasang surut seperti di Bontang Kuala karena sifatnya yang istimewa. Berbeda dengan kayu lain yang apabila terkena air mengalami pelapukan, sebaliknya kayu ulin justru semakin kuat dan liat. Bahkan pada masa-masa awal pembangunan jalan di daerah yang rata-rata bertanah gambut di Kalimantan, bahan yang digunakan untuk membuat jalan pertama kali adalah kayu ulin karena keistimewaan yang dimilikinya tersebut.

 

Konon perkampungan Bontang Kuala merupakan hunian paling tua di Kota Bontang. Para pioneer yang datang luar pulau pertama kali membangun pemukiman di daerah tersebut, dan sampai saat ini pemukiman itu masih tetap bertahan. Tercatat di kawasan tersebut terdapat sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1786. Berarti pemukiman tersebut sudah berdiri hampir 300 tahun yang lalu, bahkan mungkin lebih.

Selalu saja bunyi berderak-derak muncul setiap kali ada kendaraan bermotor yang melintas di atas jalan. Mungkin bagi yang tidak biasa suara itu menimbulkan rasa tidak suka. Bunyi berisiknya mengganggu pendengaran orang-orang yang ingin mencari kenyamanan. Namun bagi yang sudah biasa justru suara itu adalah wujud kerinduan yang tak terungkapkan. Suara berderak itu membawa kisah masa lalu yang tidak semua orang tahu. Dalam nuansa laut yang biru siapapun bisa terhanyut dalam kenangan masalalu yang membuat hati sendu.

Kavling di atas air

Jalan Kaki
Sudah 300 meter kami berjalan kaki. Di kiri kanan jalan terlihat rumah-rumah kayu ulin yang berdiri berjajar rapi. Rata-rata rumah itu dicat warna-warni dengan ornamen ornamen yang menarik hati. Pemandangan itu mengingatkan pada perkampungan dalam film-film koboi. Bedanya jika di film Wild-wild West rumah-rumah berjajar diatas padang tandus, tetapi ini di atas lumpur yang tertutup air jika laut sedang pasang.

Di sela-sela rumah kayu ulin itu terdapat tanah-tanah berlumpur yang kosong dan diberi pancang pancang kayu ulin. Pancang-pancang itu setinggi kira-kira 2,5 meter yang diatur dalam ukuran panjang kali lebar tertentu layaknya seperti ukuran petak tanah. Ternyata begtulah cara warga Bandar Koala untuk membuat kavling siap bangun di atas tanah yang setiap saat tertutup air pasang.

Jalan kayu ulin

Penulis dengan beberapa pengurus IGI Bontang tetap berjalan tanpa lelah sampai sesaat kemudian mas Gusti Surian, Bendahara umum IGI. datang menghampiri. Ditawarkannya tumpangan kepada penulis untuk sampai ke tempat tujuan. Rupanya dia barusan mendapat pinjaman motor dari pengurus IGI kota Bontang.

Dijemput mas Bendum Gusti Surian

Aha! Ini dia, pucuk dicinta ulampun tiba. Penulis segera membonceng mas Gusti Surian. Sesaat kemudian dari kejauhan mulai terlihat tulisan besar berwarna merah yang menempel pada tembok sebuah bangunan. Bangunan itu nampak berdiri memanjang di tengah laut. Itulah venue eksotis yang ditawarkan oleh para pengurus IGI Bontang kepada para Raja dari Barat untuk tempat makan siang. Penulis segera tahu nama tempat itu adalah Cafe Kapal. Tulisan merah yang berada di dinding bangunan menyebut nama tempat itu dengan terang-terangan dari kejauhan. Untunglah sebagian pengurus IGI kota bontang membawa kendaraan bermotor sehingga kami bisa dibonceng satu persatu kawa-kawan yang berjalan kaki untuk menuju ke lokasi. Sesaat sebelum semua memasuki pintu gerbang Cafe kapal kami sempat berfoto bersama dalam berbagai gaya. Tujuannya sederhana. Yaitu supaya para guru IGI di Bontang cemburu melihatnya. Dan suatu ketika mereka bisa mendatangi tempat yang kami datangi tersebut untuk suatu kegiatan mulia. Kami tidak tahu entah ini tujuan mulia atau sebaliknya tetapi itulah kenyataannya. Kami ingin semua guru hebat sharing and growing together dimanapun tempatnya, termasuk di kampung Bontang Kuala.

Cafe Kapal
Tempat itu tampaknya biasa menjadi rendesvous bagi insan yang sedang dilanda perasaan muda. Keindahan dan kenyamanan tempat makan siang itu memang begitu menenteramkan. Dan jika malam datang, romantisme akan meliputi suasana di atas laut yesebut. Apalagi dalam temaram cahaya lilin yang sengaja dibiarkan menyala sampai tengah malam. Atau dalam redup cahaya purnama yang sesekali tertutup awan.

Mancing di depan Cave Kapal

Sesampai di Cafe Kapal, PP IGI disuguhi dengan hidangan yang paling langka di dunia. Hidangan itu hanya ada di kota Bontang karena bahan bakunya hanya ditemukan di perairan sekitar kota Bontang. Nama hidangan khas tersebut adalah kami bawis. Nama itu terkesan berbau bau bahasa Jepang tetapi sebenarnya itu bahasa asli Bontang. Hidangan bentuknya berupa ikan bawis yang dimasak dengan sedikit kuah yang berminyak dengan campuran ,bumbu bawang merah, cabe, bawang putih, dan tomat serta daun kemangi.

Bentuk dan besarnya mungkin tidak seberapa karena dua ikan bawis yang terbujur di atas piring tanah liat dan berbalut bumbu itu tipis.Lebar bagian tengahnya hanya srukuran tiga jari orang dewasa, sedang panjangnya sekitar 12 cm. Kecil dan tipis memang, namun rasanya jangan ditanya. Sungguh mak nyuss, lezat sekali! Pantas saja ketika Gubernur Kaltim suatu ketika ke Bontang dia minta dihidangkan menu kami bawis. Dan sejak saat itu ikan yang dulu dianggap biasa ini naik derajat menjadi menu istimewa.

Hidangan Kami Bawis

Dalam sekejap mata terihat Mas Bendum menikmati ikan di depannya hingga tuntas. Yang tinggal hanyal tulang belulang belaka. Sementara nasi putihnya sudah bablas sejak lima menit sebelumnya. Ikan bawis itu bahkan ludes, sampai kepalanyapun tak tersisa. Kondisi tersebut persis sama dengan apa yang ada di atas piring penulis. Jadi jika anda berkunjung ke Bontang Jangan lupa untuk mampir sejenak ke kampung tertua Bandar Koala dan menikmati menu istimewa kami bawis.

Selepas dari Cafe Kapal kita segera meluncur ke tempat sholat yang paling tua di kota Bontang. Tetapi sebelum sampai ke mesjid Al-Wahhab kami sempat mampir ke kios di sekitar lapangan parkir untuk membeli oleh-oleh khas Bontang.

Oleh-oleh dari Bontang
Bagi penulis, tidak ada yang lebih menarik daripada terasi asli Bontang dan ikan tengiri asin. Trasinya mungkin harganya cenderung miring, tetapi ikan asin besar itu harganya sangat “tegak” alias tinggi. Satu kilo 125.000 rupiah. Bisa ditawar tetapi hanya turun lma ribu rupiah. Penulis tidak tahu apa yang menyebabkan ikan yang sudah berubah rasanya menjadi asing tersebut justru harga per kilonya jauh lebih tinggi daripada ketiga dalam kondisi masih segar.

Supaya nanti di pesawat tidak berbau, ikan yang berbau sangat amis tersebut dibungkus rapat dengan tambahan taburan serbuk kopi. Seketika bau amis betubah menjadi harum kopi semerbak mewangi. Kopi kapal api kami pilih sebagai serbuk penabur bukan karena dipercayai bahwa jika yang di taburkan adalah kopi kapal api maka bau amis akan tertanggulangi dengan kerfektivan tinggi, tetapi karena pedagangnya memang hanya menyediakan secara gratis merek kopi kapal api.

Saat catatan ini selesai ditulis terasi dan ikan tengiri asin yang penulis bahwa masih utuh tergeletak di atas meja. Semoga nanti ada kesempatan baik untuk merawatnya dan menjadikannya hidangan yang enak yang istimewa. Jika ada yang berkenan untuk mencoba silakan datang ke Sampangan Semarang, ke rumah Sekjen IGI. Rencana terasi akan diolah menjadi sambel terasi Lombok setan dan ikan asin tenggiri akan diolah menjadi oseng lombok ijo ikan asin tenggiri. Ada yang mau?
Mampuono

Menulis semudah menghela nafas
#menulislah5menit#

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here