METODE MENEMU BALING YANG LAMA DITUNGGU NAMUN MENJANJIKAN

Sesi 5 menit berulang Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga menunggu pintu lift terbuka.

0
578
Tempat pelatihan yang hampir tidak ada yang sempat menikmati fasilitas rekreatifnya. Swiss-Bel Hotel Residence

Selama tiga hari, dari tanggal 15 sampai 17 Desember tahun 2016 ada sekitar 200 kepala sekolah, pengawas, dan widyaiswara bertemu di Swiss-bel Hotel Kalibata Jakarta. Mereka mengikuti kegiatan pelatihan KTI yang biasa diselenggarakan tahunan oleh Kementerian Pendidikan Nasional di bawah Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan.

Pelaksana kegiatan pelatihanKTI.

Kegiatan ini tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi para penilai dan pelatih karya tulis ilmiah guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam rangka pengajuan angka kredit. Materi-materi yang disajikan dari awal sampai akhir berkisar pada bagaimana melakukan penelitian tindakan sekolah (PTS) untuk pengawas dan kepala sekolah serta penelitian tindakan kelas (PTK) untuk kepala sekolah. Sedangkan widyaiswara diikutsertakan dalam kegiatan ini sehingga mereka juga memiliki persepsi yang sama di dalam dalam memberikan pelatihan KTI kepada para guru, kepala sekolah dan pengawas.

Narasumber dalam kegiatan ini diantaranya adalah Profesor Doktor Sudarwan Darmin dari Universitas Negeri Bengkulu, Profesor Doktor Supardi dari Universitas PGRI Semarang, dan Profesor Doktor Sri Marhaeni dari Universitas Negeri Semarang. Mereka rata-rata memberikan materi dengan gaya khas masing-masing yang sehari-harinya bekerja sebagai para dosen di perguruan tinggi. Beda gaya tentu beda respon oleh para peserta. Masing-masing peserta memiliki tipikal narasumber sesuai selera masing-masing sehingga tampaknya hal itu cenderung mempengaruhi gaya para peserta dalam mengikuti sesi oleh masing-masing narasumber.

Gaya salah satu profesor. “Tahu?” itu kata kunci yang selalu diulang.

Pada siang hari kedua kemarin saya menyempatkan diri untuk bersilaturahim dengan para IGI-ers Jakarta. Pada saat istirahat makan siang selepas Jumatan saya dijemput oleh para pengurus IGI pusat yang bergabung dengan pengurus IGI DKI Jakarta untuk sejenak berdiskusi di salah satu Resto es teler terkenal di Mall Kalibata. Mereka adalah mas Danang, Bu Azizah, dan Pak Adin. Diskusi berkisar pada pemanfaatan tablet untuk pembelajaran, pembentukan IGMP, dan bagaimana cara meningkatkan jumlah keanggotaan para guru DKI Jakarta di dalam Sisfo IGI. Guru Kemenag yang jumlahnya di atas delapan ribu orang memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi anggota IGI daripada guru Kemendikbud yang menjadi pegawai Pemda DKI Jakarta. Kabarnya mereka akan bergeming dengan perubahan apapun karena sudah merasa sangat nyaman dengan tunjangan penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan tunjangan guru lainnya. Dalam waktu dekat IGI DKI Jakarta akan menyelenggarakan kegiatan yang menarik bagi para guru Kemenag untuk sharing and growing together.

Bersama PP dan Pengurus IGI DKI Jakarta

Malam tadi saat saya mengikuti salah satu sesi dari salah seorang profesor dari Universitas Negeri Semarang tiba-tiba salah seorang widyaiswara dari P4TK bahasa mendekati saya dan kemudian menanyakan tentang aplikasi Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan berbicara dengan telinga yang pernah saya share di grup widyaiswara Kemdikbud. Dengan agak berbisik supaya tidak menarik perhatian kemudian saya beritahu beliau bahwa aplikasi itu bisa didownload di www.igi.or.id/download. Kemudian beliau pun mendownloadnya dan mengikuti langkah-langkah yang diinstruksikan di dalam aplikasi tersebut. Dengan sedikit setting sana-sini akhirnya proses berhasil sehingga beliau bisa melakukan aktivitas menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang pertama kali. Beliau merasa berbahagia sekali dan setelah itu beliau mengatakan bahwa beliau akan membuat buku sebanyak-banyaknya dengan dibantu oleh aplikasi tersebut. Beliau sangat berterima kasih karena aplikasi yang seperti itu sudah lama sekali beliau nanti-nantikan dan bahkan menyarankan saya supaya mempatenkan aplikasi tersebut. Saya hanya menyatakan bahwa aplikasi yang saya buat tersebut adalah untuk rahmatan lil alamin Siapapun boleh memakainya dengan harapan orang Indonesia index membacanya menjadi lebih tinggi karena mereka belajar lebih banyak dan mereka akhirnya bisa membagi ilmunya berupa tulisan-tulisan dalam buku-buku, blog, media sosial atau kreatifitas yang lain. Sedangkan bagi guru-guru mereka bisa dengan mudah membaca sesuatu tanpa menggunakan mata sehingga mata tidak menjadi rabun karena membaca bisa cukup dengan menggunakan telinga. selanjutnya perkara-perkara penulisan karya tulis ilmiah, PTK, PTS, dan lain-lain dapat dilakukan bahkan sambil memejamkan mata. Bagi saya ini kebahagiaan tersendiri ketika orang-orang menggunakan aplikasi yang memang sangat berguna tersebut untuk kemaslahatan umat. Sebelum saling berpisah kita sempat saling memperkenalkan diri dan tukar menukar nomor HP. Beliau adalah Pak Heri Wibowo widyaiswara bahasa Indonesia di P4TK Bahasa.

Pada pagi harinya, this morning off course, saya didekati lagi oleh widyaiswara yang lain yang juga teman dekat Pak Hari. Kalau yang ini saya kenal karena sempat pernah bertemu di P4TK bahasa sebelum kita berangkat kursus bahasa Inggris di Singapura Beberapa bulan yang lalu. Beliau adalah widyaiswara bahasa Arab, namanya Pak Dedi. Pak Dedi dengan bangga menunjukkan bahwa dia sudah menginstal aplikasi Menemu Baling ke tablet beliau melalui bantuan dari Pak Hari. Rio segera menunjukkan ikon aplikasi tersebut di tabletnya dan menanyakan apakah aplikasi tersebut bisa digunakan untuk bahasa Arab. Saya katakan bisa. Caranya kita setting sebentar bahasanya menjadi bahasa Arab lalu kita menguji coba untuk mengucapkan kata berbahasa Arab. Alhamdulillah uji coba itu berhasil karena begitu kita mengucapkan Assalamualaikum ahlan wa sahlan langsung seketika di dalam tablet Pak  Dedi muncul tulisan Arab yang merupakan wujud tertulis dari apa yang kita ucapkan.

Bagi saya sekali lagi ini kebahagiaan tersendiri karena Mas Dedi berencana membuat buku-buku tentang kultum untuk remaja yang isinya tentu saja banyak menggunakan ayat-ayat berbahasa Arab. Dia berharap bisa menyebarkan banyak sekali kebaikan melalui tulisan-tulisannya dengan menggunakan metode menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang saya perkenalkan, dan harapan beliau saya juga mendapatkan kebaikan dari apa yang sudah saya berikan kepada beliau. Saya pun dengan bahagia mengucapkan amin.

Aktivitas menulis dengan mulut membaca dengan telinga ini saya lakukan bila kira 5 menit untuk menghasilkan tulisan kira-kira 3 halaman. Ternyata aktivitas saya dalam melakukan kegiatan Menemu alias menulis dengan mulut menarik perhatian salah satu widyaiswara dari Lampung yang tadi berdiri dekat saya. Saya terus saja mengucapkan apa yang tertulis pada tulisan ini dan saya melirik beliau tampaknya penasaran dengan apa yang saya lakukan. Akhirnya beliau mendekati saya dan bertanya apa yang sudah saya lakukan. Apakah saya sedang merekam suara? Saya katakan bahwa saya tidak sedang merekam suara saya tetapi saya sedang menulis. Menulis dengan mulut! Beliau terheran-heran dan ingin tahu caranya. Saya beritahukan bahwa untuk melakukannya dibutuhkan sebuah aplikasi yang bisa didownload secara free di www.igi.or.id/download. Hal itu membuat beliau ingin sekali memiliki aplikasi Menemu Baling. Maka kemudian kita bertukar nomor WhatsApp dan saya berjanji akan mengirim alamat download aplikasi tersebut. Beliau adalah Widyaiswara dari Lampung tempat dimana saya menciptakan aplikasi tersebut ketika tidak bisa tidur karena semalam sebelumnya saya meminum Secangkir Kopi Hitam Lampung tanggal 1 Desember 2016 lalu.

Salam pergerakan pendidikan!

SEKJEN IGI
Mampuono

#Menulislah 5 menit setiap hari seakan itu wasiat kebaikan terakhirmu.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here