MASIH BISAKAH GURU MEWARISKAN KEINDAHAN INDONESIA UNTUK ANAK CUCU KITA?

Sesi Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga, dalam praktek menulis harian 5 menitan berulang

0
648
Semak belukarpun tetap indah.

Hampir tidak ada satupun bagian dari alam di Indonesia yang tidak cantik. Sebagai sebuah negara tropis yang berada di jalur khatulistiwa maka sangat pantaslah jika Indonesia disebut sebagai Zamrud Khatulistiwa. Untaian warna hijau dari pulau-pulau yang berjajar di seluruh Indonesia, dari Sabang Sampai Merauke, jika dilihat dari udara maka kita akan menjadi sangat takjub. Really awesome!

Indonesia sebagai zamrud katulistiwa

Untuk melihat dari udara  tidak selalu kita harus menggunakan pesawat udara yang tiketnya kian hari kian mahal  dan tidak menentu harganya, terutama pada saat weekend dan menjelang hari-hari besar atau liburan. Kita cukup membuka  telepon pintar atau laptop kita  dan membuka aplikasi Google Maps atau Google Earth, lalu menjelajah dari ujung ke ujung kepulauan Indonesia.  Benar-benar tidak akan ada yang tidak indah untuk sebuah Indonesia. Ini bukan sebuah statement subjektif meskipun keindahan kadang diartikan sebagai sesuatu yang subjektif dan relatif. Kita bisa menanyakannya kepada orang-orang di luar sana yang sering kali datang ke Indonesia memang karena ingin melihat dari dekat keindahan negeri kita tercinta. Sungguh Maha Besar Tuhan dengan segala rahmatnya. Betapa Indonesia adalah sebuah karunia yang siapapun mendapatkannya sudah seharusnya mensyukuri dan memeliharanya tanpa kecuali.

Indonesia (Bali) dari udara

Jika dari udara  pandangan kita terlalu jauh maka sesekali sempatkanlah untuk melakukan perjalanan menyusuri alam kapanpun  memiliki waktu. Jangan lupa  membawa ponsel untuk mengambil gambar dan menuliskan pengalaman dengan Metode Menemu Baling atau  menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga (www.igi.or.id/download).  Dan sekali lagi jika melakukan perjalanan darat dianggap memberatkan  karena ongkos untuk menebus harga bahan bakar,    kita bisa membuka  aplikasi  Google Maps di laptop atau ponsel pintar kita. Apalagi  sekarang  aplikasi tersebut  sudah dilengkapi dengan pemandangan jalan-jalan  darat  pada menu Street View-nya. Kadang-kadang kita memang sayang untuk buang uang baik untuk ongkos bensin kendaraan sendiri ataupun membeli  tiket kendaraan umum, soalnya sering kali kita  harus merogoh kocek dalam-dalam,  karena semakin jauh perjalanan berarti semakin dalam kita merogoh kocek kita.  Dengan menu Street View di Google Maps  kita tidak perlu beranjak dari depan  laptop atau ponsel pintar kita  untuk menjelajah  berbagai daerah  di Indonesia seolah kita sedang berlenggang di jalan tersebut.

Indonesia (Bandar Lampung) dari atas gunung

Namun rasanya agak keterlaluan ketika  kita tidak mau sesekali keluar rumah dan melihat alam sekitar,  lalu dengan tulus kita  memberikan apresiasi terhadap  ciptaan Tuhan tersebut. Hitung-hitung sebagai wujud rasa syukur karena kita sebagai bangsa  sudah diistimewakan oleh Tuhan dengan karunia surga dunia yang berupa negeri ijo royo-royo yang bernama Indonesia. Jika perasaan kita  halus dan mudah bergetar mungkin kita akan berkaca-kaca setiap kali memandang alam luas yang terbentang di hadapan kita. Indonesia sungguh tiada duanya! Jika ingin melihat perbandingannya cobalah cermati ketika  membuka Google Maps. Lihatlah betapa citra satelit menampilkan  kepulauan kita dengan warna paling hijau.  Jangankan dibandingkan dengan pemandangan alam yang ada di wilayah Timur Tengah, dengan Australia atau Asia Timur saja   kita akan melihat sesuatu yang sangat kontras. Warna hijau bersanding  dengan warna coklat dan abu-abu. Warna coklat dan abu-abu jika didekatkan dan diperbesar maka akan tampak bahwa yang ada di sana   adalah gurun pasir, batu karang dan debu yang berterbangan. Sementara itu di negeri ini yang kita lihat dimana-mana adalah hutan dan tumbuhan serta padang rumput yang menghijau dengan sesekali sebaran kabut yang menyelimuti dan menampakkan keindahan tersendiri.

Rumput liar itu begitu indah jika kita pernah merasakan hidup di gurun.

Seperti perjalanan pada  hari ini. Tugas mengharuskan saya untuk menjelajah daerah pegunungan yang diselimuti oleh hutan jati, hutan karet, hutan sengon, dan hutan pinus dalam perjalanan dari Semarang menuju Temanggung sebelah utara melalui jalur Boja-Patehan. Sebenarnya kalau ditempuh dengan kecepatan normal perjalanan mungkin hanya akan memakan waktu kurang lebih satu jam 45 menit, namun di perjalanan ada saja yang menarik perhatian sehingga mobil kita perlambat dan wajtunya nenjadi 45 menit lebih lambat.  Kita menyempatkan diri untuk merekam segala sesuatu yang bisa menjadi ide tentang betapa indahnya alam Indonesia untuk kita ceritakan kepada khalayak agar menjadi sumber inspirasi dan menambah kecintaan kepada Ibu Pertiwi.

Perjalanan dimulai dari Sampangan daerah tinggal kami menuju kampus Universitas Negeri Semarang atau Unnes.  Jalan yang sudah dibeton mulus dilengkapi pemandangan berbukit-bukit dengan pepohonan di kiri kanan yang berwarna hijau subur memberikan nuansa tersendiri dalam hati setiap orang yang berusaha mengagumi ciptaan Tuhan. Saya  sengaja mengajak serta istri dan dua anak terkecil saya karena sampai akhir tahun ini saya sudah terlalu sering bepergian ke berbagai tempat di tanah air sendirian dan kesempatan untuk bersama-sama  mereka juga semakin jarang, maka tidak ada salahnya momen ini saya jadikan sebagai kesempatan untuk mempertinggi kualitas pertemuan dengan mereka. Caranya dengan memberikan mereka hiburan dan pengalaman menjelajah alam pedesaan pegunungan dan hutan menuju lokasi monev di SD Candiroto 01 Kabupaten Temanggung.

Hijaunya tumbuhan akan selalu indah

Dalam waktu kurang lebih 20 menit kita sudah sampai di Gunungpati. Indah dan segarnya pemandangan sepanjang perjalanan yang kita lalui membersitkan ide di benak istri bahwa suatu ketika dia ingin sekali memiliki sebuah rumah yang berada di daerah pegunungan, berdekatan dengan pepohonan yang hijau dan rimbun dan disampingnya ada sawah berterasering indah yang senantiasa berisi padi mulai dari yang hijau royo-royo sampai yang merunduk menjadi kuning keemasan. Saya hanya tersenyum mengaminkan dalam hati apa yang menjadi ide di dalam benak istri dan berpikir siapa tahu apa yang sudah dipikirkan isteri itu suatu ketika memang benar-benar terjadi karena Tuhan mengatakan bahwa segala sesuatu memang dimulai dari pikiran. Untuk melengkapi impian isteri saya mengatakan bahwa yang dia maksudkan lebih tepat disebut vila atau rumah peristirahatan. Mungkin ketika kita sudah tua nanti kita perlu mencari tempat yang tenang untuk sesekali bercocok tanam, melihat angin memainkan ujung-ujung padi yang bergerak seperti ombak berwarna hijau yang memukau sambil mengenang masa muda.  Dan tentu saja doa kami semoga kita dan para sahabat guru semua semua tetap sehat untuk berbagi kepada sesama. Menjadi khairunnas (sebaik-baik manusia) yang anfauhum linnas (paling berguna bagi umat).

Ru put menjalar di jalanan pun terlihat indah sekali

Perjalanan menjadi semakin naik turun ketika kita mendekati pemancingan Barokah  di daerah Sikopek yang terkenal itu. Pemancingan Barokah  adalah tempat pemancingan  besar yang pertama  dibangun  di daerah perbatasan Semarang dengan Boja. Pemancingan itu seingat saya diresmikan oleh presiden dan juga menjadi tempat kumpul saya dan teman-teman “Golkar” saya. Itu bukan nama partai lho, tetapi sebutan untuk mereka yang telat nikah karena Tuhan menghendaki persahabatan kami lebih kental mungkin. Golkar sendiri singkatan dari bahasa Jawa Golongan Kasep Rabi. Kembali ke pemancingan Barokah, tempat itu terkenal  dengan komunikasi khas lewat teriakan. Teriakan dimulai ketika kasir memberi aba-aba kepada petugas penimbang ikan tentang berat, jumlah, jenis ikan dan jenis masakan yang dipesan  oleh pelanggan. Tidak sampai di situ, setelah masakan untuk orang yang antri sampai ratusan itu matang kemudian dilanjutkan dengan teriakan saling bersahutan dari puluhan petugas pembawa masakan ikan yang sudah matang. Variasi masakan serba ikan itu di antaranya  seperti  ikan bakar, ikan bumbu bali, ikan bumbu saus, ikan bumbu asam manis, dan lain-lain. Teriakan berupa penyebutan nomor urut nota pembelian untuk mencari tempat duduk pelanggan yang sebelumnya sudah antri untuk memesan masakan ikan dan kemudian menyebar bebas di area yang sangat luas.  Ini benar-benar cara yang unik dan sangat konvensional serta berbeda dengan pemancingan yang tumbuh belakangan yang lebih menggunakan sistem informasi untuk melayani pelanggan. Mungkin inilah yang menarik para pelanggan untuk datang lagi seperti yang kami lakukan pada siang hari selepas menyelesaikan tugas di Temanggung. Perkembangan pemancingan ini terlihat sangat signifikan dengan dibangunnya resto berlantai tiga yang bisa menampung beratus-ratus pelanggan disamping tempat lesehan lama yang menyebar ke seantero wilayah pemancingan di pinggir-pinggir kolam. Saat lewat tempat tersebut pada saat perjalan departure, hehe.. kayak pesawat saja, saya sengaja diam saja ketika istri dan anak berseru bahwa mereka sedang melewati tempat pemancingan Barokah.   Diam-diam saya akan memberi kejutan pada mereka pada siang hari nanti dengan mengajak mereka mampir makan siang dan memberi kesempatan anak-anak untuk memancing sepuasnya selepas menunaikan tugas.

Misteri kabut indah

Perjalanan masih terus berlanjut selepas melewati kota Boja. Instruksi pada Google Map memerintahkan  untuk melalui jalan Boja-Patehan. Kurang lebih 5 menit lepas dari kota Boja terlihat jalan mulai menanjak dan tampak di sebelah kanan jalan, di tepi sungai yang berlatar belakang  sawah berdiri kokoh sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi. Saya sering menyebut pohon-pohon besar yang terlihat menonjol lebih tinggi menjulang dari pohon-pohon yang lain sebagai pohon Avatar, tidak peduli apakah dari jenis randu alas, jangkang, beringin atau lainnya. Itu  karena terilhami oleh sebuah film Hollywood yang berjudul Avatar. Sebuah film Box  Office yang menceritakan tentang sebuah planet di galaksi lain yang dihuni oleh spesies manusia raksasa yang tinggal di pohon-pohon yang menjulang tinggi meraksasa, manusia bumi pendatang menyebutnya Avatar karena mereka bisa bertransformasi menjadi manusia-manusia raksasa tersebut melalui mesin tertentu. Seperti Avatar pada aplikasi Yahoo yang pernah terkenal dulu. Dan pohon-pohon tersebut saat ini sudah sangat jarang ditemui di daerah-daerah yang sudah mulai padat penduduknya.

Pohon “Avatar”

Tidak lama kemudian didepan mata sudah muncul jalan yang seperti memasuki sebuah mulut terowongan. Terowongan itu tidak terbuat dari beton tetapi  lebih merupakan bentuk alami dari dahan pohon karet denganan daun-daun lebatnya  yang melengkung di kiri dan kanan jalan sehingga membentuk sebuah terowongan panjang. Gelap, sedikit berkabut, namun asyik. Sambil berjalan kita menyempatkan untuk mengambil beberapa gambar yang menurut kita sangat cantik, mewakili alam Indonesia dalam suburnya   hutan karet. Hutan karet tersebut di sana sini juga diselingi oleh hutan jati, hutan sengon, dan hutan pinus. Yang lebih menakjubkan  lagi adalah ketika di kejauhan tampak pegunungan yang membiru dengan kabut tipis di kakinya lalu di latar depannya terdapat lembah berwarna hijau muda dengan pohon-pohon cengkeh yang terlihat hijau tua   tersebar menghiasi hamparan  tersebut dengan sangat indah nya. Amazing! Semua yang di mobil berdecak kagum, indahnya. Sayang kita tidak bisa mengambil gambar karena jalan sempit dan menurun, sementara di belakang kita ada beberapa mobil yang lain.

Terowongan “Alaxka”

Satu jam dari Boja sampailah kita di sebuah pertigaan. Arah panah hanya menunjuk ke kiri dengan tulisan Bejen sementara yang ke kanan tidak ada petunjuk arah sama sekali.  Kamipun berinisiatif menanyakan arah ke SD Candiroto 1 kepada anak-anak muda yang berada di pertigaan tersebut. Mereka tampaknya sedang mengumpulkan sumbangan untuk masjid dengan cara mencegah mobil-mobilan mau lewat. Saya tidak tahu apakah dana yang terkumpul tersebut benar-benar untuk masjid karena dari tampang dan penampilan  mereka, mereka jauh dari performa pemuda masjid. It’s none of my busines. Itu bukan urusan saya. Lagian bisa jadi perkara kalau saya nanya macam-macam. Yang penting saya sudah diberi arah yang kami percaya benar. Ke kiri!

Kubangan tsrakhir dari total 2 km jalan penuh kubangan.

Kamipun sepakat belok ke arah kiri untuk melanjutkan perjalanan. Jalan ternyata semakin sempit dan semakin sepi. Kira-kira satu kilometer kemudian kami mendapatkan bahwa jalan mulai tidak nyaman. Mobil harus bergerak pelan sekali karena hampir tiap jengkal jalan tersebut berlubang-lubang dan menjadi kubangan-kubangan dangkal dan dalam  yang dipenuhi air. Saya harus cermat memilih jalan yang relatif lebih rata atau saya akan dikomplain isteri yang sedang hamil empat bulan. Perjalanan di tengah daerah Alaska alias alas (hutan) karet tersebut menjadi semakin lambat karena kita harus saling berbagi jalan ketika berpapasan dengan kendaraan bermotor atau mobil dari arah berlawanan. Jalan tetap buruk penuh kubangan kurang lebih dua kilometer lagi. Setelah menjalani “ujian” tersebut dengan penuh kesabaran akhirnya sampailah kita di jalan halus Temanggung-Weleri yang melintasi kecamatan Bejen. Tiba-tiba suara cewek di dalam aplikasi Google Maps mengatakan bahwa kita sudah berada di jalur yang benar dan dalam waktu 22 menit lagi  akan sampai. Wah, cerdas sekali nih cewek, pas tadi jalan berlubang dia diam saja. Gilirannya sudah mulus, ngoceh lagi dia. Anyway thanks to Mas Larry Page dan Mas Sergey Brin yang sudah menginisiasi Google. Kita ke mana-mana jadi mudah dan bahkan kini kita dalam sekejap dapat menuliskan laporan pandangan mata dengan metode Menemu Baling yang Menemu-nya kini juga mendapat julukan baru sebagai metode menulis LMS (Lewat Mulut Sendiri) atau kalau dalam bahasa Jawa Ngoko atau kasar disebut sebagai metode menulis LCD (Lewat Cangkeme Dewe).

 

Meski sempat kesasar karena letak spot di Google Maps melenceng dua km dari tempat sesungguhnya dan saya harus menyetir mundur,  pada jam 11.00 WIB alhamdulillah kami sampai di SD Candiroto 1.  SD itu terletak di  Temanggung bagian utara yang mendapat bantuan pemerintah (Bantah) untuk pelaksanaan kurikulum 2013. Saya ditugaskan  untuk melakukan monitoring dan evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum 2013 terkait dengan adanya Bantah tersebut.  Ada empat jenis instrumen yang harus dibawa untuk digunakan sebagai alat  penggali data karena respondennya ada 4 orang yang terdiri dari guru yang dilatih oleh LPMP,  kolega dari guru tersebut, kepala sekolah, dan pengawas.

SD Candiroto 1 Teanggung

Instrumen akhirnya selesai diisi dalam waktu satu jam setengah. Sebelum berpamitan saya sempatkan bercerita betapa indahnya indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama negara-negara di Timur Tengah misalnya. Kemudian saya pun menyatakan bahwa itu semua adalah warisan untuk anak cucu kita yang jika mereka tidak pandai-pandai mengelolanya akan lepas lagi ke tangan asing. Untuk itu mau tidak mau para anak didik kita harus menjadi generasi yang pintar,  berakhlak dan  skillful. Mereka harus bisa berdiri sama tinggi dan  duduk sama rendah dengan generasi negara-negara yang lain. Bukan seperti kecenderungan saat ini di mana negara kita menjadi penghasil buruh migran paling besar didunia dan mereka ke luar negeri hanya menjadi orang suruhan, bukan orang yang memerintah. Untuk itu saya berpesan kepada bapak-ibu guru, kepala sekolah, dan pengawas yang hadir di tempat itu agar mereka membimbing guru untuk merubah mindset mereka dari semangat egosentris yang memandang kesuksesan adalah kesuksesan keluarga guru-guru tersebut dengan anak-anak yang berhasil kuliah   di tempat-tempat terkenal lalu berhasil “menjadi orang” menjadi kesuksesan kolektif kolegial dimana fokusnya lebih kepada kesuksesan anak didik di masadepan. Untuk itu kuncinya adalah guru harus berkualitas. Mereka tidak boleh tidak harus belajar lagi hal-hal yang baru terus menerus dan meningkatkan kompetensinya sehingga bisa menjadi para guru hebat yang akhirnya menghasilkan orang-orang hebat. Dan orang-orang hebat tersebut akan menghasilkan karya-karya hebat untuk Indonesia tercinta dan karunia keindahan Indonesia akhirnya bisa benar-benar menjadi milik anak bangsa.  Merekalah yang akan membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan apapun, termasuk penjajahan pikiran dan penjajahan ekonomi. Salah satu yang sempat saya singgung adalah tingkat literasi atau kepandaian anak-anak kita yang sampai saat ini masih memprihatinkan karena hanya setara atau sedikit lebih tinggi dari tingkat literasi anak-anak dari negara-negara kecil terbelakang di Afrika.

Suasana pengisian instrumen monev Bantah.

Maka dalam rangka mempercepat gerakan literasi sekolah saya memperkenalkan metode Menemu Baling yang bisa mereka download dan disebarluaskan. Tujuannya agar lebih banyak lagi orang belajar hal-hal yang baru dan juga membaginya dalam bentuk tulisan-tulisan best practice pengalaman hidup mereka untuk dipelajari lagi oleh khalayak dan terus menjadi ilmu yang semakin tersebar dan berkembang pesat. Demikian seterusnya. Akhirnya sekitar jam 13.00 WIB kami memohon pamit. Oleh salah seorang pengawas kami diminta mengambil jalur dengan jalan yang lebih baik dengan cara lewat daerah Patehan, bukan lagi lewat Bejen. Kami berterima kasih dan sambil berbasa basi sebentar kami mohon pamit “beneran”.

 

Salam pergerakan pendidikan

Sekjen IGI

Mampuono

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here