MENULISLAH LIMA MENIT SETIAP HARI  SEAKAN ITU HARI TERAKHIRMU

Sesi Menemu Baling. Menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga sambil Driving dalam perjalanan dari kantor sore ini,12-12-2016.

0
1238
Peserta dan narasumber Workshop Nasional Menemu Baling (Mahir Menulis 5 Menit) dan Mahir Inggris 1 jam berfoto bersama.

Semarang,12 Desember 2016-IGI. Menulislah 5 menit setiap hari seolah itu hari terakhir anda. Jika ingin bisa menulis sebuah novel yang baik bacalah 1000 novel. Jika ingin bisa menulis sebuah cerpen yang baik  maka bacalah 1000 cerpen. Alah bisa karena biasa dan pepatah rajin pangkal pandai masih berlaku, maka cobalah untuk senantiasa berbuat sesuatu agar macan dalam pikiran bangun dan mengaum. Letakkan pikiran pada level tertinggi yang senantiasa mengkreasi gagasan-gagasan dan penciptaan penciptaan. Demikian pesan Sekjen IGI Mampuono yang menjadi narasumber workshop nasional Mahir  Inggris 1 jam dan Mahir Menulis 5 Menit di aula H LPMP Jawa Tengah siang ini.

Ketua IGI Jateng Mulyo Utomo, S.Pd., M.Pd., M.Kom memberikan sambutannya.

Workshop dengan 90 orang guru yang terdaftar sebagai  peserta tersebut berlangsung dengan seru. Tercatat bahwa sebagian besar peserta workshop kali ini berasal dari luar kota. Mereka sengaja datang dari jauh untuk memperoleh hal-hal yang baru yang bersifat tidak biasa dan inovatif serta  sebelumnya mereka belum pernah ketahui. Selain dari kota Semarang para peserta  berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah antara lain dari kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara,Temanggung, Magelang, Salatiga, Semarang, Demak, Kendal, Jepara, Karanganyar, dan   Kota Magelang.

Narasumber berdiskusi dengan grup peserta.

Jauhnya jarak perjalanan darat yang harus ditempuh oleh para peserta yang berasal dari kabupaten-kabupaten  terjauh dari ibu kota Semarang menyebabkan mereka harus berangkat sejak dini hari untuk bisa hadir tepat waktu. Munculnya antusiasme yang tinggi ini tentu tidak lepas dari keyakinan beserta bahwa mereka akan membawa pulang keterampilan-keterampilan dan pengetahuan-pengetahuan baru yang berkaitan dengan penguasaan bahasa Inggris dan literasi produktif berbasis IT yang nantinya akan mendukung kompetensi dan profesionalisme mereka mereka sebagai guru.

Ada dua sesi utama dalam workshop kali ini. Yang pertama adalah sesi Mahir Inggris dalam 1 jam. Slamet Riyanto, narasumber dari Gunung Kidul, Jogjakarta yang juga dikenal sebagai guru dengan jumlah judul buku terbanyak di Indonesia membawakan dengan sangat piawai materi  bahasa Inggris tersebut. Slamet Riyanto sang guru desa yang pernah masih terus menorehkan karya-karya emasnya yang kini sudah mencapai 172 judul buku memaparkan langkah-langkah untuk  menguasai bahasa Inggris dalam satu  jam dengan gamblang. Peserta diminta untuk melakukan berbagai simulasi berbasis pada gambar-gambar yang disediakan.  Dengan cara begitu endapan kosakata yang pernah mereka pelajari bisa direcall kembali dan diorganisir sebagai respon terhadap stimulus yang berupa tugas yang diberikan oleh narasumber.  Peserta tanpa sadar ternyata asyik terlibat aktif dalam  percakapan percakapan bahasa Inggris yang akhirnya mengalir dengan lancar.

Sesi “Mahir Inggris dalam Satu Jam”  yang sedianya berakhir pada jam 12.00 siang ini tampaknya  begitu menarik minat para peserta sehingga tanpa terasa mereka melakukan aktivitas-aktivitas sampai menjelang jam 13.00 siang.

Sesi berikutnya adalah “Mahir Menulis dalam Lima Menit”. Judul sesi kedua ini Terdengar sangat bombastis tetapi justru itulah realitas yang terjadi. Setelah peserta dipandu untuk menggunakan aplikasi Menemu Baling  atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Mereka mengikuti langkah-langkah instalasi terhadap 5 software yang terintegrasi dalam aplikasi tersebut. Setelah tuntas maka peserta pun bisa tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Tenyata “Mahir Menulis dalam Lima Menit” bukanlah omong kosong.  Karena tagihannya adalah mereka harus menulis nonstop selama 5 menit dengan menggunakan mulut, maka  dengan menggunakan software pencatat yang sudah terinstal para peserta mengucapkan kata-kata yang menjadi ide penulisannya dengan menggunakan teknik free writing. Setelah 5 menit berjalan dan mereka terus berbicara akhirnya  mereka mendapatkan berhalaman-halaman tulisan yang mereka produksi sendiri melalui mesin pencatat Color Note.  Lalu mereka bisa mengeditnya dengan cara mengirimkan tulisan tersebut kepada mesin pembaca Voice Aloud Reader yang sudah diinstal sebelumnya. Melalui bacaan yang dilakukan oleh mesin itu mereka bisa mengetahui kesalahan-kesalahan ide maupun tanda baca  yang sudah dibuat dalam membuat tulisan tersebut sehingga tulisan itu bisa direvisi dan selanjutnya diedit untuk nantinya dipublikasikan.

Mampuono, narasumber Menemu Baling (Mahir Menulis dalam 5 menit) bersama Chatarina, peserta dari Ambarawa.

Sesi  Menemu Baling ini berlangsung selama 2 jam, dari jam 14.00 sampai jam 16.00.  Untuk bisa mendapatkan sertifikat workshop  peserta masih harus mengerjakan tagihan yang ditugaskan oleh narasumber. Tagihan berupa membuat pertanyaan-pertanyaan dan dialog dialog sebagai respon terhadap objek yang sudah dipilih dalam sesi “Mahir Inggris dalam Satu  jam. Sedangkan pada sesi “Mahir Menulis dalam 5 Menit’ peserta harus bisa menghasilkan artikel sepanjang minimal 5 paragraf dengan jumlah kata minimal 800 kata. Jenis tulisan yang dianjurkan adalah narasi dan deskripsi. tugas-tugas Mandiri tersebut harus sudah terkirim ke panitia maksimal dalam 2 minggu.

Diharapkan dari workshop ini peserta yang merupakan para guru abad ke-21 bisa meningkat kemampuannya dalam penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dan menyongsong keberadaan masyarakat  ASEAN yang lebih menyatu  sekaligus juga dari sisi literasi diharapkan guru-guru yang jumlah waktunya terbatas bisa belajar lagi hal-hal yang baru melalui membaca dengan telinga serta banyak meletakkan pikiran pada tataran pikiran tertinggi yang menghasilkan ide-ide dan kreasi-kreasi baru.  Dan yang paling mudah adalah menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan tulisan. Tulisan  itu nantinya bisa dikembangkan menjadi konten blogging, buku, jurnal, karya tulis ilmiah laporan penelitian makalah atau bahkan buku pintar yang didalamnya melibatkan penggunaan multi modal teks seperti video, suara, animasi,  interaksi, ataupun penggunaan database.

Widi Astiyono, IGIer yang selalu setia memakai seragam IGI sehingga mendapat hadiah khusus dari Sekjen, diapit oleh kedua narasumber.

Pada akhir sesi Sekjen membaiat para peserta untuk berjanji meluangkan waktu minimal 1 jam setiap malam untuk belajar lagi hal-hal yang baru dengan memanfaatkan metode Menemu Baling.  Dengan Demikian pada akhirnya mereka bisa  menjadi para guru hebat, yang menghasilkan orang-orang hebat. Orang-orang hebat tersebut akan menghasilkan karya-karya hebat untuk Indonesia tercinta. Harapannya ke depan nanti jaman keemasan Indonesia benar-benar terjadi dan generasi kita di kancah dunia bukan lagi sebagai pengikut tetapi menjadi para pemimpin. Bukan lagi menjadi para buruh tetapi menjadi para pelaku enterpreneurship yang sukses. Yang  bisa menjadi boss dari orang asing, bukan lagi sebaliknya seperti yang cenderung terjadi saat ini.

 

Salam pergerakan pendidikan!

 

Sekjen IGI

 

Mampuono

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here