Pesan Pendek Raja Terakhir

1
856

Raja terakhir Kesultanan Kutai Kartanegara yang masih diakui saat ini adalah Sultan Haji Aji Muhammad Solehudin II. Raja Kutai Kartanegara ke-17 ini itetapkan sebagai Sultan Kutai pada tahun 1999 setelah Kesultanan Kutai dihidupkan kembali. Namun upacara penobatan baru dilaksanakan pada 22 September 2001.

Sultan saat ini berusia 94 tahun dan menetap di kediaman yang sudah beratus tahun dihuni leluhurnya. Para Raja Kutai Kertanegara biasa menetap di keraton di tepi sungai Mahakam itu turun temurun. Sultan adalah keturunan langsung dari Raja Kutai Kartanegara yang pertama yang bergelar Aji Batara Agung Paduka Nira yang memerintah dari tahun 1325 sampai dengan tahun 1360 M.

Penulis cukup senang ketika diberi kesempatan untuk bisa sowan kepada Sultan, demikian sang raja biasa mendapat panggilan. Pria yang sudah sangat berusia dan pernah tinggal beberapa lama di negeri Belanda ini melihat masih berwibawa. Hidungnya yang mancung, matanya yang tajam, dan posturnya yang tinggi membuat sang raja ini ketika masih muda mestinya mempunyai penampilan fisik dan gerak gerik yang mengesankan siapa saja.

Kami mendapat kesempatan berkunjung ke istana Sultan karena difasilitasi oleh ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kutai Kartanegara, Sutopo Gasif. Hubungannya yang dekat dengan Putra Sang Sultan membuat IGI memperoleh kemudahan. Sultan adalah pemangku adat yang kewibawaannya masih diakui oleh masyarakat. Oleh karenanya kami memandang strategis jika IGI, dan IGI Kukar khususnya, bisa menjalin hubungan yang lebih dekat dengan pihak istana kesultanan.

Tata tertib keraton seharusnya mengatur tamu supaya datang kepada sang raja dalam kondisi bersimpuh. Namun kali ini kami diberi keistimewaan. Oleh pihak istana kami diberi kesempatan untuk menjadi tamu yang bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan raja ini. Bahkan sang sultan mempersilakan penulis sebagai Sekjen IGI untuk bisa duduk berdampingan satu kursi.

Sebagai wujud rasa terima kasih dan sopan santun kepada Sultan, semua undangan segera menunduk dan mencium tangan. Bagaimanapun beliau sebagai tokoh pemangku adat sekaligus sebagai raja terakhir yang bertahta masih sangat disegani oleh seluruh masyarakat di Kutai Kertanegara. Hubungan yang baik dan restu dari raja kepada IGI Kutai Kertanegara bisa menjadi potensi penting untuk membawa IGI kepada peran yang lebih besar di masyarakat.

Raja kelahiran tahun 1913 ini tidak banyak berbicara. Mungkin karena usia yang sudah sangat tua. Namun ketka penulis mencoba menanyakan pengalaman hidup ketika di Belanda, barulah Sultan bercerita panjang lebar. Dengan suara yang lirih Sultan bercerita Bahasa beliau menamatkan SMP dan SMA nya selama lima tahun di Belanda. Selepas menikah, Sultan juga kembali menetap di Belanda dalam waktu yang cukup lama.

Sultan sempat menunjukkan foto-fotonya ketika masih kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Foto keluarga lengkap dengan anak cucu juga diperlihatkannya. Ketika kami bertanya apa yang bisa kita sinergikan antara IGI dan Keraton terkait literasi, Sultan hanya berkata pendek. “Bahasa Kutai”. Ini artinya kita diminta turut melestarikan dan mengalakkan lagi bahasa Kutai di Kalimantan Timur.

Kami sepakat dengan Sultan. IGI Kukar akan segera menindaklanjuti pesan Sultan dengan berbagai kegiatan. Harapannya kegiatan literasi yang banyak dihelat oleh IGI Kukar nantinya juga melibatkan aktivitas literasi dalam pelestarian. Artinya, bahasa Kutai sebagai warisan budaya leluhur yang adiluhung harus dijaga dan terus dipertahankan. IGI Kukar harus mengupayakan agar penggunaannya yang semakin jarang mestinya harus diatasi dengan upaya penggalakan. Pelajaran tentang bahasa Kutai tidak hanya di sd smp saja tetapi juga di semua jenjang pendidikan.

MRT
#menemubalinglah5menit

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here