SIAPAKAH GURU IGI DAN SEPERTI APAKAH KARAKTER MEREKA?

1
1020

Widadi, IGI DKI Jakarta

Jakarta-IGI. Guru di Indonesia itu macamnya, cam macam, ini kata teman saya Pak Edi dari Sampang Madura. Kalau demikian siapakah guru IGI itu? Guru IGI adalah guru-guru seperti kita, baik yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta, baik yang sudah tua maupun yang masih muda, baik yang masih honor maupun yang sudah punya “eska,” baik yang putri maupun yang putra, baik yang tinggal di desa maupun di kota.

Lho kalau begitu sama dong dengan guru-guru lainnya. Memang sepintas sama namun ada bedanya. Apakah bedanya? Bedanya adalah mereka para guru itu  dengan penuh kesadaran telah bergabung dengan organisasi guru yang namanya Ikatan Guru Indonesia (IGI). Adakah buktinya? Ada, yaitu mereka mempunyai kartu anggota. Kalau begitu orang lain nggak bisa dong ngaku-ngaku sebagai guru IGI kalau belum mempunyai kartu anggota? Ya.., nggak bisa dong.

Kemudian karakter seperti apa yang mereka miliki? Menurut Bunda Lita guru IGI memiliki karakter militan. Menurut Pak Fabian guru IGI memiliki karakter belief (melayani). Menurut Pak Safiudin guru IGI memiliki karakter mandiri. Menurut Bu Bandriyati guru IGI memiliki karakter tangguh, ikhlas, dan suka rela. Menurut Bu Pujiwindriyani guru IGI memiliki tanggung jawab yang tinggi. Nah sahabatku pendapat mereka semua ada benarnya. Mengapa? Karena mereka sudah ikut terlibat langsung dalam berbagai ToC yang diadakan IGI bersama Samsung.Bagaimana menurut Anda?

Pengamatan saya mungkin ini sekedar melengkapi dari pendapat bapak dan ibu guru di atas. Karakter guru IGI yang pertama adalah mudah beradaptasi. Apa buktinya? Ketika berlangsung ToC acapkali di antara mereka belum saling kenal. Lha bagaimana mau kenal, baru sekali itu bertemu. Tetapi begitu berada di ruang pelatihan mereka langsung akrab seolah sudah lama menjadi sahabat. Keakraban ini semakin terasa ketika rehat di meja makan bahkan di masjid ketika selesai shalat.

Karakter guru IGI yang kedua adalah bisa berkolaborasi. Hal ini tampak ketika mereka sedang berdiskusi, saling memberitahu dan mengisi, apalagi ketika maju bersama untuk presentasi. Misalnya ketika ToC di SMA Pangudiluhur Jakarta pada sesi presentasi Bu Iin Kartini bersama Pak Sobirin Anshori dan tiga guru lainnya yang begitu dinamis. Lebih tampak lagi adalah ketika kolabrasi guru yang sudah menjadi coach. Misalnya tampilnya Pak Adan, Pak Badrun, Mas Dananag, Bu Yuli Rahmawati,  Bu Rahmi, Bu Ella, dan Bu Neny Ekosari pada ToC di Gedung Pusdiklat Keagamaan Jakarta Timur sangat dinamis sangat menginspirasi.

Karakter ketiga guru IGI adalah mampu berinovasi. Nah karakter yang ini nih memang yang sedang digelorakan. Dengan menggunakan Tablet A 8 Sagusatab IGI serasa tak ada yang tak mungkin untuk berinovasi. Materi-materi coah seperti sagusanov, sagusandro, sagusakti, sagusamik, animasi drawing, menemubaling, video konferen sudah membuktikan secara konkrit karakter inovatif ini.

Karakter keempat dari guru-guru IGI adalah berjiwa pemimpin. Siapapun guru yang jadi anggota IGI sudah pasti berjiwa pemimpin, yang berbeda adalah gaya memimpinnya, pengalamannya dan tingkatannya. Di antara mereka ada yang memiliki tipe pemimpin yang dapat dipercaya, pemimpin yang membimbing, pemimpin yang berkarakter dan pemimpin yang berkepribadian. Dalam berbagai kesempatan mereka sudah terbiasa duduk bersama dalam mengendalikan pelaksanaan ToC. Buktinya, semuanya berjalan lancar dan sukses.

Karakter guru IGI yang kelima adalah pendongeng. Wah kalau yang ini nih guwe banget, kebetulan  penulis sudah beberapa kali memenangkan lomba dongeng. Tetapi saya yakin sebagian atau bahkan semua guru IGI bisa mendongeng. Yang membedakannya adalah gaya mendongengnya, penjiwaannya, dan kemampuan melibatkan peserta dalam dongeng.

Karakter guru IGI yang keenam adalah kritis menerima informasi. Sahabatku yang baik, sering kali kami menerima dan membaca kiriman informasi hoak di media sosial yang memang ibarat hutan belantara. Jika kita tidak kritis mencermati, seolah semua informasi itu benar padahal sebaliknya. Guru IGI tidak langsung percaya terhadap bejibunnya informasi, kemudian copas sana, copas ini.

Biasanya sebelum copas sebuah informasi guru IGI cermat dan kritis meneliti. Ketika ragu mereka tak jarang sharing dan berbagi. Setelah yakin informasi itu benar barulah dishare dengan hati-hati baik melalui sms, wa, masenger maupun telegram. Bahkan tak jarang dengan bangga memposting di akun FB pribadi.

Karakter guru IGI yang ketujuh adalah nyeni. Abad 21 adalah eranya otak kanan. Siapapun guru yang bisa mengajar dengan nyeni akan mudah diterima peserta didik. Nah makanya dalam berbagai kesempatan mengajar di kelas maupun ToC penulis terkadang membawa gitar. Bukan untuk gagah-gagahan. Tapi untuk memotivasi peserta dengan bergembira dan bernyanyi. Mengapa? Karena dengan mengajak peserta menyanyi kondisi akan rileks, sehingga materi sesulit apapun bisa mudah dipahami.

Karakter guru IGI yang kedelapan adalah terbiasa menghargai perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat adalah rahmat. Terkadang dengan adanya perbedaan pendapat timbul ide-ide baru yang tadinya tak terpikirkan. Misalnya, saat menyusun materi pelatihan, menentukan pembicara, setting tempat duduk, bahkan sampai ketika menentukan seragam dan menu makanan.  Perbedaan pendapat dalam situasi seperti ini sering terjadi, namun toh akhirnya dengan musyawarah keputusan tertentu segera disepakati.

Nah sahabat guru Indonesia, demikian itu setidaknya karakter-karakter guru IGI yang sempat penulis susun dan amati. Penulis yakin masih banyak lagi karakter yang belum  sempat penulis rangkum dan penulis sampaikan dalam artikel ini. Tetapi apabila ketujuh karakter tersebut bisa konsisten diterapkan dalam proses pembelajaran penulis yakin perubahan akan terjadi.

Pembaca yang budiman, William Arthur  berpendapat bahwa di dunia ini setidaknya terdapat 4 tipe guru, yaitu: guru yang biasa, berbicara/ guru yang bagus, menerangkan/ guru yang hebat mendemonstrasikan/ guru yang agung memberi inspirasi//. Pertanyaannya, termasuk tipe manakah guru-guru IGI saat ini?

 

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here