Al-Wahhab, Masjid Kuno Penuh Kenangan Sejarah di Kota Bontang

0
902
Di gerbang masjid Al-Wahhab

Oleh Mampuono

Hari Minggu tanggal 15 Januari 2017 penulis diundang oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bontang untuk memberikan workshop Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Undangan tersebut diberikan dalam rangkaian lawatan pengurus pusat IGI ke Kalimantan Timur. Oleh pengurus penulis bersama bendahara umum IGI, Gusti Surian, diajak untuk mengunjungi wilayah tertua di Kota Bontang. Nama kawasan hunian di atas air tersebut adalah Bontang Kuala. Konon para penjelajah pada jaman dahulu memulai berdirinya kota Bontang dari sana. Hidangan Kami bawis yang spesial disuguhkan untuk kami di Cafe Kapal yang juga spesial. Bawis adalah sejenis ikan berukuran sedang yang hanya hidup di sekitar perairan Bontang. Jika sudah dimasak dengan bumbu khusus nama hidangannya adalah kami bawis. Sedangkan cafe kapal merupakan restoran terbesar yang ada di kawasan tertua yang menjadi tujuan wisata kota Bontang tersebut.

Suasana di dalam Cafe Kapal

Pada Sore harinya, kami menerima undangan Walikota Bontang untuk menjenguk pasien gizi buruk di rumah sakit setempat. Dalam perjalanan pulang untuk memenuhi undangan orang nomor satu di kota Bontang tersebut kami menyempatkan untuk melakukan ibadah sholat ashar di masjid tertua Kota Bontang.

Sebagai seorang muslim, ada kebahagiaan tersendiri ketika menjelajah tempat-tempat yang jauh dan disana bisa menemukan tempat ibadah agama yang dianutnya. Penulis meyakini bahwa para penyebar agama yang datang ke Bontang adalah para pionir. Ketika tepian pantai itu merupakan kawasan sepi tidak bertuan, yang ada hanyalah hutan belantara mangrove yang hanya berisi pekat rimbunnya tumbuhan dan buasnya binatang, mereka berani memulai sesuatu yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh para penikmat zona kenyamanan. Mereka menandai peradaban dengan ketinggian budi pekerti yang dibuktikan dengan mendirikan tempat ibadah yang berdiri hingga kini. Ratusan tahun kemudian, tempat ibadah yang mereka dirikan kami gunakan untuk hal yang sama, melakukan ritual ibadah sholat ashar untuk menyembah Tuhan mereka, Tuhan kami juga, Allah SWT. Tidak terbayang betapa mereka sudah mempertaruhkan jiwa, raga, tenaga, pikiran, dan menundukkan segala tantangan untuk bisa mendirikan masjid tertua di kota Bontang tersebut.

Masjid yang terletak di jalan Yos Sudarso, Guntung, Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur itu tercatat sudah berusia 228 tahun. Di pintu gerbangnya tertulis nama masjid Al-Wahhab yang didirikan pada tahun 1789. Pintu gerbang yang berbentuk gapura tersebut memiliki atap berupa tiga buah kubah yang saling bersandingan. Kubah yang di sebelah tengah bentuknya lebih besar dari dua kubah lain yang ada di sisi kiri-kanannya.

Gapura kubah dilihat dari sisi dalam

Berbeda dengan bentuk bangunan utama masjid yang berarsitektur semi-Hindu dengan atap bersusun, kubah- kubah yang berwarna keemasan ini cenderung mengadopsi bentuk bangunan di Timur Tengah. Perpaduan itu mengesankan bahwa ada berbagai macam budaya yang saling beradaptasi satu dengan yang lain untuk memunculkan kebudayaan baru yang diwujudkan dalam bentuk tempat ibadah. Ukuran gapura itu tidak terlalu besar. Lebarnya kira-kira 6 meter dan kubahnya disangga oleh tiang-tiang yang terbuat dari kayu ulin yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat keanggunannya.

Setelah memasuki gapura, kira-kira berjalan 10 meter, terbentang sebuah jembatan yang juga terbuat dari kayu ulin yang melintasi sungai di depan masjid. Jembatan itu memiliki lebar empat meter dengan panjang kira-kira delapan meter. Di kiri kanan jembatan yang bentuknya melengkung terdapat pagar pelindung. Di atasnya terdapat atap jembatan berbentuk limasan yang membentuk koridor sepanjang jembatan. Di sepertiga awal jembatan terdapat tulisan batas suci. Ini berarti setiap pengunjung harus melepaskan alas kaki mereka di bagian awal jembatan tersebut.

Atap Masjid Al Wahhab yang semi-Hindu dan menjulang.

Masjid Al-Wahhab terlihat memiliki arsitektur seperti halnya Masjid Agung Demak, hanya saja ukurannya lebih kecil. Atapnya yang bersusun telihat menjulang di tiga tempat. Puncak yang besar dan menjulang adalah atap dari ruang utama, puncak yang sama besarnya tapi lebih rendah adalah atap serambi, dan puncak yang lebih kecil adalah atap dari mihrab masjid. Di sisi sebelah belakang tampak bangunan menjulang paling tinggi yang merupakan menara masjid.

Bangunan utama masjid terdiri dari tiga bagian. Bangunan paling depan merupakan serambi masjid, lalu di bagian tengah terdapat ruang utama masjid, dan pada bagian ujung terdapat mimbar masjid. Ukuran serambi masjid kira-kira 12 x 12 meter persegi, sama dengan ukuran ruang utama di sebelah dalam masjid. Ruangan utama masjid berhubungan langsung dengan mihrab yang ukurannya kurang lebih 4 x 4 meter persegi.

Ruang utama masjid merupakan bangunan kuno yang keseluruhannya terbuat dari kayu ulin. Keistimewaan kayu ulin yang jika terkena air semakin kuat dan liat serta anti rayap menjadikan bangunan masjid tetap bertahan walaupun sudah berusia ratusan tahun. Di dalam ruang utama masjid terdapat empat pilar besar di tengah dan di sebelah tepi ada enam pilar yang lebih kecil. Pilar-pilar tersebut posisinya tiga di sebelah kiri dan tiga di sebelah kanan ruangan.

Lampu gantung di ruang tengah.

Ruang dalam masjid ini disekat dengan kain berwarna hijau tua untuk memisahkan jamaah perempuan dan jamaah laki-laki. Di pojok sebelah kanan di sebelah belakang sekat terdapat museum kecil berisi buku-buku di dalam rak kaca dan barang-barang peninggalan masjid. Di antara peninggalan tersebut antara lain terdapat mustaka asli masjid yang terbuat dari kayu ulin kuno. Mustaka yang panjangnya kira-kira 75 cm itu digunakan oleh pendirinya untuk menghiasi puncak masjid pada saat awal didirikan sampai puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Hanya saja karena kondisinya yang dikhawatirkan akan lapuk dimakan usia maka benda itu kemudian dimuseumkan.

Jika di serambi masjid tergantung lampu antik yang berukuran agak kecil, di ruang dalam terdapat lampu gantung besar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Ukurannya kira-kira sepanjang satu setengah meter dengan diameter 75 cm. Sejumlah lampu pijar berbentuk daun berwarna putih disusun secara bertingkat membentuk seperti gunungan atau pohon cemara. Di ujungnya terdapat rantai yang dikaitkan pada plafon bangunan yang menjulang. Lampu itu terlihat sangat serasi dan anggun sesuai dengan dekorasi dan ukuran luas ruang dalam masjid.

Serambi masjid

Ruang dalam masjid berhubungan langsung dengan ruang mihrab yang terbuka. Ukuran ruang mihrab cukup luas sehingga dibuatkan atap tersendiri. Letaknya persis di tengah-tengah sisi depan bangunan. Ruang tempat imam memimpin sholat ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian sebelah kanan adalah tempat untuk meletakkan mimbar yang memiliki ketinggian kurang lebih satu setengah meter dari permukaan lantai. Mimbar berbentuk undak-undakan yang berakhir dengan tempat duduk bagi khotib yang akan memberikan khotbah. Bagian tengah adalah tempat meletakkan sajadah yang dikelilingi dengan pagar kayu ulin yang di desain secara artistik. Sementara bagian paling kiri digunakan sebagai ruang kosong untuk akses menuju ke bagian belakang mimbar di mana diletakkan jam antik besar berwarna keemasan yang berdiri dengan kokoh dan berwibawa. Tampaknya jam itu sudah lama berdiri di situ dan dengan setia menunjukkan setiap pergantian waktu dengan suara loncengnya yang khas.

Mihrab

Di samping kiri dan kanan terlihat tulisan kaligrafi surat al-Ikhlas dan surat al-Fatihah yang diukir dengan tulisan emas. Dengan latar belakang warna coklat asli kayu ulin kuno, tulisan berwarna emas itu tampak menyala dan mudah dibaca. Secara keseluruhan ruangan sebelah dalam masjid dan ruangan mihrab didominasi oleh warna coklat yang merupakan warna asli kayu ulin yang digunakan untuk membangun masjid.

Seluruh lantai ruang dalam masjid dilambari dengan karpet yang empuk. Warna karpet yang hijau tua memberikan keteduhan dan ketenangan tersendiri bagi siapapun yang beribadah di dalamnya. Ada perasaan sejuk dan bahagia di hati ketika penulis mencoba duduk dan berzikir di tempat yang sudah digunakan untuk beribadah selama ratusan tahun tersebut. Rasanya sayang jika harus cepat-cepat meninggalkan bangunan masjid tua ciptaan para pionir yang sesungguhnya adalah para pejuang sejati. Bahkan kabarnya di antara para pionir tersebut ada yang datang dari Hadramaut, sebuah kota di tepi pantai di Yaman, Timur Tengah sana.

Jika suatu saat penulis kembali ke Bontang, penulis ingin sekali bisa mengunjungi masjid yang penuh memori tersebut. Bahkan di hati kecil penulis ada terbesit keinginan suatu ketika untuk bisa bermuhibah ke kota Hadramaut. Semoga ada malaikat yang lewat dan mencatat keinginan baik penulis ini sehingga makbul. Amin.

MRT
#menulislah 5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here