TERUSLAH BERMIMPI

0
564

by Endang
#menemubaling

Seorang perempuan berdiri di atas pematansg sawah tengah asyik menikmati langit senja yang membara. Semilir angin berhembus disela bau lumpur sawah, yang tadi siang baru dibajak oleh pemiliknya.Udara senja itu begitu membuai hingga tanpa disadari ingatannya melompat ke masa lampau, belasan tahun yang silam di desa tempat dia dilahirkan.

“Sri, Bapak sudah tua. Bapak tidak sanggup lagi membiayai pendidikan mu, lebih baik kamu menikah setelah lulus dari SMA .Bapak sudah memilihkan calon suami untukmu, Nduk”.

Rasanya seperti gelegar petir menyambar begitu dekat di telinga Sisri. Ya, Gadis itu bernama Sisri.
Ucapan sang bapak terasa menyesak di relung hati. Dia masih mempunyai banyak mimpi untuk menggenggam dunia di tangannya. Meski hal itu mungkin hanya dalam angan, tapi dia tidak ingin berhenti bermimpi.

Sisri terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk peradaban. Dia adalah anak ke-9 dari 11 bersaudara. Sang bapak adalah seorang pegawai negeri golongan rendah dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap harinya selalu berkutat dengan tugas merawat dan mendidik 11 anak-anaknya. Sehingga sudah barang tentu ,mereka tak kan sanggup membiayai pendidikan seluruh anaknya apalagi sampai menyandang gelar sarjana.

Sisri yang kekeh dengan mimpinya, harus bisa memperjuangkan sendiri pendidikannya untuk masa depan yang lebih baik.

“Bapak ,Sisri pengen kuliah .Sisri tidak ingin nikah muda, berikan kesempatan agar Sisri bisa menunjukkan pada Bapak kalau Sisri mampu mewujudkan nya. Sisri berjanji akan berjuang untuk mencari biaya tanpa membebani Bapak secara materialn” , jawabnya lirih.

Tibalah hari kelulusan SMA ,nama Sisri disebutkan panitia sebagai lulusan terbaik untuk Prodi IPS. Betapa hal itu semakin menggelorakan semangat Sisri untuk melanjutkan study. Akhirnya dengan segenap perjuangan, Sisri bisa duduk di bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri yang ada di Solo.

Awalnya terasa begitu berat. Sisri harus banting tulang untuk biaya pendidikannya sendiri.Mulai dari pagi hingga siang,dia menimba ilmu. Sore harinya dia bekerja sampai malam berlalu dihabiskan untuk mencari uang spp.Untunglah, karena dia bisa lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri ,biaya yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Namun demikian,hal itu tidak mematahkan semangatnya. Sisri tetap bertekad untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpinya menggenggam dunia.

Usaha keras Sisri tampaknya mulai menghasilkan sesuatu. Kemudahan demi kemudahan mengalir dalam kehidupan Sisri. Allah memberikan jalan baginya untuk mengais rejeki .Siapa yang berusaha tanpa putus asa maka Allah akan membuka jalan untuknya.

Sisri mulai menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa sekaligus seorang penyanyi .Menyandang predikat sebagai seorang mahasiswa sekaligus penyanyi saat itu bukanlah hal yang mudah, karena profesi menjadi seorang penyanyi masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mereka menganggap profesi itu sebagai profesi yang rendah.

Apa daya,seseorang tidak berhak melarang orang lain untuk menilai sesuai keinginan hati kita, tapi yang pasti hal ini membuat Sisri semakin tertantang. Dia ingin menepis anggapan tersebut. Dia percaya bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan jalan keluar dan akan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Lalu terbuktilah,dengan kepercayaan itu, segalanya menjadi mudah bagi Sisri.

Sebagai seorang mahasiswa, Sisri hanya termasuk mahasiswa dalam level rata-rata, karena dia memang harus bisa memanage waktu yg dimiliki untuk belajar dan bekerja. Namun demikian, karir menyanyinya bisa dibilang melaju dengan pesat untuk ukuran gadis desa sepertinya. Padahal dia hanya belajar seni secara otodidak.

Perlahan namun pasti,dia mulai terkenal di daerahnya. Sisri juga berkesempatan untuk rekaman dengan 2 lagu dalam satu album. Job-nya sampai ke Sumatera, Kalimantan bahkan sering bolak balik ke ibu kota,tampil di Taman Mini serta pentas di depan Megawati ,orang nomor satu di Indonesia pada era itu. Sebuah kebanggaan tak terhingga bagi Sisri .

“Bapak ,aku akan tetap berusaha..”

demikian bisiknya lirih diiringi senyum bahagia Sang Bapak .

Setelah beberapa tahun menimba ilmu di perguruan tinggi dengan rintangan yang tidak bisa dibilang mudah, Sisri berhasil menuntaskan studinya. Pada tahun yang sama, dia diterima sebagai CPNS dengan formasi guru SMA. Seakan runtuh semua beban berat di pundaknya saat itu. A great achievement for her,indeed.

Seiring dengan pencapaian itu,semakin banyak mimpi yang ingin dia wujudkan,ingin menjadi pendidik yang baik ,ingin lebih bermanfaat untuk orang lain terutama untuk kedua orang tuanya. Dia berharap bisa membangun rumah yang lebih baik bagi bapak ibunya.Dia juga ingin memiliki mobil keluaran terbaru tahun itu. Dia ingin membeli sawah yang luas. Dia ingin pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah Umroh ,memenuhi panggilan Allah .Semua keinginan itu sudah ada di genggaman tangannya.

Puji syukur pada Mu, ya Allah semua mimpi itu menjadi nyata. Bulir air mata menetes di pipinya.Tiba-tiba, si nyamuk kecil membuyarkan lamunan Sisri. Dia tersenyum sambil menatap langit yang masih membara di kaki langit. Matahari semakin malu untuk menampakan diri ,bersembunyi di balik gunung Merapi.

Bibir mungil Sisri mulai menari, “Matur nuwun ,Bapak .Sisri sudah berhasil meraih mimpi Sisri. Tapi Sisri tak ingin berhenti. Sisri ingin terus tetap mengabdi dan berbakti untuk negeri yang seindah ini ,melalui IGI. Sisri ingin ada Sisri-Sisri lain yang juga takkan pernah berhenti bermimpi.”

Penulis: Endang. IGI Sukoharjo

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here