IGI KETAPANG, JADILAH SANG BINTANG

0
527

Pertama kali mendengar kata Ketapang, yang terpikir adalah nama sebuah tempat di pulau Bali. Maka ketika saat itu saya ditelepon oleh mas Supriyadi yang menjabat sebagai ketua Ikatan Guru Indonesia Ketapang, saya agak heran, kenapa logatnya bukan logat Bali. Ketika sudah berkomunikasi beberapa saat, saya baru “ngeh” bahwa Ketapang adalah nama sebuah kabupaten di Kalimantan Barat. Saya diminta untuk mengisi kegiatan di kabupaten tersebut terkait dengan Program Literasi Produktif Berbasis IT dengan menggunakan Metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga.

Saya menyanggupinya karena hari yang dipilihkan untuk saya adalah Sabtu, di mana saya off dari kegiatan kantor. Di samping itu, ketapang termasuk kabupaten yang jaraknya “tidak terlalu jauh” dari Semarang, karena ada penerbangan langsung dari bandara Ahmad Yani ke sana dan waktu tempuhnya hanya 1 jam 25 menit. Maka jadilah, pada hari Sabtu tanggal 25 maret 2017 saya mengisi kegiatan di Ketapang.

Saya terbang dari Semarang pada hari jumat malam dengan menggunakan pesawat Kalstar, sebuah pesawat berukuran sedang dengan penggerak baling-baling yang memuat sekitar 50 orang penumpang. Pada saat yang sama mas Gusti Surian, bendahara umum IGI, juga berangkat dari Banjarmasin. Kami berjanji untuk bertemu di bandara dan bersama-sama menuju ke penginapan di kota Ketapang. Selama persiapan penerbangan kami selalu berkomunikasi, termasuk dengan pihak panitia yang akan melakukan penjemputan, harapannya supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan.

Meskipun pesawat sempat delay tetapi penerbangan berjalan dengan lancar karena cuaca cukup kondusif. Sekitar pukul 20.00 WIB malam itu saya sampai di pelabuhan udara kota Ketapang. Tadinya saya mengira bahwa semua tempat di Kalimantan menggunakan waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), makanya saya bersiap-siap untuk mengganti pengaturan waktu di alroji saya dengan waktu Indonesia bagian tengah, tetapi ternyata tidak, untuk Kalimantan Barat seperti di Ketapang, waktu yang digunakan masih Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).

Nama bandara mungil itu adalah Rahadi Oesman. Bandara itu terletak di Jalan Patimura, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Jarak dari bandara ke pusat kota Ketapang sekitar lima kilometer. Bandara ini merupakan bandara kelas III dan hanya melayani penerbangan domestik saja. Makanya yang terlihat hanya beberapa pesawat saja yang parkir, dan rata-rata milik maskapai Kal Star. Bandara itu sebenarnya disinggahi juga oleh pesawat Garuda dan beberapa lainnya, tetapi tampaknya penerbangannya tidak sesering Kal Star.

Begitu keluar dari pintu bandara dua orang pengurus IGI Ketapang sudah berada di depan pintu. Mereka adalah mas Supriyadi dan mas Salahudin, ketua dan sekretaris IGI Ketapang. Segera mereka memberi salam komando satu persatu dan dengan sigap membawakan “tas pilot” saya. Lalu mereka mengajak saya untuk mampir dulu di masjid bandara.

Masjid itu lebih bisa disebut sebagai mushola, karena ukurannya mungil dan juga bahan baku bangunannya terbuat dari kayu ulin. Mas Gusti Surian rupanya sudah sampai duluan dan menunggu kami di serambi mushola tersebut. Segera saya menunaikan kewajiban saya sebagai umat beragama. Tentu dengan memanfaatkan dispensasi yang diberikan Tuhan kepada saya sebagai muslim. Sayapun menggabung dan meringkas (jama’-qashar) sholat Maghrib dan Isya’ saya.

Dengan dibonceng dua buah sepeda motor, segera kami dibawa menuju ke sebuah penginapan yang berada di salah satu perkampungan di pusat kota Ketapang. Nama penginapan berukuran sedang dan berlantai tiga itu adalah Agusta. Saya berencana menginap di tempat tersebut selama dua malam. Seperti biasa, sebagai bentuk penghematan anggaran, saya menginap satu kamar dengan mas Gusti Surian.

Di penginapan itulah saya banyak memberikan “wejangan” bagi para pengurus baru IGI kabupaten Ketapang yang besoknya akan dilantik. Yang pertama, saya harus memastikan bahwa niat mereka untuk bergabung di IGI adalah dalam rangka tangan di atas. Di IGI dikenal slogan “Sharing and Growing Together”. Ini artinya setiap siapapun yang bergabung di IGI, yang pertama kali harus diniatkan adalah berbagi untuk tumbuh bersama. Intinya, menjadi bagian dari IGI berarti harus membudayakan kebahagiaan memberi agar nantinya dapat
tumbuh bersama untuk menjadi guru yang lebih baik serta lebih berkualitas.

Saya merasa bangga karena para guru yang mau menjadi para pengurus IGI adalah para pejuang dan pelopor. Mereka adalah para tokoh pergerakan di Ketapang. Saya menyebutnya demikian, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir di semua kabupaten di seluruh Indonesia, mereka-mereka yang bisa mendirikan IGI harus berjuang sampai berdarah-darah. Banyak dari mereka seperti berada pada jaman penjajahan Belanda, di mana kebebasan berserikat dan berkumpul serta kemerdekaan mengemukakan pendapat dipasung dan dibelenggu. Mereka diuji nyalinya. Ditakut-takuti dan diintimidasi. Dan bagi yang nyalinya kecil, mereka akan surut ke belakang. Sedang yang nyalinya besar dan berpikiran merdeka akan bergerak tanpa mengenal lelah. Mereka akan sekuat tenaga menyingkirkan segala hambatan dan rintangan yang menghadang di jalan mereka, sehingga organisasi profesi idaman mereka itu bisa benar-benar tegak berdiri.

Ini semua terjadi karena ada pihak-pihak yang mengatas namakan guru tetapi seringkali justru menghalang-halangi. Mereka kurang menyadari betapa gerakan IGI ini sebenarnya adalah untuk mengembalikan marwah guru. Gerakan IGI juga bertujuan memerdekakan guru dari penjajahan zona nyaman yang bisa berakibat fatal. Guru harus pintar, berbudi, dan bermartabat. Kesejahteraan dengan sendirinya akan mendatangi jika guru atau siapapun sudah mematutkan diri. Berkualitas dan tahan uji. Meski tentu tidak lepas dari perjuangan dan pengorbanan.

Jika guru terlena dalam zona nyaman dan menganggap diri sudah memiliki ilmu-ilmu yang mumpuni dan pilih tanding, padahal sudah bertahun-tahun berhenti dan tidak berpikir belajar lagi, maka tunggulah bagaimana generasi yang dihasilkan sesungguhnya adalah generasi-generasi yang lemah. Generasi itu akan rentan sekali untuk bisa diperintah dan dijajah, baik secara fisik maupun mental. Kemungkinan terbesarnya adalah generasi itu tidak akan bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan generasi bangsa bangsa lain, sehingga kecenderungannya generasi itu akan menjadi pesuruh bukan penyuruh.

Atau, kalaupun toh generasi itu merdeka, itupun tidak 100℅, sebab mereka selalu berada di bawah bayang-bayang hegemoni generasi bangsa lain. Mereka juga sulit memiliki posisi tawar tinggi dan kecenderungannya senantiasa menjadi pengikut seumur hidup, bukan sebagai pelopor. Apakah kita ingin menghasilkan generasi yang demikian? Naudzubillahimindzalik!

Mengapa guru yang lemah ilmu, ketrampilan, dan karakter serta ketinggalan jaman akan menghasilkan murid yang kurang lebih sama? Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dan peningkatan mutu pendidikan itu sangat tergantung kepada mutu gurunya. Meskipun ada variabel lain yang juga menjadi standar acuan yang perlu diperhitungkan, semisal sarpras, kurikulum, proses, standar kelulusan, penilaian, pengelolaan, dan pembiayaan. Bagaimana mungkin kita bisa menciptakan generasi emas pilihan sementara alat-alat untuk melebur dan mencetak emasnya sudah karatan dan dari bahan baku yang kurang tetandalkan? Seandainya pun alat-alatnya baru, tetapi softwarenya sudah old fashioned dan tidak lagi terpakai di negara lain karena sudah tidak layak, mungkinkah harapan bisa menjadi kenyataan?

Jika dikaji dari kacamata orang beragama, guru yang lemah ilmu dan tidak pernah belajar lagi adalah guru yang sadar atau tidak sadar berada di posisi yang berseberangan dengan perintah Tuhan. Sebab sesungguhnya amat besar kebencian di sisi Tuhan bagi orang-orang yang menyuruh mengerjakan apa-apa (kebajikan) yang tidak dilakukannya. Maka amatlah tidak patut bagi seorang guru jika dia menyuruh murid-muridnya belajar lagi hal-hal yang baru sementara dia meninggalkan kewajiban itu. Dan jika ada segolongan orang yang memperjuangkan agar guru-guru menjadi lebih pintar, berbudi, dan bermartabat, maka sudah selayaknyalah guru sejati mendukungnya. Adapun jika ada segolongan lain yang menentangnya, semoga petunjuk segera diturunkan kepada mereka.

Akhirnya saya mengucapkan selamat dan sukses atas pelantikan pengurus IGI kabupaten Ketapang. Semoga kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan IGI Ketapang bagaikan bintang pagi yang senantiasa menemani terbitnya matahari di ufuk timur, bukan hanya seperti kembang api yang terang benderang dan gegap gempita menerangi kegelapan, namun hanya sesaat, dan sejurus kemudian kegelapan kembali terjelang.

Salam Pergerakan Pendidikan!

Mampuono R. Tomoredjo
Sekjen IGI
#menemubaling 020317

Comments

comments