4 SEHAT 5 SEMPURNA DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

0
916

By: Mampuono
#menemubaling 310117

Pembelajaran adalah sebuah aktivitas yang bisa diibaratkan sebagai kegiatan pemberian makan. Yang diberi makan bukan mulut yang diteruskan ke organ-organ pencernaan eksternal maupun internal sebagaimana keseharian kita, tetapi lebih kepada memberi makan kepada pikiran, hati, dan badan. Pikiran diberi asupan pengetahuan, hati diberi asupan sikap, dan badan diberi asupan ketrampilan. Ketiga komponen tersebut pengendali utamanya adalah otak. Oleh karenanya agar diperoleh hasil akhir pembelajaran yang optimal, maka otak perlu diberi makanan yang halal dan toyib. Makanya tidak heran, dalam rangka menghasilkan insan pendidikan Indonesia yang paripurna pemerintah memandang perlu untuk selalu memperbaiki kurikulum secara periodik. Kurikulum itu ibarat daftar “menu” dan “resep makanan” otak para siswa kita. Yang terakhir diimplementasikan adalah Kurikulum 2013.

Pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 yang sekarang menghendaki agar ada integrasi empat komponennya dan disempurnakan dengan komponen kelima. Jika makanan, itu mirip empat sehat lima sempurna. Keempat komponen itu meliputi pendekatan, saintifik, pendidikan karakter,pembelajaran abad 21, dan literasi, serta disempurnakan dengan komponen kelima yakni keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS = Higher Order Thinking Skills). Maka belum sempurna sebuah pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 jika keempat komponen tersebut belum terintegrasikan yang kemudian disempurnakan dengan yang kelima. Penjelasan terhadap integrasi semua komponen tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut.

Yang pertama, pendekatan saintifik. Pendekatan ini menghendaki adanya lima aktivitas yang dilalui di dalam pelaksanaan pembelajaran yang sering disebut sebagai 5 M. Kelima aktivitas itu adalah mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Mengamati berarti memberdayakan seluruh panca indra untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam mencerna sebuah informasi. Menanya atau mempertanyakan berarti memunculkan critical thinking yang diwujudkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban rasional dari tingkat berpikir paling rendah sampai paling tinggi (C1-C6) di dalam taksonomi Bloom. Mencoba berarti menguji dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh atau dikumpulkan dari hasil mengamati dan menanya. Menalar berarti menggunakan level berpikir tingkat tinggi dalam taksonomi Bloom yang meliputi menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dan mengomunikasikan berarti menginformasikan output yang sudah dihasilkan dalam proses pembelajaran kepada orang lain.

Yang kedua pendidikan karakter. Kurikulum 2013 menghendaki agar ada keseimbangan antara ketiga kompetensi yang harus dikuasai oleh para siswa, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau karakter. Di era keterbukaan informasi dan globalisasi, secara tidak langsung telah terjadi reduksi terhadap nilai-nilai moral yang dimiliki oleh anak bangsa. Oleh karenanya revitalisasi terhadap nilai-nilai moral yang positif sangat dibutuhkan. Proporsi kompetensi sikap atau pendidikan karakter jenjang SD adalah yang paling besar dibandingkan dua kompetensi yang lain. Hal ini karena di tingkat SD lah para siswa sedang dibangun pondasi karakternya. Seiring dengan perkembangan usia siswa dan naiknya jenjang pendidikan maka komposisi pendidikan karakter mulai dikurangi dan digantikan dengan dua kompetensi lain yang menjadi lebih besar. Landasan berpikirnya adalah bahwa setelah pondasi karakter yang dimiliki oleh siswa kuat maka mereka lebih bisa mempertahankannya ketika tumbuh menjadi dewasa. Yang perlu disadari oleh para guru adalah bahwa tugas mereka adalah membangun dan menanamkan karakter, bukan justru membesar besarkan penilaian karakter.

Yang ketiga, pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 yang dimaksud adalah yang terangkum di dalam empat hal, yakni : komunikasi, kolaborasi, kritis dalam berpikir, dan kreativitas (4C = Communication, Collaboration, Critical Thinking, and Creativity). Jadi pembelajaran dari mulai perencanaan, proses, sampai evaluasi sebaiknya senantiasa memperhatikan keempat hal ini. Guru dapat mewujudkan praktek nyata integrasi 4C di dalam proses pembelajaran misalnya dengan menerapkan berbagai pendekatan, metode, strategi, taktik, teknik maupun model pembelajaran yang sesuai.

Yang keempat, literasi. Literasi yang dimaksud adalah yang mendukung gerakan literasi sekolah (GLS). Gerakan tersebut meliputi tiga tahap, yakni pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Jika ditilik dari teori yang digagas oleh Clay dan Ferguson, bidikan utama GLS dimulai dari literasi dasar (basic literacy) yang lebih menekankan pada kemampuan sibicalistung (simak-bicara- baca-tulis-hitung) yang berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mempersepsikan informasi, serta penggambaran informasi berdasarkan apa yang dipahami dan pengambilan kesimpulan secara pribadi. Untuk suksesnya sebuah gerakan literasi sekolah yang mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 maka guru bisa melangkah lebih awal untuk memberikan contoh terbaik dalam berliterasi dengan mempraktekkan secara berkesinambungan tahap-tahap literasi di dalam GLS.

Yang kelima adalah level berpikir tingkat tinggi (HOTS). Acuan yang digunakan adalah teori yang diajukan oleh Anderson dan Krathwool yang mengupas tiga level teratas Taxonomi Bloom yang disempurnakan. Disebutnya ketiga level berpikir tingkat tinggi itu sebagai HOTS. Ketiganya meliputi analisis, evaluasi dan kreasi. Sebenarnya HOTS sudah harus diimplementasikan di dalam pendekatan saintifik, tetutama pada aktivitas penalaran, namun tampaknya pada prakteknya di lapangan, ketiga level berpikir tersebut belum banyak diterapkan sesuai dengan porsinya. Oleh karenanya perlu adanya penekanan terhadap implementasi HOTS ini dengan memberikan petunjuk teknis yang bisa diterapkan oleh guru di dalam proses pembelajaran. Paralel dengan itu, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas juga ikut mewarnai level HOTS tersebut.

Guru tidak akan optimal mengajarkan HOTS apabila dirinya sendiri tidak terbiasa berpikir pada level HOTS. Lalu bagaimana cara yang paling tepat untuk membiasakan diri pada level HOTS? Penulis menyarankan agar guru banyak melakukan aktivitas yang berakhir dengan produk kreasi, misalnya dengan menulis, melukis, menggagas ide-ide solutif, dan menciptakan karya karya inovatif semisal aplikasi multimedia, alat serbaguna, karya seni, dan lain-lain. Kabar gembiranya, dengan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang diperkenalkan oleh Mampuono, kebiasaan berpikir tingkat HOTS bisa terus dilatih melalui aktivitas tulis menulis.
Demikian menu 4 sehat 5 sempurna yang mestinya dijadikan asupan utama untuk dicerna oleh otak para siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan mengimplementasikan kurikulum 2013. Harapannya, kelak akan dihasilkan generasi yang kuat dan mumpuni. Generasi Indonesia yang menguasai ketiga kompetensi, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap dengan sebaik mungkin.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here