SERI SAGUSATAB IGI: TULISAN CEKER AYAM JADI BENERAN

(Sesi menulis ceker ayam jadi beneran)

0
1172
Menulis ceker ayam pada mesin pencatat

Ada yang mengatakan bahwa setinggi apapun level pendidikan yang Anda miliki Anda belum disebut sebagai sosok intelektual sebelum Anda membuat atau menulis buku Anda sendiri. Walaupun barangkali buku itu merupakan kompilasi dari tulisan-tulisan catatan harian yang Anda buat secara terpisah di blog atau media sosial, setidaknya itu sudah lebih baik sebagai penunjuk jati diri daripada tidak sama sekali.

Dalam dunia literasi, baik dalam berbicara ataupun menulis, berlaku istilah “Apa yang tertuang ke dalam gelas itulah isi teko sesungguhnya”. Jadi jika teko berisi teh, kopi, atau mungkin wedang susu jahe, maka yang akan tertuang kedalam kelas adalah sesuai dengan isi teko tersebut. Bila yang keluar dari dalam teko berbeda, anggur kolesom atau soda gembira misalnya, berarti ada dua kemungkinan. Kejanggalan atau barangkali malah keajaiban. Menjadi janggal karena mungkin yang terjadi adalah plagiasi. Atau justeru menjadi ajaib mungkin karena sang pembicara atau sang penulis mendapat hidayah atau semacam culture shock. Banyak kemungkinan bisa saja terjadi.

Berbicara tentang menulis, untuk menjadi penulis yang produktif dan bernas apa yang ditulis, sinkron antara yang keluar dari teko dengan apa yang tertuang di gelas, tentu ada syaratnya. Kita harus banyak membaca dan mau terus menerus mencoba. Untuk itu dibutuhkan usaha yang berkelanjutan, fokus, dan serius. Agar tidak merasa terbebani kita tidak perlu menulis yang sulit-sulit dan kompleks dulu. Think big, start small. Mulailah dari hal yang terkecil yang lama-lama akan menjadi sesuatu yang besar. Keberlanjutan itulah modal sebenarnya. Siapa yang tidak mengenal penulis seperti Hamka, Yusuf Mansur, Ahmad Tohari, NH. Dini, Nurcholish Madjid, Anne Frank, Soe Hok Gie, bahkan Imam Ghozali, atau Plato dan Aristoteles? Mereka menjadi besar dan dikenang karena mula-mula membuat tulisan-tulisan kecil dan sederhana dari catatan harian. Jika kita sudah bisa membiasakan diri menulis, meskipun yang ditulis adalah hal-hal keseharian yang ringan namun tulisan akan mengalir sedemikian rupa sehingga enak untuk dinikmati sebagai bacaan. “Amunisi” penulis yang berlimpah dan kata demi kata yang piawai caranya mengolah akan menghasilkan produk akhir yang renyah.

Anne Frank. Penulis buku harian yang terkenal di dunia.

Pendeknya, Anda akan menjadi penulis kisah perjalanan yang hebat apabila anda sudah membaca 1000 kisah perjalanan orang hebat sebagai inspirasi, lalu Anda menuliskan sendiri kisah-kisah perjalanan Anda. Atau Anda akan menjadi penulis novel yang hebat apabila anda sudah membaca 1000 novel hebat yang ditulis oleh orang lain, lalu Anda terus-menerus mencoba membuat novel karya Anda sendiri. Begitu kira-kira rumusnya. Mana yang lebih susah antara menulis kisah perjalanan atau catatan harian dengan menulis novel? Tentu Anda sendiri yang bisa menentukan, karena masing-masing orang biasanya memiliki bakat minat ang tidak sama.

Yang perlu diingat, berkali-kali penulis mengatakan dalam berbagai tulisan, terutama yang dipublikasikan di situs resmi Ikatan Guru Indonesia (IGI), www.igi.or.id, bahwa menulis adalah aktivitas yang sangat mudah. Mengapa sangat mudah? Karena dengan teknologi yang tersedia saat ini menulis bisa jadi seringan menghela napas. Seperti yang penulis lakukan saat ini. Penulis bahkan bisa menulis dengan kecepatan tiga kata per detik dalam proses fast writing. Padahal normalnya, menulis di Android dengan kecepatan tiga huruf perdetik saja sudah termasuk sangat cepat. Ini tiga kata permenit! Artinya jika penulis dalam satu menit terus menerus menulis maka akan dihasilkan sebuah paragraf yang terdiri dari 180 kata. Jika lima menit maka hasilnya adalah lima paragraf berisi 900 kata. Ini benar-benar awesome! Dan keterampilan itu diperoleh bukan dalam waktu yang berbulan-bulan, tetapi hanya dalam hitungan minggu karena penulis menggunakan metode yang sangat jitu. Dengan alat yang bernama tablet Sagusatab IGI penulis bisa menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang metodenya dikenal dengan istilah Menemu Baling.

Meskipun menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga (Menemu Baling) adalah sebuah aktivitas berliterasi yang sangat efektif, tetapi tetap saja ada keterbatasan. Aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan ketika kita berada di sebuah lingkungan yang menghendaki suasana hening. Bayangkan seandainya Anda berada di sebuah ruang tunggu klinik kesehatan dan tiba-tiba muncul ide untuk menulis. Apakah anda akan melakukan aktivitas Menemu Baling? Tentu saja orang lain yang ada di sekitar situ bisa bereaksi macam-macam ketika mendengar suara Anda yang sedang menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Dari mengerenyitkan dahi sampai mungkin menghardik atau bahkan mengusir Anda karena dianggap telah mengganggu suasana.

stylus-pen mengganti sementara peran Metode Menemu Baling

Lalu bagaimana jalan keluarnya? Jika Anda adalah guru yang sudah memegang tablet Sagusatab IGI, ini hanyalah perkara sepele! Mengapa begitu? Karena Tablet Sagusatab A-8 sudah dibekali dengan suatu alat yang namanya Samsung Styluspen (S-Pen). Pena ini terletak tersembunyi di ujung kanan atas tablet. Dengan sedikit mencongkel dengan ujung kuku, kita segera bisa mengeluarkan pena dari tempatnya. Begitu pena terlepas, biasanya di layar tablet akan muncul perintah udara (atau sesuai setingan). Dan jika yang sedang kita buka adalah aplikasi pemroses kata (word processor) semisal Samsung Note, Color Note, WA, FB, Telegram, atau lainnya maka pada area keyboard akan muncul sebuah papan yang menyediakan ruang untuk menulis dengan tulisan tangan. Atau jika seting “Input pena langsung” sudah diaktifkan maka kita diberi pilihan bebas untuk menulis dengan pena di area yang lebih luas. Begitu kita menulis dengan tangan yang hasilnya seperti ceker ayam maka dalam hitungan detik tulisan tersebut akan diubah menjadi tulisan “beneran”. Tulisan yang dimaksud adalah tulisan siap cetak seperti yang dihasilkan oleh ketikan pada tuts di keyboard ataupun tulisan hasil Menemu Baling. Semakin bagus tulisan tangan kita akan semakin kecil kesalahan eja yang terjadi sehingga waktu untuk mengedit tulisan juga lebih singkat.

Seting input teks langsung

Seperti telah dibicarakan pada bagian awal, untuk bisa menulis dengan baik diperlukan usaha yang terus menerus dan berkesinambungan. Adanya sarana yang canggih seperti Tatlet Sagusatab IGI yang bisa membuat “tulisan ceker ayam menjadi beneran” hanyalah sebagai pendukung saja. Tinggal mau atau tidak kita memberdayakan sarana tersebut untuk berkarya. Jadi semua keterampilan menulis yang diperoleh tidak langsung begitu saja muncul tetapi melalui berkali-kali upaya untuk mencoba. Alah bisa karena biasa, rajin pangkal pandai, begitu kata pepatah yang sampai saat ini masih dipercaya kebenarannya.

Menurut Prof. Geofrey Mehring, Ph.D., guru penulis dari USA, ada beberapa pendekatanyang bisa kita lakukan untuk memulai menulis. Di antaranya adalah pendekatan proses, produk, dan genre. Untuk bisa bebas berekspresi tanpa takut membuat kesalahan, penulis menyarankan untuk “menulis ceker ayam jadi beneran” dengan pendekatan proses. Tahapnya adalah (1) persiapan menulis (prewriting), (2) pembuatan draf tulisan (drafting), (3) revisi atau pengelolaan ruh/ide tulisan ( revising), (4) penyuntingan (editing), dan (5) publikasi (publishing). Kelima tahap itu ini bisa dilakukan dengan cepat atau lambat tergantung pada skemata (jumlah informasi atau pengetahuan dasar/prior knowledge) yang dimiliki penulis dan “jam terbang” dalam menggunakan pendekatan tersebut.

Proses menulis dengan Stylus-pen

Tentu pada saat awal untuk bisa menggulirkan kata demi kata di dalam sebuah paragraf diperlukan perencanaan dan penataan yang matang terhadap apa yang akan ditulis. Jadi pada tahap persiapan menulis, perencanaan itu penting. If you fail to plan, you plan to fail. Demikian sebuah pemeo dari negeri seberang mengatakan. Untuk itu diperlukan sebuah kegiatan pengumpulan berbagai informasi terkait dengan tema yang akan ditulis (brainstorming) kecil-kecilan di dalam pikiran kita. Lalu kegiatan tersebut dilanjutkan dengan membuat daftar pokok pikiran apa saja yang akan dirangkai dalam tulisan tersebut (listing). Berikutnya adalah kegiatan membuat peta pikiran terhadap tulisannya akan kita buat (mind mapping). Semua kegiatan itu masih berada pada tahap (1) persiapan menulis. Alat bantu yang bisa digunakan dalam tahap ini dengan tetap “menulis ceker ayam menjadi beneran” adalah aplikasi Samsung Note pada tablet Sagusatab IGI.

Pada tahap selanjutnya kita bisa masuk ke level (2) drafting. Pada tahap ini kemampuan untuk “menulis ceker ayam menjadi beneran” akan benar-benar teruji. Sebab penulis akan melakukan kegiatan menulis cepat (fast writing) selama kurang lebih 3 sampai 5 menit berulang untuk mengucurkan ide-ide yang sudah dipersiapkan sebelumnya di dalam tahap (1) persiapan menulis. Mesin pencatat seperti aplikasi Color Note pada tablet Sagusatab IGI sangat tepat untuk digunakan pada tahap ini. Caranya dengan membuka aplikasi tersebut lalu mengambil Stylus-pen dari tempatnya. Begitu pena sudah ada di tangan segera luncurkan diatas bilah papan yang tersedia untuk langsung melakukan aktivitas “menulis ceker ayam jadi beneran”. Kucurkan gagasan untuk mengembangkan pokok pikiran yang pertama kurang lebih 3 sampai 5 menit, lalu berhenti. Lakukan hal yang sama untuk pokok-pokok pikiran selanjutnya.

Kegiatan berikutnya adalah tahap (3) revising, yang melibatkan analisa dan perubahan-perubahan terhadap draf tulisan untuk menyesuaikan dengan maksud dan tujuan penulisan.Tahap ini menuntut pengelolaan terhadap gagasan-gagasan utama dan gagasan-gagasan pendukung secara baik. Boleh dikata pada tahap ini kita melakukan manajemen tulisan pada tataran ruhaniah agar tampil dengan koherensi yang baik. Koherensi bisa diartikan sebagai keterpaduan makna. Pastikan bahwa apa yang sudah kita tulis, baik kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, maupun tulisan secara keseluruhan, antara gagasan yang satu dengan yang lain saling terkait dengan harmonis dan terpaparkan secara runtut dan logis.

Tahap selanjutnya adalah melakukan (4) editing atau penyuntingan. Jika tahap (3) revising cenderung mengelola kondisi “batiniah” dari tulisan, maka tahap ini yang dilakukan adalah mengelola kondisi “lahiriah”-nya. Pada tahap inilah kita melakukan pengelolaan terhadap tata bahasa, tata tulis paragraf, kutipan, tanda baca, kesalahan eja (typo), pilihan kata, konsistensi penggunaan istilah, penggunaan font seperti huruf besar, huruf kecil, cetak tebal, cetak miring, ukuran dan jenis huruf, dan lain-lain. Pendeknya pada tahap ini kita mengelola supaya tulisan draft tulisan memiliki kohesi atau keterpaduan bentuk. Untuk lebih memantapkan keterpaduan bentuk yang dimaksud pada tahap ini bisa dilakukan proofreading untuk mengecek bilamana terjadi kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki secara lebih detil.

Dan tahap terakhir adalah (5) publikasi. Karena kita menggunakan tablet Sagusatab IGI maka proses publikasi (online) adalah sesuatu yang sangat mudah. Jika yang kita gunakan untuk menulis adalah aplikasi mesin pencatat Color Note maka kita tinggal memanfaatkan menu “kirim” di pojok kanan atas jendela aplikasi. Caranya dengan mengklik menu tiga titik yang ada sehingga muncul pilihan menu “Kirim”. Setelah itu kita tinggal memilih ke mana tulisan akan dikirim untuk dipublikasikan. Kita bisa memilih media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Telegram, Twitter, Instagram, dan lain-lain atau ke LMS seperti Moodle, Edmodo, Schoology, dan lain-lain, atau langsung ke aplikasi untuk blogginq seperti WordPress, Blogspot, Blogger, dan sebagainya.

Berbagai bentuk publikasi tulisan

Jika ini sudah biasa kita lakukan setiap hari maka proses “menulis ceker ayam jadi beneran” akan mengalir deras sedemikian rupa. Ide akan mengucur bertubi-tubi sehingga ketika kita “menulis ceker ayam jadi beneran” tak ubahnya seperti menulis surat cinta kepada kekasih jauh dimata yang senantiasa dirindu dan di puja. Ringan, mudah, renyah. Itulah aktivitas “menulis ceker ayam jadi beneran” dengan tablet Sagusatab IGI kesayangan. Selamat berbagi dan tumbuh bersama, sharing and growing together.
Salam pergerakan pendidikan!

Sekjen IG
Mampuono
#menulislah5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here