Inilah Website IGI, Membuat Bahagia Tetapi Kadang Miris

0
1021

Ada hal yang cukup menggembirakan penulis akhir-akhir ini. Penulis melihat bahwa postingan artikel karya kawan-kawan guru dari seluruh tanah air di website Ikatan Guru Indonesia (IGI) terus-menerus bermunculan. Sehari bahkan bisa sampai lebih dari 10 kali. Dan itu terjadi tidak hanya sehari dua hari tetapi hampir setiap hari.

Kita semua harus mengapresiasi kerja keras dari mas Halim. Sebagai wakil sekjen IGI bidang literasi, mas Halim bersama-sama kawan-kawan admin website IGI sudah melakukan yang terbaik untuk mensukseskan program Literasi Produktif Berbasis IT yang digulirkan oleh IGI hampir setengah tahun yang lalu. Merekalah orang-orang di balik layar yang membidani lahirnya budaya menulis di kalangan anggota IGI.

Terlebih dengan adanya berbagai training of trainer dan training of couch yang berlangsung di seluruh tanah air, juga ditemukannya Metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga, ini membuat pekerjaan menulis bagi guru-guru IGI menjadi bukan hanya mudah, tetapi sangat mudah. Menulis jadi seringan menghela nafas. Mudah sekali. Sekali kita bicara, saat itu juga tulisan tercipta.

Para peserta TOT dan TOC di dalam pelatihannya memiliki kewajiban untuk menulis artikel sebagai tagihan akhir. Ditambah lagi untuk bisa mendapatkan sertifikat seorang trainer, artikel yang mereka buat harus sudah dipublikasikan di website yang ditentukan yaitu www.igi.or.id. Inilah mengapa di website IGI artikel-artikel besutan mereka terus-menerus mengalir. Maka jadilah wajah website IGI selalu berubah seolah tanpa akhir.

Bahkan pernah penulis bertemu dengan seorang kawan yang ingin mengetahui tentang IGI. Ketika dia membuka link website IGI, dia terkejut karena beberapa saat sebelumnya dia mendapatkan postingan yang berbeda dengan yang dia lihat saat itu. Dikiranya dia berada di website yang berbeda. tetapi ternyata itu adalah halaman website yang sama. Website IGI! Dan itu tidak berlangsung sekali itu saja. Beberapa waktu berikutnya ketika dia mencoba membuka lagi website yang sama, didapati nya berita-berita dan artikel-artikel yang berbeda-beda yang terus menerus bermunculan. IGI memang benar-benar dinamis luar biasa, dan IGI senantiasa menunjukkan karya nyata, pujinya.

Saya hanya tersenyum. Bangga sekaligus miris. Teman ini mungkin tidak sempat mengamati, berapa angka yang tertera di samping tanda mata di setiap halaman website kita. Tidak semuanya panen pembaca. Ada banyak dari halaman website IGI yang sudah susah-payah dikelola oleh admin dan diisi dengan tulisan yang mungkin perlu dituntaskan siang dan malam, tetapi pembacanya hampir hanya bisa dihitung dengan jari tangan kanan.

Adakah yang salah? Haha, kalau ini sih pertanyaan interogatif. Baiklah saya ganti saja pertanyaannya menjadi, apa masalahnya? Mengapa semua orang suka menulis tapi menjadi enggan membaca? Bagaimana cara mengatasinya? Betulkah jika guru calon trainer IGI sudah selesai menulis menunaikan kewajibannya, membaca tulisan calon trainer lain sudah tidak diperlukan lagi? Atau mungkinkah para guru IGI sibuk dengan blognya masing-masing? Lalu tidak sempatkah mereka membaca tulisan penulis lain di website IGI lalu memberikan komentar sekedar kata-kata “sip!” atau “mantap”?

Pendeknya, setelah terbiasa menulis, janganlah lupa membaca. Ingat filosofi teko dan cangkir. Apa yang tertuang di cangkir itulah isi teko sebenarnya. Teko ibaratnya adalah otak kita dan cangkir sebagai tulisan karya kita. Tulisan itu merupakan penuangan gagasan dari otak kepada gadget Android di tangan kita. Bila ternyata yang bisa kita tulis adalah itu-itu saja, tanpa sentuhan sesuatu yang baru, tidak ada novelty, semuanya jadul, itu artinya kita harus siap mengganti isi otak. Caranya, dengan banyak membaca. Dan jangan khawatir, sekarang ada Metode Menemu Baling. Membaca cukup dengan mengirimkan teks ke mesin pembaca. Lalu kita dengarkan isi bacaan lewat telinga.

Mari kita ganti isi otak kita secara rutin dengan mengunjungi website IGI. Kita baca tulisan kawan-kawan lainnya dan kita apresiasi dengan mbwrikan komentar positif kepada mereka. Ini jauh lebih baik daripada yang diganti adalah otak kita. Aman dari kanker otak sih, tetapi kita akan sering mendapat umpatan sebagai guru tanpa otak. Mau? Jangan ah! 😃

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here