Catatan perjalanan: PILIH KELASMU SENDIRI

0
165

By: Mampuono
#menemubaling

Konferensi TESOL Thailand yang berlangsung dua hari di hotel Ambassador Bangkok tahun ini membuat peserta harus berpikir HOTS. Mereka harus cepat-cepat menganalisis apa kebutuhan paling urgen yang harus mereka penuhi terkait dengan menu-menu konferensi yang disediakan oleh pihak panitia. Menu yang dimaksud adalah konten-konten yang disampaikan oleh para speaker di dalam ruang-ruang kelas paralel.
Sebagaimana terjadi di setiap konferensi, ada sesi yang bersifat pleno (plenary session) yang bersifat umum dan ada juga sesi kelas-kelas paralel yang lebih khusus. Rundown acara tersusun begitu rigid. Para peserta harus cepat tanggap terhadap jadual dan perubahannya. Semuanya terpampang di modul, hampir setiap dinding, disisi pintu ruang-ruang yang digunakan untuk sesi.
Masing-masing materi yang akan disampaikan oleh para speaker tentu saja sangat penting bagi para peserta, tetapi mereka tidak bisa membelah diri menjadi lebih dari satu. Jadi mereka harus memilah dan memilih materi mana yang kira-kira paling urgen dan besar manfaatnya bagi dirinya dan bisa diimbaskan kepada para siswa dan rekan-rekan mereka. Intinya jika ingin memperoleh hasil yang optimal para peserta harus memilih kelas-kelas paralelnya sendiri.
Seperti sesi yang berlangsung pada pukul 13.50 sampai 14.35 pada siang hari ini. Setelah sesi plenary di hall, segera masuk sesi kelas paralel. Jumlah ruang kelas untuk sesi paralel ada 16, namun tidak seperti tadi pagi, sesi kali ini hanya akan berlangsung di 12 ruang. Masing-masing ruang memiliki kapasitas tempat duduk 30 sampai 50 orang.
Ruang-ruang tersebut diantaranya Convention A sampai C, Garden 1 sampai 3, Lavender 1 sampai 3, Penny 1 sampai 7, dan Penny 11-12. Khusus pada sesi ini ternyata panitia mengosongkan 4 ruang di ruang Garden 2, Garden 3, Lavender 1, dan Lavender 2. Jumlah speaker diatur hanya 12 yang tampil.
Di ruang Convention A, dibahas tema perubahan dan kesempatan dalam pembelajaran bahasa Inggris; sebuah tulisan argumen. Pembicaranya bernama Chamnong Kawpet. Dari namanya pasti dia orang Thailand. Di ruang Convention B, pembicara yang bernama Bordin Wailateh mengupas penelitian yang bertema belajar bahasa Inggris dengan mempedulikan keikutsertaan identitas lokal, sebuah studi kasus di Pattani Retweet. Di ruang convention C, Atsushi Higuchi menyampaikan sebuah tema tentang masa depan pendidikan dan keterampilan sebuah project OECD education 2030. Dari namanya mungkin dia orang Jepang. Dan, di ruang Garden 1, pembicara dari Thailand Kornwipa Poonpon menyampaikan materi yang berjudul English learning, sebuah kesempatan untuk mengubah LTE di Thailand Timur Laut. Masih ada 8 ruangan lain yang tidak sempat saya tuliskan tema yang dibahas satu-persatu.
Saya pada sesi siang ini memilih ruang Convention 1 untuk duduk mendengarkan paparan Bu Poonpon, seorang ibuguru cantik dari Thailand. Saya pikir nama Poonpon, kalau di Jawa ya setara Ponirah, atau Ponimah yang ndeso. Ternyata saya kecele..😄. Dia memaparkan presentasinya dengan bahasa inggris yang cukup fasih dengan aksen Thailand.
Setelah selesai sesi ini peserta langsung bubar dan bergegas menuju ke ruang-ruang yang lain. Saya segera bergerak ke ruang Lavender 3 untuk mengikuti sesi berikutnya yang sudah saya pilih. Judulnya “The effect of project-based writing section on writing ability and critical thinking skills of the Thai EFL Undergraduate students”. Saya pun tidak mau tidak optimal dalam mengikuti sesi-sesi yang sangat berharga di sini. Saya memilih kelas-kelas yang menurut saya memang harus saya hadiri.

Bangkok, 14.30 waktu setempat.

Comments

comments