“Asika Damba” Sebuah Prototipe Autoring Tools agar Guru Menulis Sehebat Wartawan”

0
717
Tampilan prototipe aplikasi Asika Damba

Berbicaralah seperti seorang orator dan menulislah seperti seorang wartawan niscaya kalian kelak akan menjadi para  pemimpin besar (HOS Cokroaminoto)

Berawal dari keprihatinan akan rendahnya kemauan menulis dari para guru, khususnya anggota IGI yang tanpa sadar sudah melepaskan begitu saja momen-momen penting tanpa sempat memberitakannya kepada khalayak. Padahal momen-momen tersebut bisa menjadi menjadi bahan pembelajaran dan informasi yang penting bagi pengembangan kompetensi diri para guru itu sendiri. Maka dirasa perlu untuk mencarikan cara atau metode termudah agar semua orang bisa menulis rangkaian berita dengan cepat begitu mereka melihat event yang sedang berlangsung.

Selama ini untuk menulis sebuah berita kita lebih mengenal metode penulisan 5W 1H. 5W terdiri dari what, who, when, where, why, dan 1H adalah how. Metode 5W 1H ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi apa, siapa, dan kspan (ASiKa) serta di mana, mengapa, dan bagaimana (DaMBa). Jika kedua singkatan untuk metode ini digabung maka akan menjadi Metode Asika Damba. Metode Asika Damba ini sebenarnya adalah metode daur ulang karena sudah ada metode 5W 1H itu. Supaya terlihat bahwa metode ini memang sebuah inovasi yang memiliki kebaruan dan tidak terkesan copy paste maka perlu dibuat kelengkapan untuk menyempurnakannya.

Adalah sebuah metode menulis dan membaca sangat mudah yang baru-baru ini dilaunching oleh penemunya, Mampuono, Sekjen IGI. Namanya adalah Metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga. Dengan metode ini orang tidak perlu susah-susah lagi untuk menulis. Cukup hanya dengan mengucapkan kata-kata, disaat itu juga semua sudah langsung tertulis. Untuk mengedit dan merevisi juga cukup mengirimkan tulisan tersebut kepada mesin pembaca sehingga mata tidak perlu pedih dan berair untuk melakukan proofreading. Menulis menjadi sangat mudah, semudah menghela nafas.

Namun selalu saja ada perbedaan antara harapan dan kenyataan. Fasilitas  kemudahan yang revolusioner sudah dibuka sedemikian rupa. Training-training tentang Menemu Baling sudah dan sedang hingar-bingar diselenggarakan, namun sampai hari ini terlihat bahwa kuantitas dan kualitas tulisan-tulisan yang diproduksi oleh para IGI-ers masih jauh dari yang diharapkan.

Memanfaatkan metode Asika Damba . Proses menulis dengan mulut pada aplikasi Asika Damba.

Lalu bagaimana caranya supaya setiap anggota IGI bisa membuat berita mereka sendiri, baik itu berupa catatan harian, best practices, maupun peristiwa-peristiwa fenomenal yang melibatkan orang-orang penting dan khalayak di waktu-waktu dan tempat-tempat yang memang sangat layak untuk diberitakan? Maka Menemu Baling adalah metode yang paling tepat untuk dipasangkan dengan metode Asika Damba tersebut. Dengan menggabungkan kedua metode diharapkan akan segera diperoleh tulisan-tulisan para IGI-ers yang bernas walaupun dalam waktu yang terbatas.

Draf berita pada aplikasi Asika Damba.

Bagaimana memberikan nama yang tepat untuk perpaduan kedua metode itu? Meskipun  nama awalnya adalah Asika Damba dan penulisan beritanya menggunakan Metode Menemu Baling maka gabungan metode ini tetap dinamakan “Asika Damba”. Suku kata “mba” pada kata Damba  juga singkatan dari  kata Menemu Baling. Jadi metode Asika Damba adalah metode yang digunakan untuk menulis berita dengan urutan pertanyaan mulai dari apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana dengan menggunakan metode Menemu Baling.

Hasil draft berita yang terkirim kepada mesin pencatat

Saat ini aplikasi untuk metode ini masih di develop dalam bentuk prototyping dan masih dalam pengujian-pengujian, tetapi dalam waktu dekat akan segera dilaunching sehingga menulis berita akan menjadi kebiasaan yang melekat pada setiap IGI-ers di seluruh Nusantara.
Salam Pergerakan Pendidikan!

Sekjen IGI
Mampuono
#mnulis5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here