SISTEM ZONASI KONTRA MINSET MASYARAKAT YANG BERPOTENSI MERUGIKAN BANYAK PIHAK

0
155

SISTEM ZONASI KONTRA MINSET MASYARAKAT YANG BERPOTENSI MERUGIKAN BANYAK PIHAK.
Oleh: Mampuono

Siang ini ponsel pintar yang penulis bawa berdering beberapa kali. Tidak biasanya panggilan ke ponsel pintar di zaman internet of things dan membanjirnya media sosial ini orang menelpon dengan panggilan telepon konvensional. Pasti ada yang sangat penting, batin penulis.

Nomor yang muncul di layar ponsel rupanya dari seseorang yang kontaknya sempat penulis simpan sebelumnya. Ia pernah mengutarakan keinginannya melalui chat WhatsApp untuk menelepon.

Sang penelpon segera memperkenalkan diri bahwa ia adalah teman dari teman penulis. Teman penulis yang dimaksud adalah seorang doktor yang pernah belajar di Jepang dan saat ini menjadi salah satu dosen di perguruan tinggi IT swasta ternama di Jawa Tengah. Penelepon itu mengatakan pernah bertemu dan mengobrol dengan kami di suatu event IT. Jujur penulis lupa-lupa ingat.

Rupanya ia memang memiliki maksud penting sehingga harus menelepon penulis. Dikatakannya ia memiliki teman yang anaknya dalam kondisi kritis. Mendengar kata kritis penulis sempat terperanjat. Namun setelah dijelaskannya beberapa saat penulis baru ngeh.

Kritis yang dimaksud di sini ternyata bukan karena penyakit atau kecelakaan, namun karena posisinya dalam PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru). Anak tersebut akan segera tersingkir dari daftar calon peserta didik di SMP favorit dimana dia mendaftar jika ada pendaftar baru yang memiliki nilai lebih tinggi.

Penulis tidak tahu bagaimana penelpon bisa secara kebetulan menghubungi penulis yang memiliki hubungan sangat dekat dengan kepala sekolah SMP favorit tersebut. Penelepon itu mengatakan bahwa penulis paham IT dan memiliki banyak akses di dunia pendidikan. Maka dengan hati-hati penelepon tersebut meminta tolong supaya penulis bisa menghubungkan orang tua siswa tersebut dengan kepala sekolah SMP favorit itu. Berapapun biayanya yang diminta akan disediakan, asalkan anaknya bisa masuk menjadi siswa di SMP favorit di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Penulis berusaha mendengarkan setiap keluhan dan harapan dari penelpon tersebut dengan sabar. Pada intinya penulis tidak mau membuat nelpon itu kecewa dengan serta merta. Namun, penulis juga tidak mau merepotkan apalagi merugikan orang lain karena masalah ini.

Bagi penulis mudah saja menghubungi kepala sekolah tersebut lalu mengutarakan apa yang menjadi inti dari pembicaraan telepon siang hari ini. Namun penulis khawatir hal itu justru akan mengakibatkan beberapa dampak yang kurang baik bagi beberapa pihak.

Yang pertama, kepala sekolah bisa menjadi repot dan tidak nyaman karena mediasi yang penulis lakukan. Bisa saja kepala sekolah karena sungkan dengan penulis lalu mengusahakan agar siswa yang kritis itu terselamatkan. Namun rasa sungkan itu justru membuatnya kerepotan karena ia harus melakukan strategi dan siasat tertentu untuk mengakali sistem. Belum lagi jika tindakan itu diketahui oleh pihak lain, akibatnya bisa berabe.

Yang kedua, orang tua siswa tersebut bisa dianggap memiliki integritas yang rendah karena telah melakukan kecurangan. Serapat apapun orang berusaha menutupi sesuatu yang kurang baik pada akhirnya akan terungkap juga. Era sekarang adalah era keterbukaan. Setiap perkembangan di dalam sistem PPDB akan terlaporkan secara terang benderang. Jika antara apa yangdilihat dalam sistem PPDB memiliki hasil akhir yang berbeda dengan kenyataannya maka itu adalah masalah.

Yang ketiga, tekanan mental bisa saja dialami siswa tersebut. Jika siswa tersebut pada akhirnya diterima dan teman-temannya tahu bahwa ia bisa masuk SMP favorit karena ada yang mengakali sistem, mentalnya bisa jatuh karena dibully. Ia mungkin tidak akan bisa belajar dengan nyaman karena sering diperolok oleh teman-temannya yang masuk secara murni.

Yang keempat, akan ada calon siswa lain yang terzalimi. Jika siswa tersebut masuk dengan cara akal-akalan, otomatis ia harus menendang siswa lain yang lebih berhak menempati posisi yang ia tempati. Dengan dalih apa pun, entah karena sekolah buruh banyak biaya tambahan untuk kegiatan pembelajaran, menambah sarana prasarana, atau biaya lain, tidak seharusnya sekolah favorit yang menggembar-gemkborkan pendidikan karakter justru melanggar komitmennya sendiri.

Yang kelima, masyarakat tidak akan percaya dengan hasil PPDB. Mereka akan menganggap PPDB hanyalah proyek untuk mengeruk dana dari masyarakat melalui cara-cara ilegal. Jika itu yang terjadi maka mereka yang tidak puas karena tidak mendapatkan kesempatan atau merasa terzalimi bisa saja melakukan protes, mulai dari protes ringan sampai turun ke jalan.

Yang keenam, program pemerintah (baca: PPDB dengan sistem zonasi) akan terganggu pelaksanaannya. Percuma saja Kemendikbud merancang sistem zonasi jika masyarakat dan pihak sekolah justru menentang dengan cara-cara yang kurang terpuji.

Yang ketujuh, penulis akan mengalami cacat moral. Penulis adalah salah satu pendukung sistem zonasi dan kesetaraan memperoleh akses dan kualitas pendidikan bagi seluruh siswa di Indonesia. Jika penulis memediasi agar seseorang yang tidak seharusnya diterima menjadi diterima dengan cara-cara yang melanggar integritas maka hal itu akan tercatat sebagai salah satu pelanggaran moral serius. Dan, tentu saja penulis tidak mau hal ini terjadi.

Maka menanggapi keluhan dan harapan penelepon tersebut penulis secara perlahan-lahan memberikan penjelasan yang membuka mindsetnya. Bahwa sistem zonasi yang diadakan oleh pemerintah adalah dalam rangka menghapuskan strata dan eksklusivitas dalam pendidikan. Selain itu sistem ini juga dapat diandalkan untuk meningkatkan kreativitas guru dalam menghadapi murid dengan kompetensi yang beragam. Harapannya dengan sistem zonasi ini tidak ada sekolah favorit dan sekolah yang tidak favorit lagi.

Semua sekolah nantinya diharapkan memiliki standar yang sama dalam memperlakukan para siswanya. Jadi tidak tepat jika orangtua masih terus memiliki mindset bahwa anaknya harus sekolah di sekolah favorit. Karena sesungguhnya dengan sistem zonasi yang berlangsung dengan baik nantinya semua sekolah akan menjadi sekolah setara sekolah favorit secara bersama-sama.

Pencapaian 8 Standar Nasional Pendidikan dan penjaminan mutu yang berkesinambungan terhadap satuan pendidikan akan mewujudkan harapan tersebut. Semua sedang mengarah ke sana dan kita tinggal menunggu waktu saja. Jadi di mana pun orang tua siswa menyekolahkan anaknya nya hasil akhir nya kurang lebih akan sama, yaitu anak-anak Indonesia yang pintar, terampil, dan berbudi pekerti luhur.

Ketika antara sekolah satu dengan yang lain sudah terstandardisasi dengan kualitas yang mirip maka keberhasilan seorang peserta didik banyak ditentukan oleh motivasi dan kemauannya sendiri untuk berhasil. Pada saat yang sama orang tua harus menjadi partner pihak sekolah yang akan turut mengawal usaha peserta didik tersebut agar menjadi lulusan yang berhasil.

Dengan penjelasan yang panjang lebar tersebut menelepon akhirnya bisa menyadari. Dengan penuh kesadaran penelepon itu akan menyampaikan penjelasan tersebut kepada orang tua siswa yang kondisinya kritis tersebut.

Merubah mindset mungkin bukan pekerjaan ringan namun kita harus memiliki keteguhan hati untuk terus menyuarakan apa yang terbaik untuk bangsa ini. Menerima sistem zonasi mungkin terasa pahit di awalnya. Namun, dengan usaha yang sungguh-sungguh yang disertai dengan kesadaran masyarakat dan dukungan sepenuhnya terhadap implementasi sistem tersebut maka pencapaian kemajuan pendidikan yang merata di negeri ini akan segera terwujud.

Note:
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Indonesia (IGI).

___________________________
Semarang 15 Juni 2019 pukul 23.34 WIB. Ditulis dengan metode Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga.

Comments

comments