ICE BREAKING DALAM TOC IGI BERSAMA SAMSUNG

0
649
IGI Berkarya, Widadi

 

Oleh: Widadi, DKI Jakarta

Jakarta-IGI. Kamis ba’da Maghrib puluhan bahkan ratusan guru berkumpul di LPMP Jawa Timur. Ratusan guru itu tergabung dalam organisasi IGI (Ikatan Guru Indonesia). Mereka adalah perwakilan dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Mereka akan berada di LPMP Jawa Timur selama 4 hari untuk mengikuti ToC IGI bersama Samsung dengan mengusung tema, “Literasi Produktif Berbasis IT.”

Ruangan masih tampak sepi, bukan karena tidak ada orang tetapi karena masing-masing belum saling kenal dan masih kelelahan. Keadaan ketika itu agak sedikit canggung. Tetapi setiap bertemu dan bertatap muka tetap saja mereka saling melempar senyum, bersalaman dan memperagakan tangan membentuk huruf “L.” Gerakan tangan membentuk huruf “L” kombinasai antara ibu jari dan jari telunjuk. Symbol itu telah disepakati sebagai kode salam literasi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 waktu Surabaya, tetapi yang ditunggu seluruh peserta belum tampak berada di dalam ruang LPMP tempat ToC akan diselenggarakan. Karena sebagian besar peserta belum saling kenal maka yang terjadi adalah saling menjaga jarak, tertawa, tersenyum, dan saling pandang. Tampak juga sih beberapa peserta yang menyempatkan diri saling berkenalan dan selfie.

Dalam suasana asing seperti itu pastinya semua yang ada di rungan ingin sesuatu (bukan Syahrini pastinya). Sejurus kemudian beberapa teman dari DKI Jakarta mendekati penulis. Apakah yang mereka lakukan? Pak Badrun, Mas Danang dan beberapa teman dari DKI Jakarta yang sudah mengenal penulis, memohon agar penulis berkenan mencairkan suasana sambil menunggu peserta lain yang baru tiba dan juga kehadiran Ketua Umum IGI Pusat Muhammad Ramli Rahim (MRR).

Penulis menjawab, “Ya saya bersedia asalkan dijinkan oleh panitia dan pembawa acara.” Pak Badrun dan Mas Danang kemudian saya lihat mendekati panitia dan Bu Rin-Rin sebagai pembawa acara. Selang beberapa saat, terdengar suara manis manja dari Bu Rin-Rin. “Bapak dan Ibu guru peserta ToC, untuk mengisi kekosongan waktu sambil menunggu kehadiran ketua umum kita dan beberapa teman yang baru tiba, saya akan panggil perwakilan dari DKI Jakarta untuk memanaskan suasana.”

IGI Berkarya, Widadi

He..he..he…, saya ditembak langsung. Maka penulis segera mengambil mix dan bergetarlah seisi ruangan. Pertama penulis mengajak peserta menyanyikan “Lagu Gembira,” lagu khas untuk membuka sesi pertemuan. Kemudian penulis lanjutkan dengan lagu “Tak Ting Ting” yang menghebohkan dan membuat peserta tertawa terpingkal-pingkal. Selanjutnya mengalirkan lagu-lagu daerah seperti “Apuse, Pileuleuyan, Sowe Ora Jamu, Rambadia, Si Patoakaan, Binde Biluhuta. Dan akhirnya penulis tutup dengan games yang penulis namakan “sinergi.” Hal ini membuat sebagian peserta terkejut, termasuk Kang Endar S. Parmasasita perwakilan dari IGI dari Jawa Barat. Sahabatku, itulah yang dinamakan ice breaking.

Sahabatku para guru, ketika berkangsung ToC Litersi Produktif Berbasis IT di Jakarta, panitia juga meminta penulis untuk mengisi sesi ice breaking. Karena kebetulan penulis membawa gitar, jadilah penulis bermain gitar, bernyanyi dan melakukan games “sinergi.” Sedangkan diakhir acara penulis menyampaikan dongeng karena kebetulan juga penulis membawa wayang yang pas untuk memfisualisasikan isi dongeng.

Timbul pertanyaan, “Apakah Ice Breaking itu? Ice Breaking  adalah suatu aktivitas kecil dalam suatu kegiatan yang bertujuan agar peserta acara mengenal peserta lain dan merasa nyaman dengan lingkungan barunya. Kegiatan ini biasanya berupa cerita humor, penyampaian informasi, pencerahan, menyanyikan lagu-lagu riang bahkan permainan sederhana. Apabila penyampai ice breaking dan pilihan materi ice breaking  cocok, hal ini bisa menjadi momen yang efektif untuk mendukung suksesnya acara atau kegiatan secara keseluruhan.

Lantas kapankah ice breaking diperlukan? Hal ini sesuai dengan namanya, ice breaking dibuat untuk “memecahkan es” pada suatu acara atau kegiatan, baik itu acara pesta maupun untuk pertemuan-pertemuan yang lebih formal seperti seminar dan pelatihan. Teknik ini sering digunakan ketika peserta belum saling kenal, belum pernah bekerja sama ataupun belum mengenal lingkungan sekitar.

Suasana seperti apa contohnya? Misalnya saat peserta datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, saat peserta membutuhkan kerjasama, saat tim baru terbentuk, saat diksusi membahas hal yang baru, saat coach ingin mengenal peserta atau bahkan sebaliknya.

Bagaimana cara merancang ice breaking? Kunci sukses seorang breaker adalah kepandaiannya dalam menyesuaikan materi ice breaking dengan acara atau kegiatan yang akan berlangsung. Bagaimana langkah konkritnya? Pertama, kenali dulu “es-es” yang ada di ruangan atau tempat itu. Apakah es balok, es teller atau es mambo. He..he..he…Kedua, jelaskan maksud dari sesi ice breaking tersebut. Katiga,buatlah tujuan yang jelas dari ice breaking yang akan disampaikan. Nah sahabat guru hebat, selamat mencoba!

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here