“AYO HORMATI GURUMU”

0
1105

Alhamdulillah, puji syukur ke Hadirat Allah, Tuhan yang maha kuasa atas limpahan karuniaNya yg diberikan kepada bangsa dan negeri ini, yang telah melahirkan pahlawan juga relawan yg berprofesi sebagai GURU. Profesi mulia yg menjadi contoh untuk digugu dan ditiru, bertugas melahirkan berbagai profesi yg mengabdi kepada Negara dan bangsa juga agama.

Yang paling utama adalah melalui Guru lah kita bisa mengerti dan memahami berbagai pengetahuan from ‘zero to hero’ dari tidak mengerti apa-apa hingga bisa melimpah pengetahuannya.

Orang kemudian menyebut guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, karna lewat tangan dingin gurulah terbentuk karakter dan kepribadian, bahkan perilaku keseharian, bukan hanya kecerdasan semata. Oleh karna itu siapa kita di kemudian hari adalah siapa guru kita yg paling menginspirasi dan kita gugu juga tiru.

Hari ini, tepat Puncak peringatan Hari Guru Nasional yg dirangkai dengan perayaan 71 tahun organisasi Guru PGRI. Tentu di tengah tuntutan perubahan zaman yg super cepat. Seiring perubahan paradigma tentang masa depan guru sebagai pendidik bangsa. Bahwa guru harus juga merubah sendiri paradigma berfikir, bahwa seiring perkembangan peradaban, termasuk pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi yg begitu deras, memaksa masyarakat global termasuk guru harus secepat itu pula memacu diri menyesuaikan dengan situasi, memaksimalkan potensi diri, meningkatkan profesionalisme kemampuan keahlian sehingga tidak tertinggal dengan perubahan zaman.

Olehnya itu guru tidak selalu harus bergantung kepada motivasi eksternal tetapi dorongan internal yg bisa merubah cara pandang baru bahwa, Jika ingin merubah Nasib pribadi maupun kelembagaan Guru maka rubahlah mentalitas dan budaya internal guru, sob Tuhan Tidak akan merubah Nasib itu kecuali Guru yg merubah nasibnya sendiri. Bisa diartikan juga kualitas guru akan berubah jika guru berinisiatif merubah kualitas profesinya.

Ragam evaluasi kinerja guru yg diukur melalui berbagai kajian dan penelitian terungkap bahwa kualitas Guru di Indonesia, termasuk Maluku, Rendah, bahkan urutan kedua dari Bawah untk kompetensi pedagogik, hasil UKG 2015 dan kajian Neraca Pendidikan versi Kemendikbud R.I., yg menempatkan posisi guru, tidak layak ada di depan kelas, karena ketika guru di evaluasi kompetensi pedagogik dan profesionalnya ternyata hanya separuh kemampuan yakni rata rata d bawah 5. Lantas, beginikah kualitas guru di sekolah sekitar kita yg konon mendidik anak2 kita lebih baik di kemudian hari? Dengan memaksa siswa siswi harus mencapai nilai 10 sementara gurunya bernilai 5?

Mengharap campur tangan pemerintah pusat dan daerah dengan manajemen struktural guru yang begitu ribet bukan perkara mudah, sob lihat saja database guru sering berganti wajah dan sistem, kurikulum dan kebijakan guru selalu berubah setiap pergantian mentri, belum lagi intimidasi politik birokrasi yg menggurita di seputar kehidupan guru. Antara melaksanakan tugas pokok atau melayani hasrat penguasa birokrasi yg sering membuat posisi guru tidak lagi profesional. Di satu sisi, Pemerintah sibuk dengan bagaimana mengurangi beban anggaran pendapatan belanja ASN/PNS termasuk guru di dalamnya, sementara alokasi anggaran pendidikan membengkak, di sisi lain sayangnya..otuput guru belum banyak yg bisa diharapkan.

Amanah undang-undang Guru dan Dosen yg mengarahkan bahwa tugas tanggungjawab guru tidak saja menjadi beban pemda atau pempus semata, tetapi juga bagian tugas tanggungjawab dari organisasi profesi Guru. Bahkan pasal 41 UUGD menyebut bahwa Guru wajib bergabung pada organisasi Guru. Saat ini lebih dari 10 organisasi guru yang terdaftr di kementrian pendidikan, selain PGRI, IGI ( Ikatan Guru Indonesia), PGSI (Persatuan Guru Seluruh Indonesia), PERGUNU (Persatuan Guru Nahdatul Ulama), dll belum lagi perkumpulan guru mata pelajaran yg ada di bawahnya. Hadirnya organisasi ini adalah semata karna amanah undang-undang Guru dan Dosen, selain bahwa tidak ada monopoli organisasi guru tertentu yang mengaku-ngaku mewadahi profesi terbesar yakni guru hingga saat ini. Toh sampai saat ini pun ternyata pemerintah tidak pernah menetapkan satu organisasi profesi pun yang layak menjadi organisasi profesi guru dengan standar pemerintah.

Tetapi karya nyata dari beberapa guru-guru potensial dan berprestasi bahkan lebih kreatif telah melahirkan wadah alternatif yang fokus memperbaiki mutu Guru. Rupanya wadah baru ini menjadi solusi terbaik guna perbaikan mutu guru yang rendah. Selain Karna gerakan baru para guru ini adalah murni gerakan yg lahir atas kepedulian pada rendah nya mutu guru. Hal ini dikarenakan tugas utama pemerintah sesuai UU untk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui profesi guru terlihat porsinya besar sehingga komunitas unik ini meski baru beranjak usia 7 tahun telah banyam memfasilitasi para guru untuk lebih dari sekedar berbagi dan tumbuh bersama ‘sharing and growing together’.

Ikatan Guru Indonesia, yg pada tgl 26 Nopember 2016, genap berusia 7 tahun (1999-2016). IGI adalah organisasi profesi Guru sebagiamana juga PGRI dan organisasi guru lainnya, menjadi wadah alterntif organisasi guru yang potensial menaikan kompetensi guru secara masif dan massal, dengan berbagai program peningkatan mutu guru di seantero tanah air. Melalui pelatihan, seminar, workshop, pendampingan, pelatihan, penulisan dan Media Guru, penguasaan media belajar dan kemampuan teknologi belajar guru hingga publikasi. Kini IGI melalui IGI Propinsi Maluku, sudah menjamah hampir semua pelosok Maluku, sejak di deklarasikan pada tgl 30 April di LPMP propinsi Maluku, dan sejak 7 bulan itulah kini sudah memiliki 1.000 anggota aktif (target sisfo IGI Nopember 2016) di 6 kabupaten kota Se Maluku yakni Kota Ambon, kota Tual, SBB, Maluku Tengah, SBT, dan Kab. BURU.

Gambaran riil akan animo guru yg merindukan pelatihan dan penguatan kapasitas profesionalisme guru tercermin dari membludaknya pendaftaran atau antrian dari berbagai pelatihan dan seminar bahkan workshop IGI dari peserta guru yg mendatangi langsung para guru ke sekolah (IGI Go to school), atau IGI Jelajah Negeri, hanya dengan bekal motivasi diri dari para guru sendiri bahwa ingin berubah, apalagin para instrukturnya atau trainernya adalah guru guru hebat yang selalu mau berbagi dan tidak perlu di bayar mahal dengan ikhtiar ini. untuk berbagi ilmu pengetahuan dari guru, oleh guru dan untuk guru. Sehingga IGI tidak perlu meminta bantuan kepada pemda untk pendanaan berbagai kegiatan ini, dan seharusnya Pemda dan Pemprov harus berterima kasih kepada IGI suda melatih dan menjadikan gurunya mandiri dengan tidak membebankan kepada pendanaan Daerah.

Untuk pendanaan yg sering menjadi kendala alhamdulilah, atas monitoring beberapa pihak ketiga akan gerakan kawan-kawan IGI dari Pusat hingga Daerah. IGI kebanjiran CSR dari beberapa perusahan ternama semisal SAMSUNG, CASIO, INDOSAT, Garuda Indonesia, kementrian ESDM, dan masih banyak lagi. Bahkan Karna IGI Maluku Terlihat menjadi corong gerakan bersih, kini IGI Maluku mendapat kepercayaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK), devisi tindak pencegahan KPK menjadi mitra kerja, corong terdepan mensosialisaskan pembelajaran Integritas di masing-masing Sekolah binaan IGI. Untuk hal ini KPK langsung datang ke Maluku kota Ambon, dan melatih 50 guru IGI sebagai soko guru pembelajaran Integritas di sekolah Binaan IGI. Amanah undang-undang Guru dan Dosen yg mengarahkan bahwa tugas tanggungjawab guru tidak saja menjadi beban pemda, tetapi organisasi profesi Guru. Bahkan pasal 41 menyebut bahwa Guru wajib bergabung pada organisasi Guru. Saat ini lebih dari 10 organisasi guru yang terdaftr di kementrian pendidikan, selain PGRI, IGI ( Ikatan Guru Indonesia), PGSI (Persatuan Guru Seluruh Indonesia), PERGUNU (Persatuan Guru Nahdatul Ulama), dll belum lagi perkumpulan guru mata pelajaran yg ada di bawahnya. Hadirnya organisasi ini adalah semata karna amanah undang-undang Guru dan Dosen, selain bahwa tidak ada monopoli organisasi guru tertentu yang mengaku-ngaku mewadahi profesi terbesar yakni guru hingga saat ini.

Realitasnya kinerja kawan kawan guru IGI tidak ringan, sebab sejak awal kemunculannya di bumi Maluku, gerakan voulenteer guru ini pada awalnya dicurigai sebagai komunitas pendomplang politisasi birokrasi tertentu, sehingga beberapa pengurus IGI sudah mendapat intimidasi, penolakan, bahkan ancaman mutasi ke daerah terpencil, lantaran tidak lagi bergabung pada organisasi asalnya dan memilih berkreasi di IGI. Secara spesifik, tentu IGI Maluku menyambut Haul IGI ke 7 dan tepat 7 Bulanan IGI Maluku berkreasi bersama guru hebat d Maluku. Tentunya IGI harus banyak berterima kasih kepada seluruh pejabat pemerintahan dari pusat sampai daerah termasuk dari pernyataan dan sikap pak Mentri Pendidikan, Pak. MUHAJIR EFENDI, mentri Agama RI, DPRD MALUKU (komisi D), DPRD Maluku Tengah (Lintas Komisi), Bupati Maluku Tengah, Kepala LPMP Maluku, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan propinsi Maluku, Walikota dan Dinas pendidikan Kota Ambon, Walikota dan Dikor Kota Tual, Bupati dan Kepala Kementrian agama kab. SBT, kementrian agama kab. SBB. Termasuk beberapa partner dalam program Asosiasi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Asia Tenggara SEAMEO, di Bangkok, direktur SEAMOLEC, Jakarta yang sudah memfasilitasi sarana video confrensi dan berinteraksi dengan teman2 guru IGI se Nusantara. Tak Terlupakan, jasa, Bantuan, sang Pencerah Dewan Pembina IGI Prov. MUHAMMAD IHSAN, dan Pak De, (PROV.) SATRIA DHARMA, terutama Dukungan Kanda Ketum, MUHAMMAD RAMLI RAHIM (MRR) dan seluruh PP IGI Pusat, kawan-kawan Ketua dan pengurus Wilayah hingga Daerah, kawan2 IGI se Maluku terima kasih karna sikap Kalian IGI Maluku menjadi peringkat ke 7 Nasional, setelah 7 Bulan bergerak di Maluku tepat di UlangTahun IGI Ke 7, 26 Nopember 2016. Bukankah ini lebih dari usaha mewujudkan 7 an kita mencerdaskan kehidupan bangsa dan para gurunya. Panjang Umur IGI ke 7. Satukan 7-an Kita. Untuk kualitas guru yg bermutu, 1000 guru IGI akan bersama kita di Maluku.

Untuk catatan akhir tulisan ini, bahwa kejayaan guru yg berkualitas bukan karna IGI sebagai organisasi unsich, melainkan hadirnya IGI memotivasi diri untuk berubah pola pikir dan harus mendarah daging sebagai guru IGI, paradigma baru inilah yang akan merubah cara pandang ketika bergabung di IGI, ‘bahwa Tuhan tidak akan merubah Nasib guru, kecuali guru yg merubahnya’ jika bukan anda, lalu siapa lagi?.

Maka, Siapkan diri kita Guru IGI, modal sosial kita lebih besar sehingga lembaga superbody seperti KPK bisa menaruh kepercayaan kepada IGI Maluku menjalankan agenda pembelajaran INTEGRITAS. Lantas kenapa para guru masih ragu dengan gerbong akselerasi peningkatan mutu guru ini?

Untuk menguasai ilmu, sebagai motivasi awal baru di IGI selalu diawali dengan Baca. Kegiatan baca inilah yg kita inisiasi agar menjadi kebiasaan dan kebutuhan sehingga menjadi spirit bagi siswa bahwa kewajiban baca, bagian dari kegiatan merawat ilmu pengetahuan. Selanjutnya menulis, dengan kemampuan baca dan menulis inilah modal guru IGI menggenggam siswanya. Jika satu guru cerdas bisa mencerdaskan 10 siswa dengan kebiasaan baik ini.

Ode Abdurrachman
Ketua IGI Pro Maluku

_Bergabunglah di IGI.
Selamat Hari Ulang ( HAUL KE 7 IGI)
#longlife IGI7

#HGN #IGI #IGI7tahun

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here