TOT LITERASI PRODUKTIF IGI: Siap Cetak Generasi Emas 2045

0
882
Foto bersama Peserta Kanal Penulisan Buku

“ TOT LITERASI PRODUKTIF IGI: Siap Cetak Generasi Emas 2045”

 Oleh : Sri Subekti, S.Pd, M.Pd – IGI BATU JAWA TIMUR

             Mengutip pernyataan Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim di acara pembukaan TOT Literasi Produktif Berbasis IT di Surabaya tanggal 6 Oktober 2016, “Jika sebuah negara tiba-tiba runtuh dan hancur lebur, maka yang pertama dicari adalah guru untuk menegakkan kembali bangsa dan negara itu”. Demikian juga ketika para pakar ekonomi menyadari adanya bonus demografi pada 2035 dimana pada masa itu usia produktif mendominasi penduduk Indonesia, maka generasi produktif saat itu harus siap mengisi seluruh elemen dunia kerja. Artinya generasi yang dibutuhkan pada masa itu adalah generasi produktif yang siap kerja, siap mengembangkan keilmuan dan siap memimpin dunia. Maka, dunia pendidikan adalah satu-satunya lembaga yang diharapkan dapat menyiapkan “Generasi Emas”. Generasi  Emas sebagai hadiah ulang tahun RI ke 100 tahun pada Tahun 2045 dicanangkan oleh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjawab periode bonus demografi Indonesia 2035.

Menjawab tantangan bonus demografi tersebut, sejak Tahun 2012 Kementrian Pendidikan mempersiapkan dengan Grand Design Pendidikan. Kurikulum pendidikan disempurnakan dengan pendidikan yang kontekstual dan berorientasi pada dunia kerja. Pendidikan tidak lagi bersifat tekstual dan pasif, tetapi pendidikan disiapkan untuk bisa membaca kebutuhan lingkungan dengan aktualisasi ide-ide kreatif menuju generasi produktif. Generasi yang kaya dengan gagasan dan ide-ide namun juga bisa merealisasikan berbagai gagasan kreatif tersebut dalam sebuah proyek. Oleh karena itu terjadilah perubahan-perubahan dalam kurikulum pendidikan yang sepenuhnya disiapkan untuk menghadapi perubahan jaman dan tuntutan membentuk generasi berkualitas pada 30 tahun kedepan.

Persiapan generasi terdapat pada out come pendidikan, dimana out come selalu bersandar pada proses pendidikan. Peninjauan proses pendidikan dilakukan dengan merefleksi proses pembelajaran yang telah dilakukan. Pendidikan abad 21 semestinya dapat menyiapkan insan muda yang cerdas, teliti, kritis, kreatif, adaptif dan etis. Generasi yang mampu berkomunikasi aktif, bergaul, berkolaborasi, kooperatif dan mandiri. Generasi dari sisi religius memiliki keimanan yang tinggi, bertaqwa, berkarakter, berkepribadian yang agung dan berbudaya. Pada intinya pendidikan abad 21 menitikberatkan pada upaya untuk membentuk generasi yang memiliki kompetensi berfikir (konseptual), kompetensi bekerja (produktifitas), kompetensi berkehidupan (kemandirian) dan kompetensi menguasai alat (IT).

Proses pendidikan berupa proses pembelajaran  yang dianggap tepat untuk mengiringi langkah pendidikan itu adalah pembelajaran dengan pendekatan saitifik. Suatu pembelajaran yang menerapkan pola berfikir metode ilmiah sebagaimana cara kerja para ilmuwan mendapatkan sebuah konsep atau melakukan penelitian serta berdampak teraktualisasinya sikap ilmiah. Metode ilmiah akan membentuk pola berfikir kritis, eksploratif, aktif, dan produktif karena dalam setiap endingnya pembelajaran dengan cara kerja ilmiah akan diakhiri dengan “Making”. Artinya, produk dari sebuah pembelajaran harus nampak sehingga proses pembelajaran menuntut adanya hasil, kontekstual dan berbasis lingkungan. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik diharapkan dapat mengeksplor ide-ide kreatif siswa dan dapat merealisasikan dalam sebuah produk. Mewujudkan ide bukan perkara mudah jika tidak dilatih dan dibiasakan. Menurut Belsky ( 2016:17),Ide dapat terealisasi jika ada perpaduan kemampuan pengorganisasian dan pelaksanaan, kekuatan komunitas, dan kemampuan kepemimpinan. Pembelajaran yang mengakomodir kompetensi siswa, kontekstual, kooperatif, networking dan berbasis proyek akan mampu menyiapkan generasi menjadi lebih baik.

Pembelajaran yang tepat saja belum cukup untuk menyiapkan generasi emas. Pembelajaran adalah menyiapkan peserta didik di masanya. Bisa diprediksi bahwa pada 30 tahun kedepan kehidupan sudah sarat dengan ilmu dan tekhnologi (IT). Kemampuan dan penguasan IT perlu diperkenalkan mulai sekarang, sejak usia dini agar penguasaan IT bisa terarah sesuai tujuan positif yang akan dicapai dalam pendidikan. Jika generasi produktif berbasis IT telah dikuasai, maka satu hal yang tidak boleh tertinggal adalah literasi.

Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang digunakan sebagai alat membentuk generasi produktif. Kemampuan literasi tidak   semudah mempelajari sebuah konsep, tetapi perlu pembiasaan. Pembiasaan literasi harus dimulai sejak pendidikan dini yaitu PAUD, TK, pendidikan dasar berlanjut pada pendidikan menengah dan tinggi. Kemampuan literasi tidak bisa dicapai hanya dengan belajar mata pelajaran bahasa Indonesia saja. Pembelajaran literasi harus include dalam semua mata pelajaran bahkan harus menjadi sebuah gerakan yang dilakukan di lingkungan sekolah, lingkungan rumah atau keluarga dan lingkungan masyarakat. Gerakan literasi sudah semestinya dimulai dari guru-guru yang produktif dan memiliki kemampuan literasi.

Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin literasi diajarkan di pendidikan usia dini? Maka guru-guru IGI siap menjawab dengan literasi untuk jenjang PAUD, TK dan pendidikan dasar. Fakta bahwa peserta didik di negara kita belum memiliki budaya baca yang baik, bisa jadi dikerenakan pada pendidikan  usia dini bukan mengajarkan ‘budaya baca’ tapi sekedar ‘belajar membaca’. Membaca, tidak saja bisa dilakukan secara tekstual, tetapi membaca bisa dilakukan sejak anak belum bisa membaca. Bukankah perintah “IQRA (=membaca) dalam Al-Qur’an adalah ayat pertama yang hadir untuk mengubah dunia. Apa yang dibaca saat itu? Sementara Nabi Muhammad dalam keadaan “Ummi” (=buta huruf). Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa membaca yang dimaksud adalah dengan membaca lingkungan. Jadi membaca bisa dengan tekstual bisa juga tidak dengan teks. Gerakan literasi pada pendidikan Paud bisa dengan membaca lingkungan – menceritakan kembali; untuk pendidikan TK – membaca lingkungan, mendengarkan –menceritakan kembali; untuk pendidikan  SD – membaca – menceritakan kembali dan mengevaluasi; untuk pendidikan SMP- membaca – merancang ide; untuk pendidikan SMA – membaca –memproduksi (membuat); dan pendidikan di Perguruan Tinggi –membaca –meneliti –memproduksi. Ide Rancangan gerakan literasi tersebut menuntut pembelajaran yang memberi konten pengetahuan. Kombinasi pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik akan memungkinkan konten pengetahuan terisi dengan baik. Literasi dan produktifitas akan berjalan berdampingan membentuk generasi emas yang diharapkan. Dimana sementara ini pendidikan yang ada, disangsikan untuk bisa mewujudkannya.

TOT Literasi produktif berbasis IT di Surabaya yang diselenggarakan pada tanggal 6-9 Oktober 2016 telah membuktikan bahwa IGI siap mencetak generasi emas dengan dihasilkannya 150 pelatih yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Mereka siap turun tangan menebar benih literasi produktif ke berbagai pelosok Indonesia. Pelatih IGI tak menunggu ada proyek APBN, APBD, atau pendanaan lainnya untuk melakukan aksinya. Artinya pelatih IGI tidak terkendala dengan dana, mereka siap melakukan pelatihan dengan semangat Sharing and Growing Together. Mereka yang dinyatakan lulus akan diturunkan melatih literasi di seluruh Indonesia yang nantinya ditargetkan 50 diklat literasi setiap minggu pada 50 kabupaten/kota di Indonesia untuk mencapai target Gerakan Satu Juta Guru Terlatih Literasi Produktif Berbasis IT “. Kompetensi masing-masing pelatih yang terkelompok menjadi 7 kanal ditambah dengan brand masing-masing pelatih akan mampu menjadi pembaharu dan gerakan yang nyata. Langkah nyata para Guru dalam pelatihan TOT Literasi produktif telah ditunjukkan pada jalannya 3 hari pelatihan. Pelatihan yang betul-betul efektif, bersemangat, bergelora, bertujuan satu yaitu mencetak guru profesional demi mempersiapkan generasi emas. Pelatihan yang tidak akan pernah ditemui pada lembaga manapun, dengan komitmen tinggi dilaksanakan pada pukul 08.00 sampai dengan pukul 23.00 WIB.Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang protes, tidak ada yang meninggalkan acara pelatihan. Lebih spektakuler lagi peserta mandiri sebanyak 70 orang harus mengeluarkan dana 1 juta rupiah dan biaya transportasi (pesawat) sendiri dan tanpa uang saku diakhir pelatihan. Inilah mental pejuang pendidikan,berkorban tidak menjadi beban, semangat kemajuan menjadi tujuan, siap menyebarkan adalah amalan. Guru-guru hebat agaknya bukan julukan yang berlebihan buat mereka. Guru-guru pejuang yang siap mengantarkan Indonesia menjadi negara yang berjaya pada masa yang akan datang. Kiranya para pakar akan tercengang dengan kiprah yang disulut guru IGI saat ini dan akan datang. Jayalah IGI, Jayalah Guru, Jayalah Indonesiaku.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here