TOT LITERASI PENUH GIZI

1
733

TOT LITERASI PENUH GIZI

By : Ali Mustahib

Saya merasa mendapat asupan energi sangat berarti dari TOT Literasi Produktif Berbasis IT yang digelar PP IGI di LPMP Surabaya pada Kamis – Sabtu, 6 – 9 Oktober 2016. Kegiatan yang diikuti para guru hebat IGI dari berbagai daerah di Indonesia ini pasti telah dipersiapkan dengan matang sebelumnya. Sehingga memungkinkan terjadinya sinergitas para pihak yang terlibat di dalamnya. Mulai dari beberapa pengurus pusat IGI yang menjadi panitia pelaksana, pengelola LPMP Surabaya, para narasumber atau fasilitator, hingga para peserta guru-guru IGI.  Saya bayangkan mereka tampak bergerak serempak menuju satu titik pusaran yang sama bernama pusaran perubahan.  Maka tak perlu ditanyakan lagi pada mereka soal komitmen untuk terjadinya perubahan bangsa. Karena nyatanya mereka telah memulainya dengan menempa diri melalui berbagai kegiatan yang saya yakin telah banyak mereka tempuh sebelumnya.

Bayangan beragam sumber energi itu lantas benar-benar saya lihat dan dengar di forum TOT melalui berbagai pidato formil, paparan para narasumber, dan obrolan ringan dengan sesama peserta di sela-sela acara. Saya lihat tampilan sang ketua umum dan sekjen yang lugas, tanpa basa-basi, dan dikemas dengan sense of humor  khas orang-orang pintar, mempertegas idealismenya yang bulat, padat dan gempal, segempal tubuh mereka berdua. Benar-benar duet yang atraktif, saling melengkapi dan kompak.

Begitu juga paparan para narasumber, khusus di kanal “menulis” yang saya ikuti dengan dipandu oleh Pak Slamet Riyanto dan Pak Joko Wahyono.  Pak Slamet, seorang penulis produktif yang telah melahirkan buku sebanyak 170 judul dan telah membuatnya diundang ke negeri Paman Sam, membuka rahasia lika-liku sejarah kepenulisannya secara lengkap. Mulai dari titik awal yang up and down hingga mencapai puncak kesuksesan yang semakin membuatnya mampu menatap bebas cakrawalanya. Pak Joko Wahyono, seorang penulis kreatif hinggqa beberapa karyanya mampu menembus posisi best seller. Secara kreatif, Pak Joko juga mengemas buku-bukunya dalam bentuk e-book dan memasarkan secara online di samping dijual di toko-toko buku, khususnya toko buku Gramedia Matraman yang disinyalir sebagai toko buku terbesar di Asia Tenggara.

Pak Slamet dan Pak Joko sangat percaya diri dengan karya-karyanya yang sangat membanggakan dan sekaligus rendah hati dengan beberapa kekurangannya. Pak Slamet dengan tanpa beban memposisikan diri sebagai peserta pada sesi Pak Joko. Tanpa sungkan-sungkan beliau minta diajari bagaimana caranya membuat toko online. Sedangkan Pak Joko saya lihat mau bertanya pada peserta yang duduk di sebelahnya tentang fitur-fitur Samsung Tab A8 pada sesi  Mas Banu Afwan Pribadi, Manager Education and Government Samsung Indonesia.

Tak kalah inspiratifnya dengan beberapa kisah di atas, teman-teman guru sesama peserta TOT juga membuat saya merasa berada pada satu klik yang sama. Misalnya Cak Sariban, rekan guru IGI dari Tuban, yang menyatakan, “rekreasi kita kan, membaca” gitu katanya ketika ngobrol ringan dengan saya sambil menuju Masjid untuk menunaikan shalat zuhur. Wow…! inilah yang sebelumnya pernah saya “pertengkarkan” dengan beberapa guru yang seringkali minta ke sekolahnya agar diadakan agenda tamasya. Tamasya memang penting dilakukan sesekali jika ada kemungkinannya. Baik waktu, dana, lebih-lebih lagi urgensinya. Tidak bisakah tamsya atau rekreasi dicari bentuknya yang lebih compatible dan bermakna bagi orang dewasa? Guru adalah orang dewasa yang mestinya bisa melakukan tindakan rekreatif yang lebih substantif, membaca buku misalnya, tidak harus berjalan-jalan mengunjungi tempat tertentu, ke gunung, ke pantai, apalagi ke mall seperti yang dilakukan beberapa siswanya.  Kalau begitu, apa bedanya guru dengan siswa?

Guru IGI yang mampu berpikir substantif semacam itu juga tampak dari perbincangan teman-teman lainnya di forum TOT. Rekan Nurdin (teman-teman suka memanggilnya dengan sebutan “Babe”) dari Aceh Timur dengan sangat baik menyampaikan lika-liku perjuangannya ketika merintis IGI di daerahnya hingga sekarang telah mendapat kepercayaan masyarakat luas di sana. Begitu juga sambutan kesan-pesan dari dua rekan guru IGI dari daerah Indonesia timur (saya lupa nama daerahnya) yang mengekspresikan semangat dan militansi yang sama. Terakhir yang ingin saya katakan adalah bahwa guru-guru IGI, khususnya aura yang saya tangkap dari mereka yang hadir di forum TOT Literasi Produktif Berbasis IT di LPMP Surabaya adalah kerelaan mereka berjuang dengan tujuan semata-mata ingin menempa diri menjadi guru profesional dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Sikap Money oriented tampak mereka kesampingkan karena menyadari bahwa uang dan yang lebih bernilai darinya akan bisa diperoleh selama mereka tetap konsisten berbuat baik bagi sesama.

 

Jakarta, 11 Oktober 2016

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here