Metode “Menemu Baling” untuk Mendukung Gerakan Literasi Sekolah

( sesi Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga, dalam perjalanan pulang kantor mengisi  waktu luang dikala macet)

0
1792

Menemu Baling untuk mendukung literasi sekolah ? Sepertinya itu istilah yang aneh dan mengada-ada. Baling siapa yang hilang?  Mengapa kita harus Menemu Baling ?

Sebenarnya Menemu Baling adalah sebuah istilah yang memudahkan kita untuk  mengingat nama sebuah metode. Metode tersebut  pertama kali diperkenalkan oleh Mampuono, Sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI). Metode ini sangat efektif dan revolusioner sebagai  pendukung utama gerakan literasi produktif berbasis IT. Menemu Baling merupakan akronim dari metode “Menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga”.

Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini pemerintah sedang getol menggulirkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Pemerintah prihatin dengan kondisi tingkat literasi para siswa Indonesia yang di kancah dunia ternyata posisinya jauh di bawah standar. Penelitian oleh University of Connecticut baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat literasi atau kepandaian para siswa Indonesia ternyata hanya berada satu level 60 dari 61 negara. Posisi kita berada persis diatas posisi Botswana, sebuah negara kecil dan miskin di Afrika. Oleh karenanya pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan level literasi para siswa Indonesia dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan GLS.

IGI yang sejak kelahirannya   fokus terhadap peningkatan kompetensi guru tentu saja  menyambut antusias adanya GLS ini. Urusan peningkatan  literasi siswa adalah urusan guru dan urusan peningkatan literasi guru adalah urusan  IGI sebagai organisasi profesi. Bahkan pelopor gerakan literasi yang sekarang diresmikan sebagai GLS ini adalah Satria Dharma, ketua umum IGI periode tahun 2010-2014 lalu dan satu periode sebelumnya. Satria Dharma dengan penuh semangat bergerak ke seluruh Indonesia untuk menyebar luaskan gerakan literasi.  Dia tidak segan-segan untuk merogoh kocek sendiri dalam membiayai kegiatan literasi yang dia usung di seluruh Indonesia tersebut.

Salah satu kegiatan besar IGI yang paralel dengan GLS  adalah Gerakan Satu Juta Guru Terlatih Literasi Produktif Berbasis IT. Gerakan ini dicanangkan mulai tahun 2016  dan pada tahap 1 berjangka lima tahun artinya pada akhir  tahun ke lima atau tahun 2021 diharapkan  satu juta guru sudah terlatih  literasi produktif berbasis IT tersebut. Targetnya semua guru yang terlatih  sudah menerapkan program SAGUSATAB (Satu Guru Satu Tablet). Untuk itu pengurus pusat IGI menggelar TOT Literasi Produktif Berbasis IT di LPMP Surabaya tanggal 6-9 Oktober 2016 ini.

Pada even yang didukung oleh  Dirjen GTK,  Dirjen Dikdasmen,  LPMP  Jawa Timur, Garuda dan  Samsung tersebut Mampuono memperkenalkan metode Menemu Baling kepada 150 peserta TOT yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Para peserta yang merupakan calon trainer literasi nasional IGI akan menyebar luaskan metode ini ke seluruh Indonesia.

Ada dua kegiatan utama di dalam  Menemu Baling. Yang pertama adalah Menemu atau menulis dengan mulut dan yang kedua adalah Baling atau membaca dengan telinga. Bagi yang awam dengan teknologi informasi mungkin akan berpikir  bahwa keduanya mustahil dilakukan. Tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa dengan teknologi informasi hal itu adalah sesuatu hal yang wajar-wajar saja.

Saat ini kita hidup sebuah era di mana hampir semua orang mengandalkan teknologi informasi untuk memudahkan cara melakukan sesuatu, termasuk di dalam membaca dan menulis.   Adalah sebuah perusahaan yang menjadi besar karena komunitas. Perusahaan itu  terus-menerus mengembangkan cara baca tulis yang paling revolusioner. Perusahaan itu adalah Google. Google telah mengembangkan dan memberdayakan mesin yang bisa merubah ucapan menjadi teks yang disebut dengan Google Speech-to-text. Begitu kita mengucapkan kata-kata sesuai bahasa yang terinstal, mesin ini dengan cerdas akan menuliskan segala ucapan kita dalam bentuk teks. Aktivitas ini disebut sebagai Menemu atau menulis dengan mulut.

Mampuono menganggap bahwa  ini adalah  sesuatu yang revolusioner  di dalam  aktivitas tulis-menulis.  Menulis yang dulu  harus  dilakukan dengan tangan  dan cukup sulit bagi yang tidak biasa menggerakkan jari-jemari di atas tuts sekarang berubah drastis menjadi begitu mudahnya. Melalui aktivitas  Menemu ini dengan mudah  orang akan bisa menulis kapanpun dan dimanapun tanpa harus menggerakkan tangan. Mereka cukup mengucapkan kata-kata atau menggerakkan mulut saja dan tulisan akan diproduksi sepanjang apapun yang diinginkan. Jadi sebenarnya Google sudah menciptakan alatnya tetapi kita sebagai pengguna tablet atau telepon pintar kadang-kadang belum membuat telepon pintar kita benar-benar pintar. Ada yang mengatakan bahwa biasanya kepintaran telepon juga berbanding lurus dengan literasi dari penggunanya.

Lalu bagaimana dengan Baling atau “membaca dengan telinga”? Jika sebelumnya kita membahas tentang mesin Google Speech-to-text yang berfungsi mengubah ucapan menjadi teks, sekarang  kita gantian membahas mesin yang berfungsi kubalikkannya. Mesin ini bernama Google Text-to-speech. Fungsi mesin ini adalah secara revolusioner mengubah teks menjadi suara. Sama halnya dengan “menulis dengan mulut” maka “membaca dengan telinga” ini  bisa dilakukan dimanapun, kapanpun, dan selama apapun. Caranya adalah dengan mengirimkan teks yang akan kita baca kedalam mesin Google text-to-speech tadi lalu kita dengarkan.

Dibandingkan dengan membaca secara konvensional, keuntungan “membaca dengan telinga” ini jauh lebih banyak. Jika membaca dengan cara konvensional  barangkali akan membuat mata menjadi lelah, bahkan mungkin kalau salah posisi  bisa menyebabkan mata menjadi plus atau minus, tetapi dengan mengubah fungsi telinga untuk membaca maka mata menjadi lebih aman. Rasanya telinga tidak mungkin menjadi  tuli  atau berkurang pendengaran  ketika kita terus-menerus mendengarkan  teks yang dibacakan oleh mesin  seperti kita mendengarkan warta berita.

Diharapkan dengan dipetkenalkannya metode Menemu Baling   ini semakin memudahksn guru melakukan aktivitas literasi. Dan dengan semakin literate-nya guru pada akhirnya akan berimbas pada meningkatnya level literasi para siswa kita sehingga pada gilirannya kita tidak lagi dihadapkan pada level literasi yang memprihatinkan lagi.

Salam pergerakan pendidikan!

 

Mampuono

Sekjen IGI

 

 

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here