Membangun Karakter Melalui Komik Karakter Model Project Based Learning

1
687

Oleh: Widadi, S.Pd., M.Pd. (PP IGI)

Sahabat guru Indonesia, saya akan memulai artikel ini dengan kisah sederhana yang dialami teman saya Mas Joko. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mas Joko selalu mendapatkan nilai akademik terbaik di sekolahnya. Mas  Joko  selalu mendapatkan nilai rapor tertinggi. Lulus kelas 6 SD, ia menjadi bintang sekolah. Hal ini terus terjadi hingga ia lulus SMP, dan SMA.

Ketika kuliah di perguruan tinggi, indeks nilai komulatifnya (IPK) tak pernah kurang dari 3,8. Hal ini terjadi sejak semester pertama hingga semester terakhir. Maka  tak mengherankan jika ia lulus coumlaude dari perguruan tinggi tersebut.

Beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan  Mas Joko dalam sebuah seminar di kota Jogyakarta. Sungguh tak kusangka jika kini kehidupannya jauh dari apa yang saya bayangkan. Bahkan tatkala kami mengadakan reuni dua minggu kemudian, ia lebih senang menyendiri. Mas Joko tak mau bergabung dengan teman-teman yang lain. Padahal dulunya ia adalah bintang di sekolah. Tak ada satupun guru dan siswa yang tidak mengenalnya.

Dari obrolan saya dengannya sambil ngopi di sudut ruangan, saya bisa memahami persaannya saat itu. Ternyata Mas Joko minder. Minder melihat teman-temannya yang tampak sukses di mata Mas Joko.Ia merasa bahwa dirinya telah gagal dalam meniti hidup di dunia ini. Nilai ijazahnya yang selalu berada di atas nilai teman-temannya ternyata tak berarti apa-apa.

Sahabat guru yang budiman. Kisah Joko seakan mewakili puluhan, ratusan bahkan ribuan generasi bangsa ini. Betapa banyak dari teman kita, saudara kita yang dulunya bintang di sekolah, namun gagal meraih sukses. Kemudian kita bertanya. Di mana letak masalahnya? Setelah kita membaca teori kecerdasan Emosional (EQ) kita pun akhirnya bisa memahaminya. Ternyata nilai akademik yang tinggi tidak menjamin sukses hidup seseorang. Ironisnya inilah yang terjadi di negara kita, Indonesia.

Sebagian besar sekolah berlomba mengejar nilai UN lupa membangun karakter. Sebagian besar sekolah membangga-banggakan nilai akademik, lupa membangun karakter. Sebagian besar sekolah mengoptimalkan otak kiri, lupa mengoptimalkan otak kanan. Otak kiri berkaitan dengan logika, matematika dan bahasa sementara otak kanan berkaitan dengan seni, kreativitas dan inovasi.

Apakah ada bukti lainnya? Ini buktinya, setiap kali acara kenaikan kelas yang berhak mendapatkan penghargaan biasanya adalah peserta didik dengan nilai akademik tertinggi, minimal 10 besar. Sementara jumlah murid di kelas itu antara 30 sampai 40 anak. Jika paralel 3 kelas saja berarti ada sekitar 90-120 anak. Terdapat antara 80-110 anak terabaikan. Peserta didik kita terlena dan kita pun sebagai guru terlena. Hal ini terjadi terus berulang-ulang. Adilkah kita sebagai guru?

Setiap pembagian rapor kita terlalu senang melihat angka-angka di atas KKM sementara itu mengabaikan prosesnya. Sebaliknya kita juga prihatin melihat nilai peserta didik yang masih berada di bawah KKM, juga melupakan prosesnya. Sebagai guru, kita pasti berupaya sebaik mungkin untuk membantu peserta didik yang nilainya berada di bawah KKM. Kegagalan seorang anak dalam belajar sesungguhnya adalah kegagalan kita juga dalam mengajar.

Adalah Daniel Goleman yang berpendapat bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya mampu menyumbang 20% terhadap sukses hidup seseorang, selebihnya yang 80% terletak pada kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan dominasi kerja otak kiri sementara itu kecerdasan emosional (EQ) merupakan dominasi kerja otak kanan. Prestasi akademik adalah hasil kerja otak kiri sementara kejujuran, keuletan, tanggung jawab adalah wilayah kerja otak kanan.

Sahabat guru Indonesia. Kita sungguh bersyukur. Allah telah mentakdirkan kita menjadi guru. Guru untuk anak kandung kita, maupun guru untuk peserta didik kita di sekolah. Sebagai guru kita pasti senang mempunyai anak kandung dan peserta didik yang pandai tetapi juga berkarakter mulia. Nah, jujur, ulet dan tanggung jawab adalah sebagian dan karakter mulia.

Sahabat guru Indonesia. Telah kita ketahui bersama bahwa saat ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah giat mengembangkan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Kebijakan ini tepat mengingat semakin merosotnya moral sebagian warga bangsa seiring dengan perkembangan jaman yang semakin kompleks.

Budaya dan karakter apa sajakah yang dimaksud? Setidaknya terdapat 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang telah dibuat dan dipersiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.

18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter tersebut adalah:1. religius, 2. jujur, 3.  toleransi, 4.  disiplin, 5. kerja Keras, 6.   kreatif, 7.  mandiri, 8.  demokratis, 9.  rasa ingin tahu, 10.  semangat kebangsaan, 11.  cinta tanah air, 12.  menghargai prestasi,  13. bersahabat, 14.  cinta damai, 15.  gemar membaca, 16.  peduli lingkungan, 17.  peduli sosial dan 18. tanggung jawab.

Bagaimanakah strategi menggali dan memberdayakan karakter peserta didik? Saya melakukannya melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1.  menyanyi, 2. memperdengarkan cerita, 3. membuat cerita, 4. menggambar cerita, 5. membuat komik, 6. bermain peran

Sebenarnya masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menggali dan memberdayakan karakter peserta didik. Dalam artikel ini saya akan fokus membahas enam strategi tersebut dalam satu kesatuan. Untuk memudahkan pemahaman pembaca dalam pembelajaran ini saya gunakan model project based learning. Strategi ini telah saya lakukan ketika mengajar bahasa Indonesia di SDN Cipete Selatan 01, Jakarta Selatan.

Sebagai guru kita tentu telah mamahami bahwa pola pembelajaran di sekolah dasar terbagi menjadi tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

 

  • Kegiatan Pendahuluan

 

Pada kegiatan awal ini saya mengajak peserta didik menyanyikan lagu senandung serunai. Begini bunyi syair lengkapnya. Nun dibalik gunung dusun terkurung sunyi, sukma merenung dengar senandung serunai, sayup dendang menghimbau, gita irama desaku, insan hidup rukun, memupuk cinta alam di desa.

 

Kegiatan menyanyi ini saya ulangi sampai dua atau tiga kali. Maksudnya adalah agar peserta didik memahami makna dari keseluruhan lagu syahdu tersebut. Terkadang saya meminta beberapa peserta didik untuk maju ke depan menyanyikan lagu tersebut dengan penuh perasaan. Saya mengiringinya dengan petikan gitar. Saya memperhatikan beberapa peserta didik tampak begitu menikmati lagu ini. Sebagian ada yang berubah raut mukanya. Ada yang tampak sedih ada yang tampak gembira.

 

 

  • Kegiatan Inti

 

Pada kegiatan ini mula-mula saya memperdengarkan dongeng klasik “Bangau dan Ketam”. Dongeng ini mengisahkan kelicikan Sang Bangau. Sang Bangau menipu ikan-ikan yang tinggal di danau. Tipu daya Sang Bangau diketahui oleh Paman ketam. Kelicikan dan tipu daya Sang Bangau terbongkar. Paman ketam akhirnya mengusir Sang Bangau dari danau tempat semula tinggal bersama ikan-ikan dan Paman Ketam.

 

  • Menentukan jenis projek

 

Pada langkah ini peserta didik menentukan tema projek berdasarkan tugas projek yang saya berikan. Tugasnya adalah menentukan tokoh-tokoh dongeng, menentukan karakter tokoh dan membuat komik dongeng dengan pensil warna. Pada sesi pelatihan IGI pensil warna bisa diganti dengan stabilo.

Peserta didik saya berikan kesempatan untuk memilih proyek yang akan dikerjakannya baik secara mandiri maupun kelompok. Saya menekankan agar projek yang dibuat tidak menyimpang dari apa yang telah saya sampaikan.

 

  • Merancang langkah-langkah menyelesaikan projek

 

Pada tahap ini, peserta didik saya berikan kesempatan merancang langkah-langkah kegiatan untuk menyelesaikan projek dari awal sampai akhir beserta pengelolaannya. Kegiatan merancang projek ini berisi aturan main dalam melaksanakan tugas projek, memilih aktivitas yang dapat mendukung tugas projek, mengintegrasikan berbagai kemungkinan penyelesaian tugas projek, merencanakan bahan dan alat yang dapat dipakai untuk mendukung penyelesaian tugas projek, dan kerjasama antaranggota kelompok.

 

  • Menyusun jadwal pelaksanaan projek

 

Pada kegiatan ini saya mendampingi peserta didik melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah mereka rancang. Jadwal tersebut menunjukkan berapa lama projek itu harus diselesaikan tahap demi tahap.

 

  • Menyelesaikan projek dengan monitoring guru

 

Langkah ini merupakan langkah pengimpelementasian rancangan projek yang telah dibuat. Aktivitas yang dapat dilakukan peserta didik pada kegiatan ini adalah: a. membaca, b. meneliti, c. observasi, d. interview, e. merekam, f. membuat karya seni, g. mengunjungi objek projek, h. belajar dari internet.

Dalam kegiatan ini saya bertanggungjawab memonitor aktivitas peserta didik dalam melakukan tugas projek mulai dari proses awal hingga penyelesaian projek. Pada kegiatan monitoring, saya membuat rubrik yang berisi rekaman aktivitas peserta didik dalam menyelesaikan tugas projek.

 

 

  • Menyusun laporan dan presentasi

 

Hasil projek yang saya harapkan dari kegiatan ini adalah produk berupa komik karakter dari dongeng klasik Bangau dan Ketam. Komik tersebut kemudian dipresentasikan dan dipublikasikan kepada peserta didik yang lain di depan kelas. Untuk memotivasi peserta didik saya mengundang komite sekolah dan orangtua murid. Kegiatan ini saya rangkai dalam bentuk pameran produk pembelajaran.

 

  • Mengevalusai proses dan hasil projek

 

Pada kegiatan ini saya mengajak peserta didik untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas projek. Pada tahap evaluasi saya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengemukakan pengalamannya selama mengerjakan tugas projek. Kegiatan ini biasanya berkembang menjadi diskusi yang sangat menarik. Hasil diskusi kelas ini berguna untuk memperbaiki projek peserta didik. Pada tahap ini terjadi proses umpan balik terhadap proses dan produk yang telah dilakukan.

 

  • Kegiatan Penutup

 

Pada kegiatan penutup ini, saya kembali mengajak peserta didik menyanyikan lagu senandung serunai. Kegiatan berikutnya saya meminta salah satu kelompok untuk bermain peran memperagakan komik yang telah dibuatnya. Sementara peserta didik yang lain melihat , memperhatikan dan meberikan komentar. Sahabat guru Indonesia, majulah pendidikan Indonesia!

 

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here