IGI BERHALAUAN KIRI?

(Sesi Menulis dengan Mulut dan Membaca dengan Telinga)

0
1018

Siang tadi selepas mengisi kegiatan pelatihan IT based learning untuk para guru sekolah dasar yang sudah sertifikasi di Kecamatan Godong saya sengaja mengajak bertemu para pengurus baru IGI Kabupaten Grobogan. Sejak dilantik pada tanggal 10 april 2016 lalu ternyata mereka belum bergerak sama sekali, maka saya memutuskan untuk melakukan pendampingan kepada mereka dalam program “Turun Tangan” yang saya laksanakan secara pribadi sebagai PP yang berasal dari Jawa Tengah. Kami sepakat untuk bertemu di sebuah pondok pemancingan lesehan yang asri di sana.

Dalam diskusi pendampingan ternyata saya mendapatkan cerita-cerita menarik dari para tokoh pergerakan IGI di kabupaten Grobogan. Di antaranya adalah cerita tentang ketakutan yang dialami beberapa mantan pengurus IGI Grobogan periode awal. Ketakutan itu lebih bisa di sebut sebagai trauma psikis akibat “perburuan” dari sebuah “company” besar yang mengancam dan mengintimidasi mereka sedemikian rupa. Karena gerakan mereka sebagai guru-guru polos yang ingin merdeka dan memilih perubahan begitu mudah terendus, maka “penangkapan” dan “pengebirian” terhadap mereka menjadi lebih mudah. Bahkan ketika mantan pengurus tersebut secara tidak sengaja mengetahui ada pengurus baru yang ternyata berurusan dengan IGI, sambil bergidik menjauh dia meminta pengurus baru berhati-hati karena boleh jadi nasib yang sama akan dialaminya juga.

Ada lagi cerita yang lain. Kali ini justeru lebih tragis dan akan membuat meradang siapapun yang memiliki akal sehat. Jika yang sudah-sudah adalah cerita ngawur dan klaim sesat tentang betapa IGI sengaja dibuat oleh pemerintah untuk memecah belah guru, IGI yang selalu menyalahi dan menjegal organisasi lain (walau yang terjadi justeru sebaliknya), atau IGI itu terdiri dari guru-guru barisan sakit hati, kali ini ceritanya benar-benar di luar dugaan. Ternyata sudah muncul cerita tentang IGI versi yang terbaru! Apa itu? Yaitu munculnya tuduhan tak masuk akal atau malah bisa disebut sebagai fitnah keji terhadap IGI (tergantung pada sudut pandang yang menerima cerita), yaitu  tentang IGI dan paham kiri!

Ceritanya, salah satu tokoh pergerakan yang menjadi pengurus baru IGI Grobogan suatu ketika berusaha berdiskusi tentang pembaharuan dan peningkatan mutu guru kepada seorang guru muda, maka sampailah diskusi pada topik tentang IGI (www.igi.or.id). Namun begitu mendengar kata IGI, serta merta sang guru muda ini terbelalak. Dia bertanya, kenapa IGI? Bukankah IGI adalah organisasi berhalauan kiri? Mendengar statemen sang guru muda tersebut sang tokoh pergerakan ini gantian terbelalak! Berhalauan kiri? Berarti sang guru muda ini menganggap IGI sealiran dengan PKI. How come? How naive (read: stupid) the young teacher is?

Ternyata guru muda itu mendapat cerita negatif tentang IGI dari kakaknya yang bekerja di dinas pendidikan DKI. Dan dia menelan mentah-mentah informasi tentang IGI ini. Tidak ada yang namanya critical thinking atau analisa terlebih dahulu tentang isi informasi tersebut. Maka layaklah jika seorang penulis USA menulis artikel dengan judul “Indonesian Students Do not Know How Stupid They are!” akibat rendahnya hasil literasi anak-anak kita. Mengapa bisa rendah? Bayangkan, yang menjadi gurunya saja tidak pernah membaca dan menganalisanya suatu informasi. Dia telan mentah-mentah lalu dia sebarkan. Itu adalah ciri khas guru yang memiliki schemata minim alias tingkat literasinya rendah. Seorang teman biasa menyebut dengan satir bahwa guru model beginian ini adalah guru “kurang piknik”. Kalau tingkat literasi guru rendah dan mereka dipercaya untuk mengajar generasi muda kita, entah petaka apa yang akan terjadi kelak.

Saya yakin tidak sedikit guru kita yang mindsetnya persis seperti milik guru muda tersebut. Konon begitulah jalan pikiran para guru yang sudah terlalu lama dibiarkan menikmati zona nyaman mereka. Kalau boleh saya, mohon maaf, “misuh”, saya mungkin akan mengeluarkan sumpah serapah dan mengutuk guru-guru model beginian. Sungguh T H E R L A L U . . . !!! Betapa masa depan bangsa ini akan luluh lantak jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut. Betapa Indonesia Emas itu akan jadi cerita isapan jempol tanpa realita jika terus menerus anak- anak kita dididik dan dibesarkan oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai guru dan senantiasa menagih kesejahteraan kepada negara namun membiarkan segala macam “sampah” dan “kotoran” informasi memenuhi isi batok kepala mereka sehingga “sampah” dan “kotoran” itulah yang dituangkan ke dalam otak para anak didiknya.

Guru model beginian mungkin akan cepat puas diri dan bahkan merasa bangga jika ada anak didiknya yang di kemudian hari bisa bekerja di luar negeri, walaupun sebagai buruh pabrik atau bahkan menjadi para “babu” sekalipun! Tidak ada sedikitpun terbersit jiwa besar dan cita-cita tinggi dalam pikiran mereka untuk menjadikan anak-anak didiknya sebagai generasi superior kelas dunia di masa depan. Sungguh ironis jika ada seseorang yang menjadi guru tetapi tidak suka belajar, tingkat literasinya rendah, pikirannya dangkal, gampang gagal paham,  dan bermental egois. Yang dia pikir adalah perut sendiri dan keluarga. Tidak ada pikiran sedikitpun tentang masa depan bangsa. Idealisme sebagai pendidik hilang, dan pragmatisme memegang tali kekang. Asal sudah sejahtera, mendapat tunjangan sertifikasi, punya rumah bagus, punya mobil pribadi, anak-anak kuliah di Universitas ternama, lalu mereka bekerja menjadi PNS atau pegawai BUMN meski mungkin dengan lobi sana-sini, maka itulah rejeki yang barokah. Maka itulah kesuksesan hidup dan kepuasan! Bagi guru semacam ini, dia tidak peduli muridnya nanti akan menjadi apa, mau jadi sampah ataukah jadi mutiara itu bukan urusan mereka karena egoismenya sudah terpenuhi dengan menjadi sejahtera. Dan guru model beginian inilah yang nantinya akan mudah diracuni pikirannya lalu menyebarkan informasi bahwa IGI ITU BERHALAUAN KIRI! Bahwa IGI itu senafas dan sedarah dengan PKI! Naidzubillahi mindzalik!!!

Semoga para guru yang bergabung dan bergerak di IGI dihindarkan dari kerendahan budi, dangkalnya pikiran, kemalasan belajar, mentalitas pragmatis, egoisme, dan cepat puas diri.  Kita yakin di manapun jamannya maka akan selalu ada penentangan terhadap kebenaran dan pembelaan terhadap kebatilan. Itulah tantangan perjuangan. Itulah bunga-bunga pergerakan. Maka wahai para GURU IGI, bersiaplah menghadapi semua itu dengan kegigihan dan ketulusan sejati para tokoh pergerakan yang akan membawa Indonesia kepada jaman keemasannya. Percayalah, jika perjuangan kita berhasil kelak, tinta emas sejarah akan mencatat bahwa munculnya Indonesia dengan jaman keemasannya tidak lepas dari peran besar para guru IGI yang terus bergerak, berjuang, dan menanam untuk perubahan besar di masa depan.

Salam Pergerakan Pendidikan!
Mampuono R. Tomoredjo

Sekjen IGI

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here