Garuda, Bawalah Daku dan IGI Terbang Tinggi

0
1887
Bersama fasilitator Penulisan Buku, Pak Slamet Riyanto. (Yulismar, berkerudung hitam).

Oleh: Yulismar, M.Pd. – Pekanbaru, Riau

Kenalkan, namaku Yulismar. Tahu gak mengapa namaku Yulismar. Kata Ibuku wajahku sangat mirip dengan tetangga kami yang berkewarganegaraan Jepang yang bernama Yulismar. Meskipun bulan kelahiranku bukan Juli, tapi ibuku tetap saja kukuh, bahwa namaku harus Yulismar. Hahahaha, apa sih hubungannya namaku dengan cerita yang akan kutulis? Ada, mungkin karena memakai nama orang jepang itulah aku tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Jangankan untuk sesuatu yang sulit, pencabutan undian dari kupon gerak jalan santai pun aku tak pernah dapat. Meskipun hadiah yang disediakan panitia sangat banyak.
Begitu juga dengan pelatihan ini. Semua orang di grup ini pasti tahu, bahwa aku adalah peserta MANDIRI, apa-apa kubayar sendiri. Xixixixixix. (kecuali pada orang yang enggak tahu, aku katakan bahwa keberangkatanku semua difasilitasi oleh GARUDA, SAMSUNG, IGI, SERTA KEMENDIKBUD, agar mereka termotivasi, hehehe sekaligus nutup malu, malu karena gak lolos seleksi, sssssstttttt jangan beritahu siapa-siapa ya) Kami dari Riau yang lolos seleksi hanya 2 orang, Bu Deltania dan Pak Tri. Keterpilihan kedua sahabatku itu memang suatu yang tepat. Mereka guru-guru hebat. Saat tak ada namaku pada daftar nama peserta TOT, aku tak bersedih. Aku tahu bahwa aku memang belum layak untuk mengikuti TOT itu. Tapi itulah IGI, meski tidak terpilih kami masih tetap diberi kesempatan untuk mengikuti TOT ini dengan cara MANDIRI. Bu Deltania memberiku semangat agar aku ikut sebagai peserta MANDIRI. Aku masih ragu karena kalau ikut sebagai peserta MANDIRI, tentu aku harus memikirkan dana yang akan kukeluarkan, padahal saat itu adalah saat di mana aku sangat memerlukan dana untuk keperluan kuliah anak-anakku. Tapi syukurlah, Kepala Sekolahku pemimpin yang visioner. Kuceritakan pada beliau dan beliau ikut mendorong semangatku dan membantu pendanaan. Satu masalah selesai.
Masuknya kedua temanku ke dalam 40 nama peserta TOT itu artinya mereka mendapatkan Garuda Miles, sedangkan aku harus naik pesawat lain. Bu Deltania mengusahakan agar aku bisa naik garuda bersama mereka. Usaha dari Bu Deltania berhasil dan panitia berusaha agar aku bisa barengan dengan Bu Nia dengan catatan aku harus bayar. Tapi sayang, Bu Deltania tidak bisa berangkat karena ada sesuatu hal yang tak bisa ditinggalkan. Memang sangat disayangkan. Tapi apa boleh buat, semua itu pasti sudah diatur oleh Sang Penentu.
Setelah kutahu Bu Deltania tidak jadi berangkat, pertama aku berpikir kalau Bu Deltania tidak berangkat itu artinya semua fasilitas yang ditujukan atas nama Bu Deltania bisa dipindahkan dong kepadaku. Hehehehe ternyata itu hanya mimpi. Tidak ada yang namanya pengalihan, begitu isi telegram dari Ketum yang sampai kepadaku. Benarkan, kalau nama orang jepang yang diberikan Ibuku itu membuat aku gak mudah mendapatkan sesuatu?
Hehehe, gaklah, itu hanya guyonanku saja. Justru dengan begitu sifat-sifatku seperti perempuan jepang, perempuan yang kuat, perempuan yang tidak mudah menyerah, perempuan yang tetap tersenyum dalam gelisah.
Oya, dalam hati, aku sudah membayangkan akan bisa naik GARUDA, karena dari pengalamanku selama bepergian dengan pesawat, GARUDA-lah yang paling nyaman. Namun apa daya, pikiranku untuk dapat naik GARUDA hanya tinggal dalam mimpi.
GARUDA adalah pesawat legendaris. Pertama aku tahu dengan pesawat, ya GARUDA. Amazing, ketika kutahu bahwa GARUDA akan menerbangkan 40 orang teman-temanku peserta TOT ke Surabaya dengan cuma-cuma. Tak terbayangkan perusahaan sekelas GARUDA memfasilitasi IGI yang organisasinya dari segi jumlah kalah dengan Organisasi Profesi “sebelah”, ck ck ck. Keuntungan finansial apa yang akan diperolehnya? Pertanyaan itu selalu muncul di benakku, apakah GARUDA gak rugi ya? Aku memang orang yang tak memahami seluk-beluk teori ekonomi. Aku tahu hanya keuntungan nominal apabila aku membeli 1 kg kertas bekas Rp 1000,00 dan menjualnya Rp 1600,00. Artinya aku beruntung Rp 600,00. Bila yang kujual ada 10 ton dikali Rp 600 x 6000. Hanya itu saja. Oya, selain sebagai guru, aku juga mengggeluti usaha jual beli kertas bekas untuk menambah isi kocekku. Hanya itulah pengetahuanku tentang ekonomi. Lalu apa yang membuat GARUDA mau bermitra dengan IGI? Ternyata aku baru tahu, di IGI bercokol guru-guru hebat dan guru-guru hebat ini harus difasilitasi agar lebih hebat lagi. Oya , meski tak bisa terbang bersama GARUDA, tapi tersimpan rasa bahagia melihat teman-temanku mempunyai kesempatan untuk terbang bersama GARUDA. Bukankah kebahagiaan mereka juga kebahagiaanku?
Bukankah orang yang merasakan kebahagiaan orang lain, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang sama?
Kali ini aku boleh gagal terbang bersamamu wahai GARUDA tapi, esok atau lusa ingat namaku harus kau tulis indah di dadamu seperti halnya namamu tertulis indah di dada IGI-ku. GARUDA, Aku adalah IGI, IGI adalah aku. Jika IGI terbang tinggi aku akan ikut melayang bersama. GARUDA, berikan aku kesempatan itu sembari kutata kemampuanku dan sembari kuasah keterampilanku. GARUDA kau ada di DADAKU. Salam.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here