Berpikir Dan Berjiwa Besarlah Wahai IGI-ers

(Sesi Menemu Baling, menulis dengan mulut, membaca dengan telinga, saat hujan dan kabut dalam perjalanan dari Semarang ke Salatiga di atas jalan tol Banyumanik-Ungaran, 23-01-2017, 15.15-15.30 WIB.)

0
711

Adalah David J. Schwartz, seorang penulis buku kenamaan sekaligus juga peneliti yang memiliki sebuah quote sebagai berikut:

“Believe something can be done. When you believe something can be done. Really believe! Your minf will find the way to do it. Believing a solution paves the way to solution”

Quote itu muncul di dalam salah satu bukunya yang berjudul “The Magic of Thinking Big”. Buku itu merupakan buku best seller dan diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa di seluruh dunia. Buku itu sangat menginspirasi. Tidak terhitung banyaknya orang-orang yang kemudian menjadi orang besar setelah terinspirasi oleh buku tersebut.

Ambil contoh artis kenamaan Agnes Monica dan komedian tersohor Tukul Arwana. Agnes Monica dulu adalah seorang pendatang baru di dunia hiburan. Ia memulai karirnya sebagai seorang presenter cilik yang unyu-unyu dengan ungkapan yang terkenal, ‘Kak Ferry. Kak Feri.” Kini dia sudah menjadi seorang artis besar yang bahkan sering terlibat dalam event-event kelas dunia.

Begitu halnya dengan Tukul Arwana. Mantan kernet ini dulunya hanyalah seorang anak desa yang lahir di Gunung Pati Semarang. Perjalanan hidupnya tidak terlalu mulus. Tetapi tampaknya ia adalah seorang komedian yang gigih sehingga pada akhirnya berhasil meraih karir cemerlang di dunia hiburan. Acara talkshow komedi yang selama bertahun-tahun Tukul Arwana menjadi hostnya adalah Empat Mata. Acara itu kemudian berganti nama menjadi Bukan Empat Mata karena sebuah kesembronoan yang dilakukan oleh tim kreatifnya. Karena mereka mengundang Sumanto sang pemakan mayat yang dianggap orang tidak waras sebagai narasumber, akhirnya KPI melarang penayangan acara tersebut. Tetapi lagi-lagi karena kegigihannya, acara yang sama masih tetap bisa tayang dengan judul lain yang membuat orang tersenyum simpul, Bukan Empat Mata!

Kedua orang ini hanyalah contoh kecil dari mereka-mereka yang kemudian menjadi orang-orang besar karena terinspirasi oleh buku dari David J. Schwartz tersebut. Penulis sendiri pernah membaca buku yang di desain seukuran novel kecil dan diterbitkan dalam bahasa indonesia tersebut. Judulnya Berpikir dan Berjiwa Besar. Harganya hanya kurang dari Rp50.000 dan kita dapat dengan mudah menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Di dalam buku itu David bercerita bahwa dia meneliti sejumlah pramuniaga di sebuah perusahaan. Rata-rata para pramuniaga tersebut memiliki omset sebesar 10.000 Poundsterling dalam 1 tahun. Tetapi ada satu pramuniaga yang ternyata omzetnya 50.000 Poundsterling setiap tahun. Ini tentu saja menggelitik dan membuat David melakukan penelitian lebih jauh.. Dia berusaha untuk mencari informasi apa istimewanya pramuniaga tersebut sehingga dia bisa memperoleh omset yang 5 kali lebih besar dari omset pramuniaga-pramuniaga yang lain.

Dari penyelidikan yang dia lakukan dia mendapati bahwa pramuniaga tersebut ternyata tingkat pendidikannya sama dengan pramuniaga yang lain. Waktu untuk bekerja dan masa cutinya juga kurang lebih sama dengan yang lain. Bahkan dia cenderung mengambil semua jatah cutinya dengan tertib sehingga jumlah hari kerjanya cenderung lebih sedikit dari yang tidak sempat cuti. Kesimpulan David adalah bahwa tidak ada yang berbeda secara signifikan antara cara kerja pramuniaga tersebut dengan para pramuniaga yang lain.

Ini tentu saja membuat David penasaran. Akhirnya dia menyempatkan diri untuk bertemu dengan pramuniaga tersebut dan mewawancarainya untuk mengetahui lebih jauh nengapa omzetnya selalu 5 kali lebih besar daripada omset yang lain. Dari wawancara tersebut akhirnya diketahui bahwa pramuniaga tersebut memiliki pikiran atau yang 5 kali lebih besar daripada pramuniaga-pramuniaga yang lain. Jadi besarnya pikiran berpengaruh pada hasil perolehan akhir.

Ini membuktikan bahwa pikiran memiliki peranan besar di dalam menentukan perjalanan nasib seseorang. Stephen R covey dalam bukunya yang berjudul “The Seven Habits of the Most Effective People” mengatakan bahwa ada kaitan erat antara paradigma berpikir, tindakan yang diambil, dan nasib yang dialami seseorang. Paradigma berpikir atau mindset akan mempengaruhi tindakan seseorang dan tindakan itu akan menentukan nasibnya di kemudian hari.

Contoh sederhana. Jika seseorang mengatakan omset 50.000 Poundsterling itu adalah angka yang terlalu besar atau tidak mungkin baginya, maka tindakan yang akan dilakukan adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan omset yang lebih kecil dari angka tersebut. Karena omsetnya kecil maka penghasilannya juga kecil, dan ini tentu saja mempengaruhi nasibnya yang akan bernasib menjadi orang kecil.

Jadi amatlah penting bagaimana kita mengendalikan pikiran kita. Jika yang kita pikirkan adalah hal-hal kecil maka tindakan kita juga sepadan dengan pikiran kecil kita. Endingnya nasib kita juga akan kecil. Sebaliknya jika kita berpikir dan berjiwa besar maka kita akan mencari cara agar hal-hal besar yang kita pikirkan terlaksana. Endingnya, nasib kita akan membawa kepada kehidupan sebagai orang besar.

Situasi ini sangat paralel dengan apa yang disampaikan oleh Nabi bahwa dalam sebuah Hadis Qudsi. Allah berkata dalam hadits tersebut, “Anaa idza dhonni abdi bi.” Artinya, Sesungguhnya Aku (Allah) ini seperti prasangka hamba-Ku.

Jika kita gali lebih jauh, Hadits Qudsi tersebut menerangkan bahwa yang akan terjadi pada diri kita adalah apa yang sudah kita prasangkakan. Jika kita berprasangka baik-baik (positive thinking) kepada Allah tentang apa yang akan berlaku kepada kita, maka itulah yang berlaku. Namun jika kita berprasangka buruk (negative thinking) kepada Allah tentang apa yang akan berlaku kepada kita, maka itulah yang kebanyakan terjadi.

Salah satu cara untuk berprasangka baik kepada Tuhan adalah dengan membesarkan pikiran. Misalnya sebagai seorang guru SMK, jangan cepat berbangga diri karena murid-murid yang dididik berhasil bekerja di manca negara. Meskipun dengan gaji mereka yang sekian kali lipat dari gaji gurunya mereka bisa menaik hajikan orang tua, membeli properti, atau bahkan membiayai sekolah adik-adiknya, namun itu baru awal perjuangan. Maka sebaiknya guru menunda dulu rasa bangga itu. Guru harus menanamkan jiwa dan pikiran besar kedalam diri sendiri. Lalu mereka harus membuka cakra murid-muridnya dan menanamkan pikiran dan jiwa besar kepada murid-murid tersebut. Biarlah saat awal mereka mungkin berangkat ke luar negeri dan menjalani hidup sebagai buruh, tetapi bukan selamanya. Ada waktunya di mana mereka harus berhenti,. Tetapi proses belajar seumur hidup jangan berhenti. Jika memungkinkan mereka yang hanya alumni SMK harus bersekolah lagi, dan pada waktunya mengambil giliran bukan sebagai buruh lagi tetapi sebagai orang-orang yang memiliki buruh.

Menjadi mantan buruh dengan pengalaman bekerja di luar negeri dan belajar tentang etos kerja dari bangsa-bangsa yang sudah maju tentu berbeda dengan mantan buruh biasa. Pengalaman tidak bisa dibeli, apalagi dengan polesan lifelong learning dan pikiran serta jiwa besar yang diinspirasikan oleh guru-guru hebat mereka. Perpaduan antara knowledge, skills, dan attitude yang tidak sembarangan tentunya akan menghasilkan pribadi-pribadi pilih tanding. Pribadi-pribadi itu unggul karena hasil besutan guru-guru unggul. Pribadi-pribadi hebat yang akan menghasilkan karya+karya hebat. Dengan kehebatan mereka, mereka akan menjadi pemimpin, members jalan rejeki bagi para pekerjanya, memgangkat martabat bangsanya, turut membuat negeri ini semakin gemah ripah loh jinawi, dan menciptakan ladang amal bagi kebajikan sesama. Jika sudah demikian bolehlah guru berbangga anak-anak didiknya.

Itu hanya sekelumit hal kecil tentang bagaimana kita berpraktik Berpikir Dan Berjiwa Besar dalam kehidupan sehari-hari. Yang jelas di dalam pikiran kita ada macan yang gagah perkasa. Di dalam jiwa kita ada seekor elang yang tangkas trengginas. Tetapi banyak dari kita yang membiarkan macan tersebut mengeong. Tidak sedikit dari kita yang abai sehingga elang tersebut hanya bisa berjalan kaki dan menciap seperti anak ayam.

Jika sudah begitu maka deluruh potensi besar kita terbengkalai karena mental block yang kita ciptakan sendiri. Mindset yang keliru justeru membuat diri yang seharusnya tumbuh dengan pikiran dan jiwa besar menjadi sebaliknya, mentalitas terancam tumbuh kecil dan ketdil. Salah berpikir akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang mengindari tantangan. Tanpa sadar akhirnya kita bisa terjebak dalam black hole mentality. Mentalitas lobang hitam yang menyedot energi positif siapa saja. Yang muncul dalam diri akhirnya adalah ahli komplain, penebar masalah tanpa solusi, anti perubahan kepada hal yang lebih baik, menjadi pengawal status quo, dan penikmat zona nyaman. Na’udzubillahi mindzalik! Semoga kita dan anak-anak didik kita serta seluruh bangsa kita terhindar dari hal-hal seperti itu. Amin.

Maka mari wahai para IGI-ers, mulai sekarang kita sadarkan dan kita bangunkan macan dan elang dalam pikiran dan jiwa kita. Jadikan macan itu selayaknya macan. Macan yang garang, yang siap menerkam dan menerjang setiap aral melintang, yang aumannya menggetarkan siapa saja yang mendengarkan. Jadikan elang dalam jiwa kita terbang tinggi ke angkasa, yang pekikannya melengking membahana, yang sanggup memandang luasnya penjuru dunia lebih dari yang lain, yang menundukkan musuh musuhnya dengan keperkasaan dan ketangkasan tiada tara. Mari kita memulai berpikir dan berjiwa besar dengan sungguh-sungguh membesarkan target dunia akhirat sebagai resolusi kita di tahun 2017 ini. Yang paling mudah, buatlah target minimal bisa Menemu Baling sebuah artikel setiap hari.

Selamat mencoba!
Mampuono
#menemubalinglah5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here