Jangan Biarkan Harimaumu Mengeong

(Sesi Menemu Baling di atas tol Ungaran -Bawen dalam perjalanan menuju Salatiga. 23-01-2017. 15.30-15.45)

0
1300

Beberapa waktu yang lalu penulis dimintai tolong untuk mengisi seminar tentang Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga dalam rangka mendukung gerakan literasi sekolah di SMA 3 Semarang. Peserta seminar adalah para guru dan pengurus OSIS SMA 3 Semarang serta para guru dan kepala sekolah undangan dari berbagai SMA di kota Semarang.

Dalam sebuah kesempatan di dalam seminar tersebut penulis bertanya kepada para siswa yang kebanyakan masih duduk di kelas 11 itu. Pertanyaannya adalah, setelah mereka selesai menamatkan studi di SMA 3 Semarang, perguruan tinggi mana yang akan mereka tuju untuk melanjutkan studi. Jawaban yang mereka berikan tepat seperti yang penulis duga.

Sebagian mereka menjawab akan meneruskan kuliah ke ITB, UGM, STAN, ITS, IPB dan Undip. Ketika penulis tanyakan, adakah di antara mereka yang ingin menjadi guru dan masuk ke Unnes, tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat tangan sebagai tanda setuju. Lalu penulis dengan tersenyum mengatakan bahwa itu adalah pengulangan sejarah.

Kira-kira 29 tahun yang lalu ketika penulis masih duduk di bangku SMA, semua teman penulis di SMA 3 Semarang pada tahun 1989 itu rata-rata ingin memasuki perguruan tinggi perguruan-tinggi ternama di Indonesia. Jikapun mereka anak guru, setelah masuk ke SMA yang termasuk rangking 10 besar nasional tersebut, mereka tidak mungkin mengikuti jejak profesi orang tuanya yang dianggap kurang menarik dari sisi ekonomi. Setahu penulis, dari 500 siswa lebih, hanya penulis yang memutuskan untuk kuliah di IKIP Negeri Semarang dan menjadi calon guru.

Sebetulnya kalau mau jujur, keputusan itu adalah sebuah keterpaksaan. Hal itu karena hasil tes IQ penulis untuk pengambilan jurusan di kelas tiga menyarankan supaya jurusan yang diambil oleh penulis adalah teknologi informasi sebagai pilihan pertama, setelah itu baru fisika dan kimia. Tidak ada satupun perguruan tinggi di Semarang yang memiliki jurusan tersebut. Jika ingin tetap kuliah di jurusan tersebut penulis harus hijrah ke Jogjakarta, Jakarta, atau Bandung. It’s really too high cost buat Emak yang kesehariannya hanya berkarir sebagai bakul di Pasar Waru Kaligawe. Emak yang seorang janda tidak sanggup membayar SPP jika penulis kuliah di kota lain.

Karena kondisi ekonomi orang tua, maka keputusan yang paling tepat adalah mengambil jurusan kimia di IKIP Negeri Semarang. Apalagi kakak penulis yang selama ini banyak membantu penulis untuk melanjutkan sekolah keputusannya juga sudah jelas, masuk IKIP Semarang atau tidak usah kuliah. Tidak ada jalan lain, supaya tetap bisa kuliah maka menjadi mahasiswa yang dianggap kelas dua di IKIP Semarang pun tidak apa-apalah. Qui sierra-sierra, everything will be will be, demikian kata pepatah. Apa yang akan terjadi maka terjadilah. Nasib sudah digariskan, dan jadilah penulis sebagai seorang guru pada akhirnya. Sebuah garis hidup yang perlu banyak disyukuri.

Kembali kepada dialog yang terjadi di dalam seminar tersebut. Yang penulis maksud sebagai pengulangan sejarah adalah, mayoritas siswa SMA 3 Semarang selalu berkecenderungan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dan itu terus berulang. Bahkan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Dunia yang sudah mengglobal seolah tak digubris. Mereka acuannya masih lokal. Ini yang harus dirubah karena sesungguhnya potensi mereka untuk bisa mengenyam pendidikan kelas dunia di manca negara sangat masuk akal.

Penulispun bertanya, apakah para siswa itu bisa berbahasa inggris dengan lancar. Jawabannya adalah bisa. Lalu penulis bertanya lagi, apakah mereka menguasai teknologi informasi. Sekali lagi jawabannya adalah iya. Mereka menguasai teknologi informasi bahkan sampai hal-hal yang terbaru yang paling mutakhir yang terus menerus bermunculan dalam ranah pengembangan IT.

Penulis bertanya lebih lanjut, apakah menurut mereka perguruan tinggi-perguruan tinggi yang akan mereka pilih untuk melanjutkan studi tersebut adalah yang paling hebat. Sekali lagi mereka mengiyakan. Maka kemudian penulis meminta para siswa untuk mencoba googling, berapa ranking global yang dimiliki oleh ITB sebagai contoh perguruan tinggi hebat yang mereka tunjuk. Dan jawabannya cukup mencengangkan mereka, karena level dunia ITB hanya menduduki peringkat 461.

Penulis pun memberi petuah kepada mereka yang penulis anggap sebagai adik sendiri. Bahwa jika mereka menguasai bahasa asing dan teknologi informasi, maka mereka berpotensi besar untuk bisa bersekolah di perguruan tinggi kelas dunia di luar negeri. Perguruan tinggi yang rankingnya bukan empat ratusan tapi mungkin yang di bawah 100-an bahkan rangking 10 besar tingkat dunia. Penulis menyebut beberapa perguruan tinggi ternama di tingkat dunia seperti Oxford University, Havard university, Monash University, Massachusetts Institute of Technology, UCLA, Tokyo University, Seoul University, Saudi University, Al-Azhar University, atau yang dekat di negara tetangga seperti National University of Singapore, dan lain-lain.

Jika mereka bersungguh-sungguh dan berani mbesarkan jiwa dan pikiran mereka. Berani membangunkan macan yang ada dalam dirinya. Melatih sang macan untuk mengaum dahsyat, menerkam mangsa, menakhlukkan seteru-seterunya, bukan lagi mengeong seperti kucing. Atau berani menerbangkan tinggi elang dalam jiwa mereka. Memekik membahana di angkasa, menundukkan musuh-musuhnya, bukan mecicip atau menciap seperti anak ayam. Itulah saatnya mereka memasuki level dunia dengan segala potensi yang dimilikinya. Pintu gerbangnya adalah perguruan tinggi-perguruan di kelas dunia yang menyediakan banyak beasiswa.

Singkirkan kaca mata kuda, dan lihatlah betapa luasnya dunia. Ibu Pertiwi menanti darma bakti anak-anak bangsa yang jiwa dan pikirannya seluas samudera. Mereka mengangguk-angguk. Semoga itu pertanda paham. Bukan pura-pura paham.

 

Salam harimau mengaum!!

Mampuono

#menemubalinglah5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here