BANGKIT BERSAMA IGI

0
590

Oleh: Musdalipah – Maros, Sulawesi Selatan

Mengawali tulisan ini saya sedikit ingin menggambarkan pemimpin IGI saat ini (Ketua Umum) Muhammad Ramli Rahim alias MRR. Jika pak Mampouno menggambarkan beliau sebagai duplikat dari sosok pahlawan yg saya lupa..? Saya menggambarkan beliau adalah duplikat Jendral Sudirman. JikaJendral Sudirman bergerilya untuk membakar semangat tentara, berjuang demi kemerdekaan. MRR bergerilya ke seluruh penjuru nusantara membakar semangat untuk kemerdekaan guru dalam berkarya di bawah naungan IGI. Jika Jendral Sudirman membawa merah putih, MRR membawa putih biru. Jikalau ada semboyang tentara lahir dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Maka IGI lahir dari guru, oleh guru dan untuk guru.

IGI hadir dengan kekiniannya, IGI datang menyadarkan guru untuk menjadi guru profesional , IGI lahir dengan kemadiriannya. IGI bergerak membuka wawasan dan membongkar penghalang jalan guru untuk maju. IGI datang memerdekakan guru, menjadikan guru melek teknologi dan pada ujungnya menjadikan guru mulia (mulia karena karyanya).

Saya berbahagia menjadi saksi sekaligus terlibat diperhelatan yang dilaksanakan IGI. Pertama, Kongres IGI II di Makassar. Kongres ini melibatkan lebih dari 1000 guru yang datang dari seluruh penjuru tanah air. Dengan program guru saudara semuanya tertampung tanpa dana bantuan APBD apalagi APBN (inilah bukti kemandirian IGI). Sebelum kongres dimulai, peserta sudah melakukan sidang virtual. Sidang ini tak butuh waktu banyak, tak butuh tempat dan tak butuh komsumsi. Kemudian ada Gerakan Bayar Balik, ungkapan terima kasih pada sekolah dan gerakan ini akhirnya diadaptasi oleh Dinas Pendidikan Prov. Sulsel.

Kedua, TOT literasi produktif berbasis IT yang digelar di Surabaya tanggal 6 s.d 9 oktober 2016. Awalnya, syarat ikut TOT adalah lolos seleksi KTI. Namun, karena banyak
peminat yang tak terjaring dan untuk mengakomodir mereka kemudian dibukalah jalur mandiri. Saya adalah peserta lewat jalur ini. Ini menggambarkan bahwa IGI memberi ruang untuk semua kawan-kawan guru untuk ikut berpartisipasi.

Yang paling mengesankan di IGI adalah semangat “sharing and growing together“. Ini yang eslama ini belum kita miliki. Banyak kawan-kawan guru memiliki akses mendapatkan ilmu, bahkan dibiayai oleh negara, akan tetapi ilmu itu mengendap pada dirinya sendiri, tidak ada keinginan untuk berbagi dengan yang lain, entah apa sebabnya. Di IGI berbeda semuanya, semangat saling berbagi terlihat jelas di TOT Surabaya.

Di TOT Surabaya banyak hal tidak lazim yang saya temui, ini jika dibandingkan dengan kegiatan pelatihan biasanya. Mulai dari pembukaan yang dibuat sederhana,  tidak mendatangkan pejabat, apalagi artis. Tak ada kertas, tak ada pulpen, tak ada laptop, tak ada flashdisc, yang ada hanya tablet. Setelah itu kami disuruh masuk kanal-kanal yang sudah ditentukan (kan aneh menurut saya). Jadwal kegiatan pun sangat padat, bayangkan saja mulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 24.00, tapi anehnya lagi tak ada peserta yg beranjak dari tempat duduknya, seolah-olah kami terhipnotis.

Saya masuk kanal Sagusanov yang dimentori oleh pak kholiq. Kanal ini sangat menarik, saking menariknya, sudah datang panggilan untuk panutupan tak ada yang peduli seruan tersebut. Semua masih sibuk dengan tabletnya, mengutak-atik rumusnya. Tidak cukup sampe disitu, sampai saat ini pun (sudah kembali ke rumah masing masing) pak kholiq masih harus melayani pertanyaan dari kami.

IGI kami tunggu inovasi berikutnya.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here