Walikota dukung Kegiatan IGI di Kota Bontang

0
721
Bu Rose bersama Walikota Bontang Neni M.

Bontang, Kaltim, 20/11/2016. Dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional, Ikatan Guru Indonesia Kota Bontang Kalimantan Timur mengadakan Seminar Nasional Pendidikan dengan tema “Guru Profesional Menuju Kota Bontang Cerdas (Smart City)”. Selain kegiatan seminar, momen ini dilanjutkkan dengan pelantikan pengurus IGI Bontang.

img_20161122_221429Kegiatan dibuka oleh walikota Bontang, Neni Moerniaeni. Hadir pada kegiatan ini bu Rusnanie, ketua harian PP IGI dan pak Abdul Karim, ketua bidang peningkatan mutu guru PP IGI yang sekaligus menjadi nara sumber seminar.

Berikut petikan isi sambutan dan materi dari tiga pembicara yang hadir:

 

1. DR. Rusnanie, M.Pd. (Ketua Harian PP IGI)

Guru harus selalu semangat, karena dia hadir di sekolah untuk memberi semangat belajar pada peserta didik. Bagi guru yang aktif di organisasi juga juga harus memiliki keseimbangan antara karir dan rumah tangga.

Penekanan lainya guru harus pintar akademik juga tetap pintar membentuk karakter anak, baik di rumah sebagai pemimpin keluarga ataupun di sekolah selaku Pendidik .

IGI Bontang harus bisa membangun sinergi dengan semua pihak terutama dengan pemerintah dan orprof lain untuk bersama mendukung kearah Pendidikan yang lebih baik..

IGI tidak menganjurkan demo, dalam kamus IGI tidak ada kata Demo tapi mengedepankan dialog kalau terjadi perbedaan pendapat . Setiap masalah pasti ada solusinya

2. Walikota Bontang (Neni Moerniaeni, S, POg.)

Guru sebagai “Agent of change” adalah yang paling berpeluang merubah bangsa ke depan, ketika Jepang dibom di Hirosima dan Nagasaki ,  kaisar Jepang bertanya “berapa jumlah guru yang tersisa?”

Guru adalah ujung tombak perubahan pola pikir, pola laku, dan pola sikap generasi. Apapun profesi orang diluar sana pastilah pernah dididik oleh seorang guru. Tanpa guru sulit dibayangkan negeri ini bisa berubah. Guru juga harus tetap belajar “keep learning and stay motivated”.

img_20161122_220954
Pelantikan pengurus IGI Kota Bontang

Pemanfaatan teknologi adalah suatu keharusan, karena pembelajaran harus authentic dan sesuai dengan kebutuhan jaman  dan tuntutan pasar.  Teknologi informasi tersebut sudah ada, kenapa tidak dimanfaatkan?

Semua kita adalah pahlawan yang diminta melanjutkan cita cita para pejuang terdahulu.

Senada dengan Bu Rusnani, Dia berpesan tdk usah demo-demoan kalau ada keluhan kita bicarakan Bersama melalui perwakilan.

Para guru juga harus tahu dan kita terbuka dengan keadaan defisit anggaran.APBD kita pernah mencapai 1,9 trilyun. Tp kini tinggal 796 Milyar. Walaupun program kita banyak kita akan melakukan penyesuaian postur anggaran namun tetap mengacu pada undang undang yang berlaku. Bu Walikota selalu  memperjuangkan perimbangan keuangan Kota Bontang dan pusat menjadi 70% daerah, 30% pusat,walaupun belum terealisasi.

Guru swasta tetap kita perjuangan dapat tambahan  1 juta/Bulan dalam 8 bln ke depan. Jadi tdk usah demo, biar di demo kalau ga ada uangnya ga bisa apa apa.

Tahap awal pasca migas, kita mesti berubah, untuk itu guru sebagai Agent of change harus kreatif menularkan ilmu ke muridnya. kita tidak bisa terus menerus mengandalkan SDA, tapi ke jasa. Contoh lah Singapore.

Menjadi guru professional yaitu jadi Agent perubahan,  nanti ada MEA 2017. Indek pembangunan manusia Kota Bontang rangking satu di kalimantan Timur. Namun penyalahgunaan Narkoba juga no. 2 Se-Kaltim, ini menjadi tugas kita bersama untuk menyelamatkan anak bangsa. Di bidang Pendidikan  Walikota membuat kebijakan Perwali dengan program Wajib belajar dari jam 19.00 -21.00.

Perda tentang kampung belajar dan kampung Literasi, semua itu untuk mewujudkan Kota Bontang menjadi Kota cerdas, hijau, dan kreatif.

3. Abdul Karim, M.Sc (Kabid Peningkatan Mutu Guru PP IGI /Master trainer Casio Jepang).

img_20161122_220902Visi paperless school, bahwa ke depan sekolah-sekolah di dorong untuk memanfaatkan perkembangan teknologi untuk pembelajaran. Sehingga beberapa perangkat dan alat pembelajaran yang selama ini digunakan bisa diganti dengan teknologi. Kapur, spidol, buku tulis, papan tulis, whiteboard, semua bisa diganti dengan tablet, komputer, LCD, telivisi dan perangkat teknologi lainnya. Sehingga kita tak perlu menebang pohon untuk membuat kertas.

Bahasa mengajar matematika saat ini terlalu dogmatis, sehingga menjadi masalah. Sudah saatnya mengajar matematika untuk berpikir,  karena dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah menggunakan sinus,  kosinus, tangen.

Kita tidak harus jadi ahli komputer untuk memanfaatkan teknologi yang ada. Teknologi di rancang users friendly. Jadi tinggal kemauan kita yang mau berubah atau tidak.

IGI bekerja sama dengan Samsung dan Casio untuk menfasilitasi guru dengan tablet dan kalkukator yang sangat terjangkau bagi para guru.

Selanjutnya Pak Abdul Karim memperagakan beberapa kelebihan Samsung tablet A8 yang dapat digunakan guru untuk menunjang pembelajaran di sekolah.

#HGN #IGI

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here