Para Pendiri IGI harap Guru Terus Semangat dan Buat Keajaiban

0
425

Salah satu sesion dalam rangkaian acara Rakornas IGI tahun 2018 di Jakarta Convention Center adalah pandangan dari pinisepuh IGI. Pada sesi ini mereka diminta untuk memberikan komentar dan pandangannya tentang IGI saat ini.

Dalam pengantarnya, Muhammad Ramli Rahim sebagai Ketua Umum IGI berharap mendapat komentar dan masukan dari para sesepuh IGI, apakah jalannya IGI saat ini sudah sesuai dengan visi yang diharapkan oleh para pendiri. Sehingga pada Rakornas kali ini, secara internal IGI bisa melakukan introspeksi diri dan evaluasi serta ke depan dapat berbuat lebih baik lagi.

Hadir pada kesempatan ini Indra Djati Sidi, mantan dirjen di kemendikbud, Ahmad Rizali yang akrab disebut pak Nanang, Satria Dharma yang oleh guru-guru IGI disebut sebagai Bapak Literasi Indonesia, Sofyan Maulana Kosasih, Ahmad Sururi Aziz, serta Yuli Rahmawati. Masing-masing mereka menyampaikan komentarnya di dalam forum Rakornas.

Indra Djati Sidi, terlihat sangat bersemangat sekali ketika mengungkapkan perasaannya. Ia merasa bangga sekali dengan pergerakan IGI yang ada saat ini. Indra mengungkapkan bahwa dulu ketika dia menjadi bagian dari kemdikbud, sudah mendorong kemdikbud, P4TK dan LPMP untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia, khususnya peningkatan kompetensi guru, namun hasilnya masih terasa kurang. Hingga kini muncul gerakan IGI yang langsung aplikatif di lapangan mengajak dan memberi pelatihan bagi guru-guru di seluruh pelosok Indonesia dan itu yang diharapkan selama ini. “IGI adalah patner yang tepat. Bukan berbasis blokgreen atau proyek, tapi harus dilakukan dengan langkah nyata, “Delivery Praktis” itu kuncinya”, tambah Indra.

“IGI didirikan dengan semangat untuk membesarkan Indonesia. Karena itu sebagai guru, semangat dan karakter ini yang harus terus dibangun dan dikembangkan hingga ke ruang-ruang kelas”, harapnya.

Ahmad Rizali tak kalah semangatnya, dia mengungkapkan sejarah lahirnya IGI. Dari CBE sebagai forum diskusi para pemerhati dan praktisi pendidikan, berubah jadi Klub Guru Indonesia (KGI) hingga didaftarkan sebagai organisasi profesi guru bernama IGI. Semangat untuk perubahan pendidikan itu yang melandasi lahirnya IGI. Rizali berharap IGI punya standar, ciri, dan kualitas tertentu sehingga akan melahirkan “trust” kepercayaan dari berbagai pihak.

Pinisepuh ketiga yang menyampaikan komentarnya adalah Satria Dharma, mantan ketum IGI periode awal ketika bernama IGI. “Jika anda bertemu dengan orang yang tepat, maka anda kan dapat membuat keajaiban”, demikian ucapan pertama, pembuka sambutannya yang langsung disambut tepuk tangan forum Rakornas.

IGI sudah membuktikannya, ketika para guru berkumpul di IGI mereka saling berbagi ilmu bagaimana cara menulis dan menerbitkan buku, maka lahirlah ratusan buah buku yang ditulis oleh tangan-tangan guru sendiri. “Si guru pun rasa tak percaya bahwa ternyata ia bisa menulis dan menerbitkan bukunya sendiri, itulah keajaiban dimaksud”, jelasnya.

Satria yang biasa disebut kawan-kawannya sebagai orang yang suka “mengecat langit” ini juga mengungkapkan perasaannya. Dia tidak menyangka kalau IGI yang didirikannya dulu bersama rekan-rekan lainnya, kini sudah berkembang diluar ekspektasinya. Telah berdiri di 34 provinsi dan sudah tersebar di seluruh pelosok negeri.

Pembicara selanjutnya, Sofyan menceritakan keterlibatannya dalam kepengurusan awal IGI dan pergerakan IGI di awal-awal. Sururi juga menambahkan ceritanya tentang Kongres I IGI di Jakarta yang penuh perjuangan. “Hanya dengan semangat, IGI itu bisa tumbuh dan berkembang”, paparnya.

Terakhir Yuli Rahmawati menambahkan bahwa di periode awal ia adalah guru yang paling muda yang terus belajar dengan senior-seniornya. Yuli juga mengungkapkan bahwa masih ada beberapa pinisepuh dan pendiri lainnya yg blm bisa berhadir di forum tersebut seperti pak Gatot, pak Habe, serta bu Dedeh dan lainnya.

Sesi diakhiri dengan memberi kesempatan kepada Samsudin, seorang Wakil Bupati Indragiri Hilir terpilih dari Provinsi Riau, untuk berbicara kepada forum. Samsudin tidak secara kebetulan hadir di forum Rakornas, Ia membawa 12 guru dari kampungnya, berharap mendapat manfaat lebih dari kegiatan Rakornas ini. Kedua belas guru ini dibiayai olehnya sendiri tanpa mengambil anggaran APBN, dari transport serta biaya akomudasi mereka. “Saya sampaikan dengan adik-adik guru ini, silakan buat kegiatan dan akan saya dukung. Saya akan menjadi tulang punggung kalian, untuk peningkatan dan kemajuan pendidikan di Indragiri Hilir, Riau,” paparnya, disambut gemuruh tepuk tangan peserta rakornas.

Ref./foto: Halim

Comments

comments