Menyusur Gunung, Lewati Jurang, Melatih Guru-Guru Suku Terpencil Sulteng

0
958

Seumur hidupku baru kali ini merasakan sensasi naik motor memanjat gunung, melalui jalan setapak yang sangat licin. Hilang konsentrasi sedikit saja, jurang taruhannya. Hanya karena nyali yang dibesarkan dengan sesekali menutup mata menghindari ketakutan yang berlebihan, kulalui jalan setapak itu hingga sampai di tempat tujuan.

Motor yang saya boncengi langsung menuju ke sebuah Sekolah Dasar. Disinilah tempat ketua IGI Parimo mengabdi selama 11 tahun. Rasanya bagai mimpi bisa bertemu anak-anak primitif suku Lauje. Sebagian dari mereka pun belum beragama, mata pencaharian orang tuanya berladang ubi dan talas sebagai makanan pokoknya. Nasi merupakan makanan mewah bagi mereka meski tanpa lauk. Tidur mereka di gubuk yang amat memprihatinkan, tanpa penerang apalagi televisi.

Mungkin karena aktivitas malam terbatas sehingga menjadikan angka kelahiran di daerah ini sangat tinggi. Selain itu angka pernikahan dini di antara mereka juga tinggi. Bahkan anak-anak ini menikah secara adat sebelum tamat SD.

Suku Lauje, adalah suatu komunitas suku yang berada di kecamatan Tinombo dan teluk Tomini kabupaten Parigi Moutong provinsi Sulawesi Tengah Indonesia.

Terdapat 2 kelompok yang bernama “Lauje”, yang berdiam di daerah Tinombo disebut sebagai suku Lauje, sedangkan yang mendiami daerah teluk Tomini, disebut sebagai suku Suku Lauje Siavu. Tapi pada dasarnya kedua kelompok ini sama, hanya dibedakan oleh letak geografis saja.

Suku Lauje Siavu yang berdiam di pegunungan di sepanjang Teluk Tomini provinsi Sulawesi Tengah. Suku Lauje Siavu, terdiri dari 3 klan, dan terdiri dari 44 keluarga, dengan populasi 206 orang. Suku Lauje Siavu masih mempertahankan tata cara hidup sederhana, terpencil dan mempertahankan cara-cara kuno, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka..
Suku Lauje dengan embel-embel “siavu”, istilah siavu berarti “samar-samar”. Ini karena puncak pegunungan ini selalu diliputi kabut tebal, sulit terlihat. Istilah siavu identik dengan masyarakat yang tetap bertahan di dataran tinggi, tak terlihat dan terasing.

Sebagai pengurus IGI, ada yang amat membanggakan ketika melihat kawan-kawan guru disini. Mereka para guru honorer mendidik anak-anak dengan gaji seadanya. Mereka rela tidur di ruang guru yang berfungsi ganda, tempat tidur dan kantor guru. Mereka turun gunung hanya sekali seminggu dengan biaya ojek Rp 150.000 PP per orang.

Konon kata guru disini, anak-anak pernah disekolahkan setingkat SMA di lereng gunung, tapi sebagian tidak bertahan lama dan mereka kembali ke habitatnya. Bukan hanya suku Lauje, ada pula suku Wana di kabupaten lebih ekstrim dan lebih menarik katanya untuk dikunjungi.

Ini adalah Indonesia, masih ada dan masih banyak warganya diujung sana yang hidup pas-pasan. Sebagai guru, saya berkeyakinan bahwa hanya pendidikan yang bisa merubah nasib mereka. IGI akan terus berjuang menjadikan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Salam dari Anchi /pengurus pusat IGI
“dari atas pegunungan Parigi Moutong”

Comments

comments