MENYOAL BUDAYA LITERASI DAN SOLUSINYA

1
3196

Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk.

Fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret. Tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara.
Seorang kawan bertanya kepada saya, apa benar minat membaca dan menulis masyarakat khususnya pelajar saat ini rendah? Dengan semangat 45 saya dengan lantang mejawab, Betul. Jawaban saya tentu dari bebagai informasi dan referensi saya pernah saya baca, termasuk hasil penelitian terbaru tahun 2016. Fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Dari penelitian tersebut terungkap fakta kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara (www.jpnn.com, 13 April 2016).

Jawaban tersebut tentu tidak memuskan kawan saya tadi, dan dia langsung membatahnya dengan mengatakan “saya ragu bahkan tidak percaya data tersebut”. Saya terperanjat dan balik bertanya, “mengapa anda tidak percaya”? Dengan gamblang diapun menjelaskan kepada saya mengapa dia tidak yakin bahkan tidak percaya dengan argumentasi dan data yang saya sampaikan.

Cobalah amati kebiasaan hidup masyarakat di abad modern ini. Hampir semua punya gadget dengan fasilitas canggih. Mayoritas mereka menggunakan HP dengan OS android atau IOS, dll. Kalau diamati lebih seksama, perhatikan aktifitas yang mereka lakukan diantara waktu luang bahkan saat sibuk dengan gadget tersebut. Mereka membaca dan menulis. Ya, membaca dan menulis. Membaca apa? Melalui gadget mereka membaca dan menulis berbagai hal. Yang paling dominan adalah mereka membaca informasi atau status terbaru dari teman ataupun kolega mereka. Mereka juga rajin menulis. Setiap hari mereka menulis untuk update status melalui facebook, twitter, group-group WA, BBM, Line, Blog, dll. Apakah ini dianggap minat membaca dan menulis mereka rendah? Saya pun mengamini penjelasan kawan saya dan terjadilah proses diskusi yang panjang tanpa kesimpulan akhir.

Prolog dalam bentuk tanya jawab diatas mungkin ada benarnya. Hampir setiap hari kita mengamati masyarakat bergelut dengan HP, tablet dan komputer. Kita juga melihat aktifitas mereka bersama ‘teman sejati’ nya. Mereka sedang membaca melalui gadget (HP, tablet dan komputer). Jari-jarinya lincah diatas layar/keyboard menandakan bahwa mereka sedang menulis. Menulis status, menjawab pesan pesan pendek, atau sedang sibuk berdiskusi melalui group komunitas. Bahkan saat sedang menjalani kesibukan yang sangat penting, mereka masih sangat aktif membaca dan menulis melalui media-media tersebut. Saat belajar/kuliah, saat mendengar pengajian, saat makan, saat menontot, saat diskusi, dll. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki budaya baca dan tulis yang tinggi dan tidak kalah dengan negara-negera maju lainnya. Tapi, apakah itu parameter budaya baca tulis kita?

Menjawab pertanyaan tersebut, harus memerlukan referensi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebgaimana dikutip dari sumber terpecaya menjelaskan bahwa Reading is a complex cognitive process of decoding symbols in order to construct or derive meaning (reading comprehension). Reading is a means of language acquisition, communication, and of sharing information and ideas. Bahwa membaca adalah proses memahami simbol-simbol untuk membangun makna. Membaca sebagai media untuk berkomunikasi dan membagikan informasi dan ide. Sedangkan menulis adalah “a medium of human communication that represents language and emotion through the inscription or recording of signs and symbols. Penjelasan ini menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan sesungguhnya sudah membangun budaya baca tulis untuk kepentingan tertentu (literacy for specific purposes). Hanya saja proses membaca yang dilakukan baru sebatas membaca to get information, untuk mendapatkan informasi.

Secara keseluruhan, tujuan membaca itu terbagi kedalam 3 tujuan: 1) membaca untuk mendapatkan informasi, 2) membaca untuk hiburan, dan 3) membaca untuk membangun dan meningkatkan keilmuan. Ketiga tujuan membaca tersebut sangat ideal untuk dibudayakan. Namun tentu sebuah proses yang tidak mudah dan membutuhkan waktu panjang. Khusus untuk tujuan ketiga masih sangat jarang dilakukan, mengingat sifatnya yang terlalu serius dan hanya dilakukan jika sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah, tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi dan sejenisnya), dan atau tuntutan-tuntatan lain yang mengharuskan mereka membaca. Karena bahan bacaannya relatif berat, cendrung membosankan, dan bahkan memusingkan. Kriteria dari bacaan ini adalah membaca buku-buku sain, buku-buku sejarah, ekonomi, agama, dll.

Sedangkan membaca untuk tujuan mendapatkan informasi dan hiburan relatif disukai oleh mesyarakat, karena sifatnya yang informatif dan menghibur. Contohnya, membaca berita melalui koran, majalah, membaca pesan, caption sebuah foto/video, membaca komik, novel dan berbagai karya sastra lainnya. Fakta tersebut menunjukkan ‘tidak benar’ kalau budaya baca kita rendah, dan kurang beralasan kalau kebiasaan menulis bangsa kita buruk. Tapi kalau parameter budaya membaca adalah membaca buku, menulis buku, menulis dan membaca karya ilmiah, artikel, dan sejenisnya, maka data yang menunjukkan budaya literasi kita rendah mungkin ada benarnya.

Tentu membutuhkan waktu panjang untuk sampai pada suatu tingkatan negera berbudaya literasi tinggi sekelas negara-negara maju. Sarana dan prasarana juga memberikan andil yang tidak sedikit dalam ikut membudayakan literasi di masyarakat. Berapa banyak koleksi buku yang dimiliki perpustakaan saat? Bagaimana tingkat kenyamanan kantor perpustakaan? Apakah buku yang tersedia variatif dan menarik? Sejauh mana pemerintah peduli dengan keberadaan perustakaan sekolah mapun taman bacaan yang di masyarakat? Pertanyaan – pertanyaan tersebut harus dijawab terlebih dahulu sebelum menyimpulkan minat baca masyarakat kita rendah.

Selain itu, perlu juga dikaji bagaimana apresiasi pemerintah terhadap para penulis? Apakah menulis dapat menjadi profesi yang menjanjikan layaknya profesi-profesi lain? Bagaimana dengan budaya beli masyarakat terhadap karya tulis para penulis? Kalau penulis hanya mengandalkan royalti penerbit, sementara jumlah buku yang terjual sangat minim, apakah masih mau sibuk membuang waktu untuk berkarya tulis?

Inilah persoalan bangsa kita, yang juga persoalan kita bersama. Harus ada solusi-solusi yang revolusioner dilakukan pemerintah untuk mengejar ketertinggalan kita sebagaimana negara negara lainnya. Budaya baca dan tulis (baca literasi) kita hari ini walaupun masih melalui gadget harus diapresiasi. Inilah langkah awal untuk menjadikan bangsa kita negara ber-literasi tinggi. Pemerintah terus memprogram sekaligus menyediakan fasilitas yang memadai untuk terus membangun budaya budaya baca tulis dikalangan masyarakat.

Permendikud nomor 23 tahun 2015 yang mengharuskan para siswa membaca 15 menit sebelum memulai KBM adalah langkah revolusioner pemerintah untuk memulai kebiasaan membaca di kalangan siswa, sekaligus Penumbuhan Budi Pekerti (PBP). Gerakan ini diharapkan mampu memacu dan memicu kebiasaan membaca dikalangan pelajar. Berbagai gerakan literasi sedang dikembangkan oleh para penggiat literasi. Ikatan Guru Indonesia (IGI) misalnya sangat giat mengkampanyekan gerakan literasi sekolah, melalui berbagai kegiatannya. Beberapa kabupaten/kota di Indonesia sedang gencar menjadikan daerahnya sebagai daerah literasi. Bapusipda Jabar saat ini sedang bersinergi dengan penggiat literasi di Jawa Barat untuk mensukseskan program West Java Reading Chalenge (WJRC). Usaha-usaha tersebut harus diapresiasi sebagai satu langkah maju, sekaligus sebuah titik awal untuk mulai membangun budaya literasi di berbagai kalangan. Ikhtiar ini harus didukung oleh semua pihak, agar budaya literasi kita tidak hanya sebatas digital literacy untuk mendapatkan informasi dan hiburan semata, namun lebih dari itu agar dapat menumbuhkan budi pekerti dan meningkatkan mutu pendidikan melalui gerakan membaca dan menulisn (literasi).

Penulis adalah Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan Islam UIN Bandung, Ketua Prodi Tarbiyah STAI Syamsul ‘Ulum Gunungpuyuh Sukabumi, Wakil Ketua Umum PW NW Jawa Barat Ketua IGI Kab. Sukabumi, Ketua MGMP Bhs Inggris SMA Kab. Sukabumi

 

Comments

comments

1 KOMENTAR

  1. […] Fakta memprihatinkan terungkap dari pemeringkatan literasi internasional, Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret. Tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat ketinggalan. Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Cek : http://www.igi.or.id/menyoal-budaya-literasi-dan-solusinya.html […]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here