“Izakod Bekai, Izakod Kai (Satu Jiwa Satu Tujuan)”

1
655

“Izakod Bekai, Izakod Kai (Satu Jiwa Satu Tujuan)”

Alhamdulillah akhirnya saya berhasil melaksanakan misi saya utk mengkampanyekan budaya literasi pada para guru di Merauke kemarin. Dengan demikian target saya utk melakukan Safari Literasi dari Sabang sampai Merauke telah tercapai. Saya bahkan datang dua kali ke Sabang utk safari literasi dua tahun yang lalu dan kini sampai di Merauke. Sungguh lega rasanya…! I feel an exstacy…! 😃

Uniknya, para peserta yang mengikuti presentasi saya tentang Gerakan Literasi Sekolah kemarin mayoritas adalah para guru agama Islam dan Nasrani. Soalnya yang menyelenggarakannya adalah Kemenag Merauke dan kegiatannya dilaksanakan di aula kantor Kemenag Merauke. Oleh sebab itu pesertanya adalah para guru-guru agama dari semua agama yang ada di Kemenag Merauke. Saya sendiri disambut dengan baik oleh Kepala Dinas Kemenag Merauke, Bapak Gabriel Rettobyaan, yang tampak sangat berharap agar IGI bisa berdiri di Merauke. Saya memang menceritakan apa itu IGI dan apa yang dilakukan oleh IGI utk membangun kompetensi guru di seluruh Indonesia melalui berbagai pelatihan yang dirancang secara mandiri dari guru utk guru tersebut. Dan itu rupanya sangat menarik bagi beliau. Beliau merasa bahwa organisasi semacam IGI inilah yang beliau harapkan ada di Merauke.

Saya sendiri sebetulnya datang ke Merauke berkat bantuan Ibu Nurjanah, Kepala Pendidikan Islam, di Kemenag Merauke. Berkat bantuan beliaulah maka saya bisa melakukan safari literasi saya sampai ke Merauke ini. Kemarin kami bukan hanya melakukan seminar tentang budaya literasi tapi juga disambung dengan pelatihan “Mengajar Menulis bagi Siswa” dengan menggunakan buku Panduan Menulis bagi Siswa Tingkat Dasar. Jadi seminar di pagi hari disambung lagi dengan pelatihan menulis siang harinya sampai sore. Sebuah kegiatan yang cukup melelahkan bagi saya mengingat cuaca Merauke sedang panas dan aulanya tidak berAC. Meski demikian para peserta mengikuti dengan sangat antusias dan seolah tidak ingin berhenti. Mereka merasa sangat terbantu dengan teknik menulis yang saya berikan dan heran bahwa ternyata mereka mampu membuat tulisan dengan topik yang saya berikan dengan mudah. Hanya dalam waktu sekitar 10 menit mereka bisa dengan lancar membuat sebuah tulisan sebanyak 100 kata lebih. Sebuah potensi yang tidak mereka sadari sebelumnya. Setelah menyadari adanya potensi ini saya yakin mereka akan memiliki kepercayaan diri utk terus berlatih menulis dan pada suatu saat kelak akan mampu menghasilkan sebuah karya tulis mereka sendiri. Saat ini ratusan guru IGI yang telah berlatih baik di program SAGUSABU milik Media Guru mau pun SAGUSAKU milik IGI telah berlatih dan menghasilkan karya tulis mereka. Mereka telah berlomba-lomba utk menulis di media massa mau pun menerbitkan sendiri karya mereka baik secara bersama dalam bentuk antologi atau pun secara pribadi. Ini adalah sebuah perkembangan kapasitas guru yang sungguh menggembirakan dan membanggakan karena ide dan gagasan ini dibangun dan dikembangkan oleh para guru sendiri dan bukan atas instruksi atau petunjuk dari Kemendikbud atau Kemenag. Saya sangat bersyukur bahwa apa yang saya angan-angankan bertahun-tahun yang lalu utk dapat mengajak para guru agar menjadi pelaku perubahan (agent of change) bagi bangsa mulai tumbuh dan berkembang. Para guru mulai Sabang sampai Merauke kini mulai benar-benar bangkit karena tumbuhnya kepercayaaan diri mereka akan pentingnya tugas dan fungsi mereka sebagai pelaku perubahan. Mereka juga mulai sadar bahwa merekalah sesungguhnya pelaku perubahan yang diharapkan utk bangkit membangun bangsa dan bukan orang lain. Mereka juga mulai sadar bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan mereka mampu melakukannya bersama-sama di IGI dan komunitas guru lainnya.

Dengan selesainya safari literasi saya dari Sabang sampai Merauke ini saya merasa perlu utk kembali memikirkan dan merumuskan target saya pribadi dalam upaya membangun budaya literasi bangsa. Itu baru sebuah langkah awal yang perlu disusul dengan langkah-langkah lain demi terwujudnya cita-cita utk mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah digagas oleh para pendiri bangsa. 

Kemana pun saya pergi saya selalu bertemu dengan orang-orang yang memiliki kesamaan paham dan visi. Mereka juga optimis bahwa cita-cita ini memang harus kita rajut bersama. Orang-orang seperti inilah yang terus menerus memompakan semangatnya pada saya utk terus melangkah membangun nusa dan bangsa melalui pendidikan yang membebaskan dan mencerdaskan.

Tahun 2017 ini benar-benar menjanjikan kemajuan yang luar biasa bagi kita semua. Saya yakin bahwa kita memiliki optimisme dan harapan yang sama.

Merauke, 15 Februari 2017.

Satria Dharma

Ketua Dewan Etik Ikatan Guru Indonesia

Comments

comments

1 KOMENTAR

  1. Cara jemput bola adalah cara yang terbaik sebagai bentuk awal perbaikan kemajuan demi kemajuan bersama. Kadang-kadang sebuah potensi diri bisa tergerak setelah ada pendorongnya tak terkecuali pendorong external.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here