“HORMAT KAMI GURU HONORER, PEJUANG PENDIDIKAN”

0
35

Pahlawan tanpa jasa. Itulah gelar yang disematkan kepada setiap guru di Indonesia. Gelar itu bukan tanpa alasan. Sebab, hingga saat ini masih banyak guru honorer yang bertugas di daerah yang terpencil dengan tingkat kesejahteraan yang masih sangat rendah.

Salah satu guru honorer di daerah terpencil itu adalah bu Nur Meski berstatus sebagai guru pertama kalinya pada tahun 2015, baginya bukanlah suatu hal yang kedengarannya sangat lama. Karena masih banyak kawan-kawan guru honorer lainnya yang mengabdi sudah diatas 10 tahun.

Menjelang 5 tahun menjadi guru honorer di SMPN 33 SATAP BONTO, tepatnya di dusun matajang, Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, dia digaji 3.000 rupiah per jam. Setelah sebelumnya sejak awal menjadi guru honorer dia digaji 2.500 per jam. Namun bu Nur tetap mensyukuri dan menjalaninya.

Bukan hanya gaji yang minim, perjalanan menempuh sekolah tempat mengajar pun begitu sangat luar biasa. Jika cuaca mendukung, bu Nur bersama teman seprofesinya Wahyuni dan Sufria Ningsih memutuskan naik motor sampai sekolah.

Sebelum berangkat, bu Nur dan dua kawannya harus memeriksa motor mereka masing-masing terlebih dulu. Memastikan baut dan mur yang ada dimotor mereka betul-betul terpasang kuat. Karena sering kali terjadi baut yang ada pada motor kami terlepas sendiri, dikarenakan jalan yang begitu extrim dan menantang.

Batu gunung alias “batu pusing”, hutan, jurang, tanjakan, dan jembatan menjadi makanan sehari-hari yang harus mereka lalui. Tak kalah hebatnya jika sudah memasuki musim hujan, mereka harus melewati jalan yang berbeda lagi. Mereka menitipkan motornya di rumah warga. Kemudian memulai perjalanan berjalan kaki melewati pinggiran sungai, jembatan bambu yang kadang bambunya sudah rapuh dan tidak memiliki pegangan, pematang sawa, dan jembatan gantung.

Di perjalan inilah mereka sering mendapat musibah, kadang terjatuh di sawah. Bu Nur sendiri mengungkapka bahwa dia pernah mengalami musibah jatuh pada jembatan bambu dengan kedalaman 3 meter. Dibawahnya terdapat sungai dan bebatuan. Saat itu dia sempat tidak sadarkan diri beberapa menit karena benturan keras. “Waktu itu saya sempat berkata dalam hati apakah saya ini masih hidup atau sudah meninggal, dikarenakan ketika saya sadarkan diri penglihatan menjadi kabur. Tetapi alhamdulillah lama kelamaan penglihatan saya mulai membaik. Walaupun pinggang dan punggung saya begitu sakit akibat benturan keras. Untung saja waktu itu ada beberapa siswa saya yang membantu menolong saya.” Paparnya.

Sungguh pun demikian, mereka tetap menjalani profesi sebagai guru honorer dengan sabar. “Rasa lelah dan capek itu terbayarkan jika kami sudah sampai di sekolah dan bertemu dengan siswa siswa kami.” Ungkap bu Nur

“HORMAT KAMI GURU HONORER, PEJUANG PENDIDIKAN” … tutup bu .Nur mengakhiri ceritanya.

Comments

comments