FAKTA IGI-ERS SEBAGAI MINORITAS DAN KEBERANIAN BERTINDAK MERDEKA DI HARI KEMERDEKAAN GURU

0
213

FAKTA IGI-ERS SEBAGAI MINORITAS DAN KEBERANIAN BERTINDAK MERDEKA DI HARI KEMERDEKAAN GURU
#menemubaling
Oleh: Mampuono

Tanggal 26 november 2018 adalah hari lahir Ikatan Guru Indonesia ketika usianya menginjak tahun ke-9. Setelah sembilan tahun merdeka, ternyata itu belum menjadikan para guru Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang sering menyebut dirinya sebagai IGI-ers percaya diri bahwa dirinya sudah merdeka. Rasa inferioritas sebagai minoritas tampaknya masih menghantui pikiran para pengikut organisasi yang menyebut diri memiliki mental sharing and growing together ini. Terbukti dari lebih 59.343 guru yang sudah terdaftar sebagai anggota IGI ( www.anggota.igi.or.id ) hanya beberapa orang yang berani menampilkan diri untuk memakai seragam IGI dalam upacara kemerdekaannya (baca: HGN-Hari Guru Nasional).

Melihat foto-foto yang memperlihatkan seorang guru yang berdiri gagah dengan memakai seragam IGI ditengah-tengah ratusan guru lain yang memakai seragam organisasi lain tentu memunculkan makna tersendiri. Apresiasi setinggi-tingginya perlu disampaikan kepada para guru ini. Mereka tanpa ragu-ragu menunjukkan siapa jati dirinya.

Menukil apa yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan dalam sambutannya pada saat membuka kongres kedua Ikatan Guru Indonesia di Makassar pada tahun 2016, bahwa IGI disebut sebagai “You are small but you are Giant.” Seorang menteri memuji sebuah organisasi “kecil” dengan sebutan seperti itu bukan tanpa dasar. Realita memang menunjukkan bahwa walaupun jumlah anggota IGI sedikit tetapi rata-rata mereka adalah guru-guru “pilih tanding”. Mereka adalah para guru yang menempati derajat tertinggi, yaitu guru penggerak. Maka tidak mengherankan jika setelah berkiprah di IGI banyak hal-hal baru yang mereka ciptakan untuk peningkatan kompetensi dan menggerakkan guru-guru lain menguasai kompetensi tersebut dengan berbagi dan tumbuh bersama.

Namun ternyata sebutan tinggi dan pujian saja tidak cukup untuk menjadi bekal bagi para IGI-ers untuk menjadi percaya diri. Di luar sana, di dunia nyata, ternyata masih banyak onak dan duri. Perjuangan mereka untuk bisa benar-benar merdeka masih harus teruji. Konon tidak sedikit dari para IGI-ers yang harus menerima nasib pahit karena pilihannya bergabung dengan IGI. Perjuangan para IGI-ers itu lika likunya hampir sama dengan perjuangan para tokoh pergerakan kemerdekaan di masa sekitar 1908.

Jadi para IGI-ers di era milenial ini memiliki problematika yang mirip dengan apa yang dialami oleh dr. Sutomo, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantoro, HOS Cokroaminoto, H. Samanhudi dan lain-lain pada era pergerakan nasional. Jika para tokoh itu berhadapan dengan penjajah Belanda yang tidak ingin orang Indonesia menjadi pintar. Sebaliknya para IGI-ers harus berhadapan dengan pikirannya sendiri yang tidak merdeka dari dalam dan organisasi besar lain dari luar yang sepertinya enggan melihat guru pintar.

Biasanya munculnya organisasi profesi diikuti dengan tiga pilar yang lazim diperjuangkan, yaitu peningkatan kompetensi, peningkatan kesejahteraan, dan perlindungan hukum. Namun tidak begitu jelas, mengapa konon ada organisasi guru yang tidak menginginkan para guru meningkat kompetensinya dan menjadi pintar. Selentingan yang beredar menyatakan bahwa jika guru menjadi pintar mereka akan susah untuk diatur dan diarahkan, terutama pada saat terjadi kontestasi politik di mana dari situ para petinggi organisasi akan memperoleh jabatan tertentu.

Tampaknya sengkarut politik yang masuk ke dunia pendidikan telah mempengaruhi pemikiran sebagian oknum guru maupun non guru yang memegang tampuk pimpinan dalam sebuah organisasi yang menguasai banyak guru untuk mengambil untung. Ini pula yang menimbulkan kegemaran oknum-oknum itu untuk memanfaatkan pemikiran guru yang kurang independen agar bisa dipolitisasi. Isu yang paling mudah untuk digulirkan dalam mempengaruhi mereka adalah tentang kesejahteraan. Ibaratnya, janji-janji politik yang digandengkan dengan janji-janji peningkatan kesejahteraan akan menjadi gula yang sangat manis bagi semut-semut yang kelaparan.

Oleh karenanya sering di negeri ini muncul pemikiran yang terbalik-balik. Demi mendapatkan simpati dari para guru, dibuatlah cara agar profesi itu menjadi sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Lakukan rekrutmen sebanyak-banyaknya, masalah mutu nomor 2. Guru tidak perlu belajar lagi. Guru tidak perlu meneliti lagi. Guru tidak perlu bersusah payah melakukan pengembangan ke profesional berkelanjutan.guru tidak perlu peka terhadap perubahan besar seperti revolusi industri keempat yang sedang melanda zaman. Yang penting kesejahteraannya terjamin.

Masalah murid yang diluluskan mau menjadi apa, kualitasnya seperti apa, dan jika ke luar negeri akhirnya hanya laku di sektor sektor informal dengan menjadi pembantu rumah tangga atau buruh pabrik, itu tidak masalah. Target agar memperoleh simpati sebanyak-banyaknya dari para guru justru bagaimana caranya meninabobokan guru dalam zona nyaman. Mereka tidak berpikir bahwa cara-cara meraih simpati yang tidak terpuji seperti itu akhirnya membuat derajat dan martabat bangsa ini rendah di mata bangsa lain.

Semua itu juga tidak pernah dipikirkan oleh para guru jika sudah dilenakan. Mereka tidak memikirkan bahwa yang menjadi taruhan adalah generasi yang tidak terurus dengan baik ketika para gurunya terlena dan tidak berkualitas sehingga tidak bisa berhadapan dengan zaman.

Celakanya bukan hannya itu yang dilakukan untuk meraih tujuan. Munculnya pemikiran yang merdeka dan berpikir tidak tergantung kepada pihak lain akan berbahaya bagi kelangsungan politisasi terhadap guru. Oleh karenanya, siapa saja yang anti mainstream, berpikir merdeka, apalagi mendirikan organisasi lain yang jelas-jelas berbeda, mereka layak untuk di hakimi, dikucilkan, dianggap sebagai pemberontak dan harus dihukum. Itulah walaupun secara legal formal IGI adalah organisasi yang sah dimata hukum tetapi tetap saja banyak berita hoax yang mengatakan sebaliknya. Dan berita hoax itu sepertinya disampaikan secara terstruktur dari atas ke bawah.

Inilah yang kemudian membuat sebagian para IGI-ers kehilangan kepercayaan diri, introvert, galau, lalu mati gaya. Berikut ini sedikit fakta yang terungkap dalam chat sebuah grup tentang lemahnya rasa percaya diri di kalangan IGI-ers dalam berorganisasi

[26/11 20:10] Pengurus IGI: Hampir 90% Pengurus Wilayah dan Daerah di tempat saya merayakan HGN dengan Berbaju P**I. Saya yang satu2nya yang masih mempertahankan Baju kebanggaan saya IGI, walaupun saya masih pakai baju putih IGI bukan batik IGI. Saya khawatir akan IGI di tempat saya, jika seperti ini terus keadaannya. Pengurus Wilayah tempat saya yang sudah tidak aktif dan hampir semua pengurus Daerah sudah tidak bergeming lagi untuk IGI di tempat saya. Saya bangga melihat teman2 dari wilayah lain yang terus aktif, tetapi saya hanya guru honorer yang tidak bisa berbuat apa2 untuk Wilayah Sendiri. Dan terkadang ingin berbuat, malah disangka yang bukan-bukan. 😔 Alhasil Nihil
Semoga ada solusinya…

[27/11 08:33] Sekjen: Ketidakberanian seorang IGI-ers untuk memakai seragamnya sendiri di hari kemerdekaannya terkait erat dengan cara berpikirnya. Ketika seorang guru sudah memutuskan masuk sebagai anggota IGI, seharusnya dia bisa melepaskan diri dari kungkungan dependensi kepada pihak lain yang berlaku atas pemikiran-pemikirannya. Seorang guru IGI adalah guru yang merdeka.

Bagaimana mungkin seorang guru akan bisa menghasilkan generasi merdeka, cerdas dan berbudi sebagaimana dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional, generasi yang bisa duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah dengan generasi bangsa lain ketika yang mendidik dan mengajar mereka belum bisa melepaskan diri dari kungkungan itu? Karena kondisi pemikirannya tidak independen, guru terlalu gamang untuk mengambil keputusan, ragu untuk berpikir kritis dan inovatif, bahkan berhenti mencari solusi terhadap permasalahan permasalahannya sendiri yang dihadapi setiap hari.

Naasnya, kecenderungan guru yang sulit untuk melepaskan diri dari kungkungan pemikiran yang memiliki dependensi tinggi terhadap pihak lain menyebabkan pihak-pihak yang tahu permasalahan ini mengambil untung. Salah satunya adalah politisasi terhadap kesejahteraan guru sebagaimana didiskusikan oleh ketua umum IGI tadi malam di CNN bersama perwakilan tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga ( https://www.youtube.com/watch?v=5X6BADTWl0A ).

Masih lekatnya pola-pola pikir tidak independen di benak seorang guru bukan tanpa sebab. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi itu semua, yaitu faktor internal dan eksternal. Berikut sedikit kupasan tentang dua faktor tersebut:

1. Faktor Internal : Seorang IGIers tidak percaya diri, bahkan takut memakai seragam organisasinya ketika upacara hari kemerdekaannya ini berkait erat dengan kondisi kejiwaan dan pola pikirnya. Ia biasanya bermasalah dengan kecilnya nyali, tidak percaya diri, takut ancaman, takut dipindah tugaskan, takut dikucilkan, takut IGI ilegal beneran, takut pengurus IGI lain tak solider, takut tidak bisa membela diri, takut susah mencari advokasi, bahkan sampai takut Tuhan tidak berkuasa lagi karena di dalam pikirannya yang maha berkuasa adalah organisasi tertentu dengan kekuatan para penggedenya, dll.

2. Faktor Eksternal
Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak kepengurusan IGI yang sudah terbentuk kemudian mati suri ataupun bubar jalan karena faktor eksternal. Adanya ancaman persekusi, dikeluarkan dari profesi guru, dipindah tugaskan ke tempat terpencil, diturunkan dari jabatannya, diancam tidak bisa naik pangkat, didatangkan preman bayaran untuk menyatroni rumah, diolok olok dan dikucilkan karena berbeda, dilarang menjadi pintar, dan lain-lain. dan pelakunya justru oleh sesama guru yang katanya ingin memajukan negeri ini. Namun karena pemikirannya diliputi oleh siasat politik dan ketakutan ketakutan tidak beralasan, akhirnya dengan berkedok pada kekuatan jabatan struktural yang sekaligus merangkap sebagai pimpinan organisasi guru maka mereka bersikap sebagai para tiran yang dianggap diri sebagai yang maha kuasa. Guru mendholimi guru yang lain supaya tidak maju dan menghalangi langkah mereka untuk menjadi pintar dengan belajar lagi.

Solusi :
Tidak ada masalah yang tanpa solusi. Ikatan Guru Indonesia sudah terbukti bergerak tanpa iuran. Jika organisasi yang lain mengatakan mereka akan mati tanpa iuran, Ikatan Guru Indonesia justru sebaliknya. Dengan semangat sharing and growing together, fakta telah membuktikan bahwa dalam waktu kurang dari 10 tahun organisasi yang hanya menghendaki Rp. 50.000 perak dari anggotanya itu kini telah menjadi besar besar dan berada di seluruh wilayah indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa peran besar seorang Muhammad Ramli Rahim yang menjadi pimpinan IGI periode ini telah menjadi energi besar yang membuat organisasi kita bergerak jauh lebih maju. Dengan dibantu oleh “kabinetnya” yang bekerja pada periode tahun 2016 sampai 2021, kemampuannya dalam mengkoordinir IGI dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk membuat perubahan agar kompetensi guru meningkat pesat dan ruang-ruang kelas menjadi lebih menyenangkan adalah fakta tidak terpungkiri.

Berbagai program baru terus digagas untuk diimplementasikan. Kemunculan kanal-kanal pelatihan, kerjasama dengan berbagai perusahaan penyedia CSR untuk peningkatan kompetensi guru, kolaborasi dengan event organizer internasional untuk penyelenggaraan pameran dan pemberian penghargaan, pengiriman pelatih ke seluruh pelosok Indonesia, dan lain-lain telah menjadi bukti bahwa sebagai organisasi profesi Ikatan Guru Indonesia sangat layak untuk dibanggakan. Terlebih lagi IGI bergerak tanpa mengandalkan suplai dana dari pemerintah baik APBD maupun APBN.

Hampir di setiap perhelatan kompetisi guru yang berlangsung dari daerah sampai tingkat nasional, bahkan internasional, guru-guru IGI sering menorehkan prestasi. Mereka yang berprestasi kemudian tidak segan-segan untuk saling berbagi dan tumbuh bersama. Jadi tidak ada alasan untuk tidak percaya diri menjadi anggota Ikatan Guru Indonesia dan memakai seragamnya pada saat upacara Hari Guru Nasional.

Untuk itu sebagai solusi terhadap keberadaan faktor internal dan eksternal yang menjadi hambatan seseorang untuk menjadi percaya diri dalam berorganisasi bersama IGI, sembilan tips berikut ini mungkin bisa sangat berguna.

1. Sering-seringlah hadir dalam pertemuan terprogram untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi organisasi. Jika terhambat oleh ruang dan waktu, pertemuan-pertemuan secara virtual juga bisa menjadi alternatif. Tentu saja pertemuan offline harus tetap dilakukan karena sifat yang dimilikinya berbeda dengan yang virtual.

2. Jika berkumpul dengan sesama pengurus dan IGI-ers yang lain jangan pernah tidak memakai seragam organisasi. IGI memiliki dua jenis seragam, yaitu seragam putih dan seragam batik. Dress code bisa diatur sesuai kesepakatan, kapan harus memakai seragam putih kapan harus memakai seragam batik. Berkumpul dengan komunitas seide dengan menggunakan atributnya akan meningkatkan rasa percaya diri terhadap organisasi.

3. Sering-seringlah membuka dua website dan blog-blog IGI. Dua website tersebut adalah www.igi.org dan www.anggota.igi.or.id. Sementara blog IGI dapat dibuka di https://blog.igi.or.id/
Blog IGI | Blognya Guru Indonesia
berbagai macam informasi terbaru dapat di akses disini sehingga seseorang yg IGI-ers tidak akan ketinggalan info. Dan itu akan menambah rasa percaya dirinya.

4. Sebagai seorang guru IGI-ers, biasakan untuk meletakkan pikiran pada tataran ide-ide. Cobalah berhenti sejenak lalu berpikir tentang berbagai masalah yang ada di sekeliling. Pikirkan bagaimana solusinya. Dan Anda adalah bagian dari solusi itu karena guru IGI-ers adalah guru penggerak. Buatlah kegiatan yang bersifat solutif tersebut sebagai gerakan peningkatan kegiatankompetensi secara intensif.

5. Tiada hari tanpa prestasi. minimal seorang IGI-ers harus memiliki track record hari ini lebih baik dari kemarin. IGI dikenal sebagai gudangnya orang-orang berprestasi, maka buatlah prestasi-prestasi. Caranya sederhana, mulailah bergaul dengan orang-orang berprestasi di IGI. Amati tiru dan modifikasi. Akhiri dengan prestasi Anda sendiri.

6 Kuasai media. Barang siapa menguasai media dia akan mengendalikan pikiran publik. Ketua umum IGI selalu mengingatkan supaya setiap IGI-ers selalu meninggalkan jejak digital setiap kali bergerak. Caranya dengan menginfokan setiap kegiatan positif yang sudah dilakukan kepada awak awak media yang kontak personnya bisa ditanyakan kepada pengurus Pusat. Selain itu, jangan lupa menuliskan apa yang sudah dilakukan dalang media sosial maupun blog pribadi. semakin banyak berita kegiatan kita yang beredar di internet semakin kenal publik terhadap kita dengan track record yang bagus.

7. Seringkali pikir berhadapan dengan penguasa yang juga penggede organisasi lain yang biasanya cenderung menindas dan mempersekusi. Lakukan komunikasi intensif kepada figur -figur yang disegani oleh para pejabat yang menguasai organisasi guru yang sedang berkuasa, misalnya KPK, Ombudsman, wartawan, Anggota Dewan, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

8. Yakini bahwa tidak ada guru yang benar-benar bengis. Sekejam kejamnya mereka biasanya hanya di mulut saja. Guru yang mengancam guru yang lain biasanya modalnya gertak sambal, untuk melawan gertak sambal cukup sediakan nyali yang tinggi dan air putih secukupnya.

9. Dan terakhir, yakini bahwa Tuhanlah yang maha kuasa, jika ada sesama guru yang mendholimi guru yang lain, maka mereka akan mendapatkan balasnya. Manusia berusaha Allah yang menentukan. Maka berdoalah dan gantungkan sesuatu kepada Tuhan sehingga keputusan anda untuk memilih ikatan guru Indonesia adalah keputusan baik yang diridhoi Tuhan. Artinya anda sedang menyiapkan perubahan agar generasi bangsa ini menjadi generasi baldatun toyyibatun wa robbun Ghofur yang dicita-citakan.

Demikian sembilan tips yang dapat dijadikan referensi bagi para IGI-ers yang masih mengalami sindrom Andilau atau antara dilema dan galau ketika harus menunjukkan jati diri sebagai IGI-ers sejati. Semoga menginspirasi.

Salam guru merdeka!😙💪

Sekjen IGI

Mampuono

__________________________________
27 November 2018 17.21 WIB Ditulis dengan metode Menemu Baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga, menggunakan aplikasi Batu Asimtut

Comments

comments

BAGIKAN
Artikulli paraprakSadar 76: Pesan Artistik
Artikulli tjetërGuru Hebat itu Menulis tanpa Batas
Guru di Kalimantan Selatan, saat ini menjabat sebagai Wakil Sekjen Bidang Literasi dan Publikasi Karya Guru