BERUBAH ATAU DIPAKSA BERUBAH

0
674
Foto bersama Peserta Kanal Penulisan Buku

Oleh Abdul Hadi – Kalsel

Sudah menjadi kebiasaan dan tradisi, hampir setiap hari saya harus “mengamen” dari satu lembaga ke lembaga lainnya. Rutinitas ini berjalan lebih puluhan tahun, sampai-sampai seorang teman berkata; sayangi fisikmu sebab ada saatnya ia harus istirahat, namun itulah rutinitas. Walaupun saat ini sudah membatasi dan menyederhanakan jarak dan ruang hingga masih terbuka kesempattan untuk istirahat.

Sepulang dari Training of trainer (ToT) di surabaya tanggal 6 – 9 oktobet 2016, tepatnya senin pagi saya full mengajar dari banjarmasin – martapura sehingga kembali ke rumah sekitar jam 20.00 malam. Di sela-sela waktu istirahat, saya mengeluarkan tab untuk melihat info dari group IGI dan group lainnya. Melihat saya mengeluarkan tablet A8, anak bungsu saya yang masih duduk di kelas 3 SD seraya memohon untuk meminjam tab tersebut. Pada awalnya saya ragu apakah dia bisa mengoperasikan tab itu, dengan sedikit berat hati saya berikan dan mulailah tangan mungil dan halus itu membuka bebetapa fitur yang ada di dalam tab itu. Hampir semua fitur dibukanya dan sampailah pada comic strip, dia kemudian berhenti dan lebih serius mengutak-atiknya dan beberapa saat kemudian ia memperlihatkam gambar hasil kerjanya. Padahal comic strip itu baru baginya.

Ketika melihat aktivitas anak SD seperti itu, muncul pertanyaan di benak saya. Apakah gurunya mampu mengoperasikan tekhnologi seperti muridnya? Jangan-jangan guru hanya pandai mengirim dan membuka sms atau hanya sekedar bisa menelpon. Kalau itu terjadi.. betapa kita harus merenung dan bergerak untuk memperbaiki diri guna tampil sebagai pioner yang bisa memberikan kepuasan keilmuan dan pengetahuan kepada siswa. Jangan sampai keraguan bisa berubah menjadikan tidak berbuat apa-apa, sebab jika itu dilakukan, maka kita akan termarginalkan, baik secara langsung atau tidak langsung.

Ada banyak hal yang menyebabkan kita dipaksa untuk berubah. Misalnya ketika ada peraturan guru minimal S1, maka banyak guru yang selama ini terlena dengan pekerjaan dan gaji tetap, kemudian harus kembali menjalani sisi-sisi lorong kampus yang selama ini tidak pernah menjadi perhatian. Sistem komputerisasi dan online dalam pengisian data guru, menuntut keterampilan bagi guru dalam mengoperasikan media tersebut. Saat ini yang juga cukup “meresahkan” bagi guru adalah menulis, karena untuk naik pangkat harus penelitian dan membuat karya tulis ilmiah.

Untuk menjawab persoalan demi persoalan trsebut, maka IKATAN GURU INDONESIA (IGI) “menghibahkan” segenal usaha dan kreativitas lembaga untuk kepentingan peningkatan mutu guru. Bahkan dengan tidak menarik iuran dan apapun jenisnya demi kepentingan dan peningkatan kualitas guru. Salah satu yang dilakukan IGI adalah memfasilitasi guru melalui saluran yang disediakan, seperti: buku, jurnal penelitian, bimbingan teknis sampai pada penyediaan fasilitas dan media peningkatan mutu.

Sebagian lain yang dilakukan IGI adalah menyiapkan trainer-trainer berkualitas dans siap berkeliling Indonesia untuk memberikan pelayanan dan berbagi, guru-guru terbaik akan menularkan pengetahuannya sehingga tercipta trainer-trainer baru yang menjadi perpanjangan tangan bagi pengembangan kualitas guru di daerah dan wilayah masing-masing.

Realitas inilah yang kemudian menuntut semua orang untuk berubah atau dipaksa berubah, sebab kalau tidak maka dia hanya menjadi memori kelam dan akan dicatat dalam kepingan sejarah.

SALAM PERJUANGAN UNTUK GURU-GURU TERHEBAT

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here