ASYIKNYA MENEMU BALING, AKHIRNYA KETEMU JUGA…

0
499

Oleh: Mampuono
#menemubaling

“Jakarta oh Jakarta, aku kan kembali,”  saya berbisik  lirih pada diri sendiri. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Jakarta.   Karena tugas pengabdian untuk IGI yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain akhirnya saya  kembali hadir di kota megapolitan itu.  Jakarta yang terlalu pesat  kemajuannya  betul-betul membuat saya iri. Kota besar manapun di Indonesia tidak bakal bisa menandinginya, bahkan dalam kurun 10 dasawarsa ke depan jika tingkat perekonomian dan pembangunan Indonesia masih tetap seperti sekarang ini. Terlalu banyak gedung pencakar langit, terlalu banyak kawasan real estate elit, terlalu banyak kota-kota satelit, terlalu banyak kawasan reklamasi milik orang berduit,  dan terlalu banyak  kawasan bertaraf internasional yang menyedot bagaikan magnit, menarik pengunjung dari mancanegara yang sebagian besar bermata sipit. Meskipun masih saja terdapat kawasan-kawasan yang kumuh dan padat penduduk.  Jakarta tidak bakal terkejar pembangunannya oleh kota lain yang kini semakin jauh tertinggal. Bagi saya Jakarta adalah negara lain  yang sama sekali berbeda dengan ibukota-ibukota provinsi di seluruh Indonesia yang pernah saya kunjungi. Meski begitu, hati ini masih tetap berharap suatu ketika semua ibukota provinsi di negara ini akan bisa semaju Jakarta, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengannya.

Pengendara angkutan umum berbasis aplikasi dengan jaket hijau yang saya dapatkan dengan susah payah itu akhirnya berhasil mengantarkan saya ke tempat tujuan. Jarum  pada alroji tua hadiah yang sudah 7 tahun melingkar di pergelangan tangan kiri saya menunjuk pukul 10.00 WIB. Suasana masih agak lengang ketika saya tiba di Plasa Insan Berprestasi di  Gedung A Kemendikbud Senayan.  Bahkan ruangan seminar yang panggungnya megah itu hanya berisi beberapa puluh orang. Sementara tampak di panggung ada empat narasumber yang terus bertalk-show tentang literasi. Semuanya wanita berpakaian mewah. Saya tidak terlalu tertarik karena yang dibicarakan hal-hal yang menurut saya tidak ada yang terlalu istimewa. Maka setelah saya duduk sebentar karena ingin tahu sekilas tentang materi mereka, saya bergegas pergi ke  ruang pameran yang terletak di sisi kiri plasa tersebut.

Dengan rasa ingin tahu saya berjalan berkeliling, mencermati satu persatu stand pameran yang ternyata sudah padat. Saya berusaha secepat mungkin menemukan stand milik GTK.  Dari informasi yang saya terima, stand itu memajang buku-buku besutan para IGI-ers yang berlatih menulis lewat program Sagusaku. Karena saya tidak sempat dengan cermat   mempelajari denah pameran yang saya terima satu hari sebelumnya, begitu masuk ruang pameran saya kesulitan menemukan stand tersebut. Mungkin karena kurang fokus saya tidak sempat membaca tulisan yang berbunyi GTK, padahal perasaan semua stand sudah saya kelilingi.

Begitulah, kadang-kadang persepsi mengalahkan akal sehat. Seolah-olah kita sudah melakukan semuanya, namun  tidak begitu realitanya. Pada saat saya berkeliling itu hati dan pikiran saya tidak fokus pada stand GTK. Pikiran saya bercabang. Selain stand GTK, saya juga memikirkan stand IGI, di mana buku-buku Menemu Baling dipajang.   Stand itu  belum juga saya temukan, walaupun saya sudah berputar-putar sekeliling tempat pameran. Jadi pada saat yang sama saya kesulitan menemukan stand IGI, di pada saat itu pula saya menganggap sulit menemukan stand GTK. That’s it.

Setelah berputar-putar kurang lebih seperempat jam barulah saya melihat ada sebuah tempat yang agak menyelinap. Tempat itu cukup luas dan berada di salah satu pojok lokasi pameran. Tulisan di atas ruang tersebut berbunyi Pojok Literasi 2. Karena penasaran saya segera menuju tempat tersebut. “Pak Sekjen!” tiba-tiba ada suara wanita  memanggil. Ah rupanya stand IGI  tepat berada di hadapan pojok literasi tersebut. Saya melihat ada mbak Heppy di sana. Dia sedang menunggu stand yang ukurannya 1×2 m itu. Dihadapannya terdapat meja kecil berisi buku tamu, beberapa buku hasil karya sagu-saku,  dan   setumpuk buku  berjudul “Asyiknya Menemu Baling”. Tampak di latar belakang dinding berwarna putih dengan logo-logo IGI yang tertempel di sana-sini.  Dua susun ambalan yang tertempel di dinding juga  berisi penuh buku-buku “Asyiknya Menemu Baling” yang teratur rapi.   Mbak Wulan dan Mbak Imtihani  tampak menemani Mbak Heppy. Mereka tersenyum bahagia menyambut kedatangan tamu dari Semarang. Ah, Akhirnya ketemu juga…

Tidak Berapa lama kemudian banyak pengunjung yang berdatangan. Mereka merasa aneh dengan nama Menemu Baling. Mereka kemudian minta dijelaskan tentang kegunaan metode tersebut. Setelah diterangkan panjang lebar dan diajak berpraktek mereka mengangguk-angguk dan menyatakan diri ingin membagi pengetahuan tersebut kepada yang lain.

30102017 Ditulis dengan metode menemu baling, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga sambil menunggu service di Shop Drive Banyumanik.

Comments

comments