SAGUWARNA SPESIAL EDISI HARDIKNAS; UNTAIAN “CULTURE DIVERSITY” MEMPERKUAT IDENTITAS NEGERI

0
86

Indonesia terbentang dengan ratusan ribu pulau, lebih dari 700 suku bangsa yang menjadi bagian 258juta penduduk, adat istiadat yang unik dan beragam, pakaian daerah dan bahasa yang saling terkait, bahkan mitos dan mistis budaya ikut menjiwai kebiasaan masyarakat plural Indonesia. Sungguh negeri ini kaya akan keberagaman budaya (culture diversity) meski belum mampu menunjukkan kemakmuran.

Lalu dengan keberagaman yang besar dan unik itu, apakah Indonesia terbelah ? Terkotak-kotak ? Hidup mengandalkan sukuisme ?. Nenek moyang kita merupakan pendahulu yang berpikiran maju, mengalahkan ego, mengutamakan kepentingan umum demi mempersatukan budaya tanpa meninggalkan akar adat istiadat yang melekat di sukunya. Founder negeri ini paham bahwa negara kuat karena mengakomodasi hukum suku ke dalam konstitusi Indonesia. Banyak daerah kita yang lebih mengutamakan adat istiadat dalam pengambilan keputusan melibatkan unsur pemerintah di dalamnya. Itulah yang membuat negeri ini rukun, damai, tidak ada konflik karena budaya. Justru beberapa tokoh adat demi asimilasi budaya mempersilakan kawin antar suku untuk saling menguatkan.

Namun sayangnya, perkembangan digitalisasi, globalisasi, modernisasi membuat adat budaya menjadi tergerus, tercabik di masyarakat. Bahkan banyak kaum muda milenial mengabaikan adat, memiliki komunitas tersendiri dengan budaya yang mulai sulit dipahami dengan kebhinnekaan Indonesia. Tidak salah mereka sepenuhnya, tidak ada pembiasaan di keluarga, tidak ada yang mengenalkan. Bahkan lebih parah, kurikulum kita hampir tidak mengakomodir budaya-budaya daerah yang sejatinya diwariskan pada generasi muda. Lembaga pendidikan adalah dunia doktrin, jika warisan budaya tidak diperoleh di sekolah, pada lembaga mana pula kita berharap.

Jika hari ini anak-anak gemar menguliti temannya atau bullying, tidak hormat kepada siapapun, tidak sungkan memukul guru, suka ribut di sosial media dengan bahasa sarkas, bukan hanya pendidikan karakter belum terejawantahkan dengan baik di sekolah. Tapi juga anak-anak kita tidak memahami esensi budaya kita yang memiliki nilai-nilai keluhuran, saling mengalah dan menolong sesama. Adat istiadat nusantara kita sangat kental dengan nilai-nilai relijius yang menjunjung tinggi toleransi.

Kalau bukan kita guru, siapa lagi yang bisa menginsersi budaya dalam bidang studi. Seluruh bidang studi memungkinkan kita memagari dan menabur kembali nilai budaya daerah dalam setiap pembelajaran. Kehadiran Kanal Saguwarna (satu guru satu pewaris budaya nasional), hadir sebagai pengawal budaya, melatih guru menginternalisasi budaya dalam pembelajarannya, menjadi pahlawan budaya daerah Indonesia. Nilai-nilai luhur budaya harus tercermin menjadi identitas generasi emas Indonesia, secanggih apapun teknologi yang hadir kemudian, semudah apapun akses informasi nantinya.

Terimakasih bagi guru yang sudah menjadi bagian Saguwarna IGI, berkolaborasi dan membangun harmoni meninggikan nilai-nilai budaya dalam pembelajarannya dan suasana di sekolahnya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional ; kukuhkan budaya Indonesia sebagai identitas nasional.

Papua Barat, 1 Mei 2019

Founder Saguwarna IGI

Chandra Sri Ubayanti
beserta Tim

Comments

comments