MENEMU BALING DAN I-MINDMAP DALAM PTK, PERPADUAN 2 IN 1 YANG CANTIK

0
626

Catatan kegiatan Menemu Baling dan Pelatihan PTK di Tegal
(#menulis itu sangat mudah semudah menghela nafas)

Hari ini, Senin tanggal 19 Desember 2016 saya diundang ke kota Tegal oleh dinas pendidikan setempat dalam rangka memberikan pelatihan PTK kepada para guru di kota itu. Saya berusaha datang seawal mungkin dengan memanfaatkan kereta api Kamandaka yang berangkat dari Stasiun Poncol Semarang pada jam 05.15 pagi ini. Jam 07. 35 Saya sudah sampai di Stasiun Kota Tegal dan segera dijemput oleh petugas untuk menuju ke lokasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tegal Pak Johardi datang di aula SMP Negeri 1 kota Tegal pada jam 09.20 WIB karena harus terlebih dahulu mengapellkan semua pegawai dinas perhubungan di kantor Dinas Perhubungan kota Tegal. Kebetulan Pak Suardi saat ini memiliki dua jabatan yaitu sebagai Kepala Dinas Pendidikan sekaligus Kepala Dinas Perhubungan Kota Tegal. Kami yang sudah menunggu segera mempersilahkan beliau untuk segera memimpin acara pembukaan. Karena pada saat itu saya sedang memperkenalkan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang bisa didownload di www.igi.or.id.id/download dan belum selesai maka beliau meminta saya untuk menyelesaikan informasi yang sedang saya berikan supaya tidak berhenti di tengah jalan. Selepas itu acara pembukaan pelatihan karya tulis ilmiah untuk guru TK, SD, dan SMP kota Tegal segera di mulai.

Setelah serangkaian kegiatan seremonial, mulai dari pembacaan Basmalah pada saat pembukaan awal, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian laporan panitia, maka sampailah pada sambutan kepala dinas pendidikan sekaligus membuka kegiatan. Dalam sambutan pembukaan, pesan pak Johardi kepada seluruh guru yang menjadi peserta pelatihan PTK di aula SMP 1 Tegal pada hari ini adalah supaya semua guru memiliki komitmen. Komitmen yang dimaksud adalah untuk bersama-sama bersinergi dengan pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan di kota Tegal dengan cara membangun kualitas diri yang lebih baik. Dari empat kompetensi yang meliputi kompetensi kepribadian sosial, pedagogik, dan profesional semuanya harus terus-menerus ditingkatkan. Sudah Selayaknya setiap guru melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang meliputi pengembangan diri publikasi ilmiah dan karya inovatif. Guru tidak boleh berdiam diri dan menikmati zona nyamannya atau nanti hasilnya adalah para murid dengan kemampuan yang lemah di belakang hari yang tidak akan bisa bertahan dalam memasuki kancah persaingan dengan bangsa-bangsa lain. Pak Johardi juga selalu mendoakan agar para guru tetap diberi keberkahan di dalam menjalankan profesinya, selalu sehat sejahtera, bahagia dunia akhirat, dan tetap bersemangat dalam usaha menghasilkan para siswa yang akan menjadi orang-orang hebat yang berguna tidak hanya bagi Tegal atau Indonesia tetapi juga dunia.

Setelah sambutan kepala dinas acara ditutup dengan doa bersama kemudian dilanjutkan dengan acara inti pada hari ini, yaitu pelatihan karya tulis ilmiah yang narasumbernya adalah saya sendiri. Seluruh peserta jumlahnya ada 60 orang, masing-masing 20 orang dari TK SD dan SMP. Ketika saya tanyakan berapa guru yang ada di situ yang pernah melaksanakan penelitian tindakan kelas atau PTK ternyata hanya empat orang yang menunjukkan diri. Ini adalah sebuah fenomena umum di kalangan para guru. Melakukan action atau tindakan di dalam kelas yang diseriusi sebagai sebuah penelitian adalah sesuatu yang kurang umum di kalangan guru. Boleh jadi itu karena selama ini guru beranggapan bahwa tugas meneliti itu bukan tupoksi guru tetapi lebih kepada tupoksi dosen. Jadi melakukan penelitian tindakan kelas yang dimaksudkan untuk memberikan tindakan perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan di dalam kelas para guru tersebut dianggap agak merepotkan dan menambahi tugas guru yang sudah report dalam mengelola kelas dan mempersiapkannya. Meskipun akhir-akhir ini muncul rumor bahwa guru nantinya akan naik pangkat secara otomatis tetapi peraturan yang masih berlaku saat ini adalah permenegpan Nomor 16 Tahun 2009. Peraturan itu mewajibkan bahwa seorang guru harus melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang di antaranya bisa ditempuh dengan melakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka untuk bisa naik pangkat ke level yang lebih tinggi.

Seperti biasa saya memulai sesi dengan perkenalan pendek dan motivasi. Sebagai penarik perlhatian pada bagian awal saya tampilkan foto seorang wanita muda yang cantik yang sedang menggendong jamu dan menawarkan kepada para hadirin supaya lebih kuat mereka harus minum jamu, dan jamu bagi seorang guru adalah belajar lagi. Pada slide berikutnya yang muncul adalah foto selfie saya dengan beberapa orang menteri dan data identitas mulai dari nama, alamat, nomor telepon, email, pendidikan, pekerjaan, sampai organisasi yang digeluti yaitu IGI. Slide selanjutnya adalah tentang achievement atau prestasi yang selalu saya tambahi dengan kata-kata bahwa dari prestasi menjadi juara tingkat Jawa Tengah satu kali, juara nasional tujuh kali dan juara internasional satu kali, semua bukan semata-matakarena hasil kerja keras, tetapi lebih kepada keberuntungan atau rejeki. Karena boleh jadi ketika saya memperoleh kemenangan-kemenangan itu, pada saat saya ikut lomba, yang pintar-pintar tidak ikut lomba, mungkin mereka sedang sakit, sedang ikut lomba yang lain, sedang tidak siap atau sedang tidak berminat. Jadi saya ingin menekankan bahwa prestasi itu hanyalah sebuah proses yang sebisa mungkin dilewati oleh setiap guru tetapi bukan hasil akhir. Dan kita tidak selayaknya membangga-banggakan diri diri karena prestasi yang sebenarnya didalamnya ada unsur keberuntungan atau rejeki. Yang terpenting adalah bagaimana dengan prestasi itu kita bisa memotivasi yang lain dan memberi semangat kepada mereka untuk terus tumbuh bersama dan saling berbagi. Dengan demikian secara kolektif kolegial hari ini kualitas kita menjadi lebih baik dari hari kemarin dan besok bisa menjadi lebih baik dari hari ini.

Saya juga selalu menekankan bahwa persaingan kita bukanlah dengan kawan-kawan guru yang lain tetapi lebih kepada diri kita di masa lalu. Jika ingin menjadi orang yang beruntung, kualitas kita hari ini haruslah lebih baik dari kemarin. Jika kualitas kita stag atau mandek, sama saja kemarin, hari ini, ataupun besok, maka berarti kita sudah menjadi orang yang merugi. Apalagi jika kualitas kita hari ini ternyata lebih buruk dari kemarin, itu artinya kita menjadi orang-orang yang celaka. Na’udzubillahi mindzalik! Tentu kita tidak mau menjadi para guru yang celaka, oleh karena itulah kepada para guru yang datang di aula SMP 1 kota Tegal hari ini saya ajak untuk meniatkan diri untuk tholabul ‘ilmi, menuntut ilmu agar menjadi lebih baik kualitasnya, lebih baik kompetensinya, agar mereka menjadi para guru yang beruntung.

Kegiatan pelatihan kita kemas dengan cara menyenangkan. Semua peserta diminta untuk menggeser kursi ke masing-masing sisi ruang sehingga kita mendapatkan space cukup luas untuk saling berinteraksi. Kemudian kita lakukan dinamika kelompok untuk mengakrabkan antara satu peserta dengan peserta yang lain. Setelah itu dengan permainan yang atraktif kita membentuk kelompok kelompok kerja yang anggotanya terdiri dari 6 sampai 7 orang sejumlah 8 kelompok. Kelompok-kelompok kerja itu tampak sangat kompak dan bisa saling bersinergi untuk menghasilkan atau menyelesaikan tugas secara efektif. Mereka harus menciptakan nama kelompok dan yel-yel yang menarik dalam waktu singkat untuk merangsang kreativitas mereka. Hal itu dilakukan karena bagaimanapun menulis adalah sebuah kreativitas, termasuk menulis PTK. Selanjutnya peserta mulai bekerja pada tugas-pelatihan yang lebih serius untuk nantinya menghasilkan rancangan sebuah PTK. Saya juga memberdayakan instrumen-instrumen yang sudah diciptakan oleh kawan-kawan WI di LPMP Jawa Tengah untuk analisa PTK.

Khusus materi baru yang saya berikan kepada para guru peserta pelatihan tersebut selain metode Menemu Baling untuk memudahkan menulis dan membaca dalam menghasilkan PTK, saya juga memperkenalkan pemanfaatan software I-mindmap.
Software ini digunakan dua tahap. Tahap yang pertama adalah untuk membreak down sebuah PTK yang sudah jadi sehingga terurai menjadi peta-peta pikiran yang lebih mudah dipelajari dan dianalisis. Pada tahap selanjutnya dari peta-peta pikiran itu peserta diminta mensintesis atau membangun sebuah rancangan PTK baru berdasarkan permasalahan yang dialami oleh masing-masing guru di kelasnya.

Mereka sangat menikmati kegiatan tersebut sehingga tidak terasa waktu sudah mendekati pukul 16.00 sore. Jatah waktu saya sudah habis sehingga saya harus segera memohon pamit untuk pulang kembali ke Semarang. Seperti biasa kali inipun saya pulang dengan memanfaatkan jasa PT. Kereta Api Indonesia lagi sehingga bisa menghasilkan beberapa tulisan untuk diupload di website IGI.

Sekian.

Mampuono
# menulislah 5 menit setiap hari untuk menghasilkan buku setebal 1000 halaman dalam setahun

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here