LITERASI-PRODUKTIF BERBASIS IT: LOMPATAN PEMIKIRAN IGI YANG MENAKJUBKAN

0
1140

 

Oleh: Mohammad Hairul) *

Menjadi bagian dari 150 peserta ToT Literasi Produkti Berbasis IT yang diadakan IGIadalah merasai ketakjuban demi ketakjuban. Ketakjuban pertama, berupa ketakjuban terhadap ide brilian penggagas kegiatan. Ditengah maraknya penggugahan untuk berbudaya literasi, IGI justru berpikir melampaui konteks masanya. Suatu lompatan pemikiran  yang tidak sekadar berpusat pada mengatasi rendahnya literasi, namun mencoba mengoptimalkan potensi-potensi yang ada. Menyiapkan trainer guna menjadi ujung tombak terwujudnyasejuta guru mahir literasi produktif berbasis IT sebelum 2021.

Ketakjuban kedua, berupa ketakjuban atas pemberian kesempatan seluas-luasnya dalam seleksi keikut-pesertaan ToT. Tahap seleksi yang dilakukan terhadap guru peminat yang memenuhi kriteria berlangsung sedemikian terbuka. Calon peserta harus mempunyai naskah bertopik literasi. Selain itu juga haruspernah menyajikan literasi di forum ilmiah dengan bukti video presentasi. Menjadi prasyarhairulat pula pernyataan kesanggupan untuk melatih literasi produktif di berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tahap seleksi demikian merupakan wujud kesungguhan untuk mencari potensi-potensi di berbagai penjuru tanah air guna dioptimalkan menjadi trainer nasional literasi produktif berbasis IT.

Ketakjuban lain berupa ketakjuban terhadap kemasan kegiatan yang menjunjung tinggi semangat IGI untuk berbagi dan bangkit bersama (Sharing and Growing Together).Pada acara ToT, Para Master dari berbagai kegiatan nasional khas IGI, ikhlas berbagi menularkan pengetahuan dan keterampilannya. Penularan ilmu tersebut penuh nuasa keakraban kekeluargaan, jauh dari kesan kaku dan saling menggurui. Semua sesi berlangsung penuh kesadaran dan kesabaran bersama bahwa setiap kita adalah pembelajar sejati, sama-sama haus ilmu dan pengembangan kompetensi diri. Jadilah semua sesi selama 4 hari itu adalah perpaduan antara kemauan yang kuat untuk menimba ilmu dan keikhlasan yang tulus untuk berbagi.

Rasionalisasi dan Relevansi Literasi-Produktif

Rasionalisasi pentingnya ToT literasi produktif berbasis IT ala IGI adalah bermula dari kepekaan dan kepedulian untuk memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi bangsa dan negara. Hal itu mengingat tolak ukur sebaik-baik manusia terletak pada seberapa bermanfaat ia bagi manusia lain. Dari kaca mata etika maupun logika, tidak ada yang dapat disangkal dari kalimat yang diadopsi dari ayat dalam kitab suci tersebut.Bahwa manusia membutuhkan orang lain dalam upaya pemenuhan kebutuhannya. Suatu penegasan bahwa manusia adalah nyata sebagaimakhluk sosial, makhluk yang butuh bersosialisasi, butuh berinteraksi.IGI sepenuhnya menyadari perlunya saling berbagi itu.

Sebagaimana dalam interaksi keseharian, manusia mempunyai sistem simbol yang digunakan dalam komunikasi. Sistem simbol tersebut kemudian kita kenal dengan nama ‘bahasa’. Oleh karena itu, dalam perwujudan sebagai mahluk sosial, manusia juga merupakan makhluk simbolik (Homo Symbolicum). Makhluk yang berinteraksi menggunakan sistem simbol (tanda-bahasa). Karenya literasi produktif berupa keterampilan menulis dan berbicara menjadi sarana guna menempatkan literasi sebagai arena pemahaman diri dan memahamkan orang lain.

Dalam konsep demikian,kata literasi dimaknai sebagai keterpahaman. Hal itu mengingat kata literasi berasaldari kata litera, yaitu leter (huruf). Pada  perkembangannya literasi kemudiandimaknai sebagai aktivitas mengkonsumsi huruf dan memproduksi huruf. Mengkonsumsi huruf berwujudaktivitas membaca guna mendapatkan pemahaman, dan memproduksi huruf berwujudaktivitasmenulis sebagai upaya memahamkan.

Konsep literasi sebagai upaya memahami dan memahamkan (membaca-menulis) tersebut kemudian melahirkan istilah literasi-produktif dan literasi-reseptif. Konsep ini merujuk pada upaya memahami melalui aktivitas berbahasa pasif (membaca dan menyimak), dan upaya memahamkan melalui aktivitas berbahasa aktif (menulis dan berbicara). Dengan demikian konsep literasi produktif dalam konteks ini dibatasi maknanya sebagai proses transfer informasi melaui keterampilam menulis yang mampu memahamkan melalui pemanfaatan teknologi.

Miniatur Gerakan Literasi-Produktif

Gerakan yang dipandegani IGI untuk mewujudkan sejuta guru mahir literasi produktif berbasis IT dalam kurun waktu lima tahun kedepan, kian menemukan wujud nyata. Optimisme terbentuk karena pencananganitu segera dimulai dengan langkah awal yang menggebrak. Langkah awal yang lebih tepat disebut sebagai langkah awal yang menakjubkan. Satu diantaranya dengan diselenggarakan ToT Literasi Produktif Berbasis IT. Melalui kegiatan tersebut sejatinya separuh pekerjaan untuk menuju sejuta guru mahir literasi produktif sudah selesai. Karena melihat antusiasme 150 trainer yang ada cukup menjanjikan untuk terus meng-kawal Gerakan Literasi Produktif Berbasis IT.

Seperti halnya yang tergambar dari 6 kanal besar pemfokusan bidang menuju literasi produktif berbasis IT secara nasional. Diantaranya adalah (1) kanal pembelajaran kelas maya dan penggunaan media komik digital untuk pembelajaran. (2) Kanal server edukasi dengan program Sagusatab (satu guru satu tablet). (3) Kanal optimalisasi guru dalam penggunaan website dan blogger melalui Sagusablog (satu guru satu blog). (4) kanal penggunaan aplikasi android untuk pembelajaran melalui Sagusanov (satu guru satu inovasi) dan memudahkan pengembangan optimalisasi potensi guru dalam menulis dan membaca melalui Menemu Bali (menulis dengan mulut, membaca dengan telinga). (5) menggairahkan guru untuk menulis kreatif dengan program Sagusaku (satu guru satu buku), dan (6) pemahiran guru dalam penulisan karya tulis ilmiah dengan program Sagusakti (satu guru satu KTI).

Dengan tiap kanal rata-rata diikuti oleh 25 orang, maka 150 peserta ToT setelah digembleng selama 4 hari sudah mempunyai modal yang cukup untuk percaya diri menularkan ketrainerannya pada guru lain. Semua itu menjadi mutlak mengingat sejatinya banyak guru di luar sana sedang haus untuk mendapatkan program peningkatan kompetensi diri ala IGI. Suatu program yang identik dengan lompatan pemikiran yang menakjubkan. Hal itu tiada lain merupakan upaya mempertemukan kesenjangan yang melanda dunia pendidikan, yakni kesenjangan antara siswa abad 21, guru abad 20, dan sarana sekolah abad 19. Dalam perannya demikian, IGI kian mengukuhkan dirinya sebagai organisasi guru yang konsen dan konsisten pada upaya meningkatan kompetensi guru. Majulah IGI, Jayalah IGI.

*) Mohammad Hairul adalah guru SMPN 1 Klabang-Bondowoso.

Ketua IGI (Ikatan Guru Indonesia) Kabupaten Bondowoso.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here