KELUARLAH DARI KERUMUNAN GURU COACH BIASA

Sesi MENEMU BALING, menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga,  Rabu, 23 November 2016, pukul 06.00 - 06.30 WIB).

0
1357

 

Penutupan TOC  (Training of Coach) pada hari Selasa, 22 November 2016 tepat pukul 12.00 WITA kemarin berjalan  dengan lancar. Pelatihan berlangsung selama 5 hari dari tanggal 18-22 November 2016 di LPMP Kalimantan Selatan yang berlokasi di kota Banjarbaru. Dalam sambutan penutupan Sekjen IGI, Mampuono berpesan kepada para calon  coach (pelatih) yang sudah mendapatkan training selama lima hari tersebut supaya tetap belajar.  Mereka tidak boleh berhenti belajar dalam usaha untuk meningkatkan core kompetensi mereka sehingga secepatnya bisa keluar dari kerumunan pelatih yang levelnya biasa saja. Mereka harus menjadi pelatih-pelatih yang hebat dengan skill yang luar biasa baiknya, tetapi mereka tidak perlu bersaing satu dengan yang lain. Malah sebaiknya mereka justru harus saling berkolaborasi, bekerjasama untuk meningkatkan kompetensi dengan cara saling isi. Saingan terberat mereka justru diri mereka sendiri di masa lalu. Jika mereka hari ini bisa menjadi lebih baik dari kemarin dan besok menjadi lebih baik dari hari ini dalam peningkatan level kompetensi maka cukuplah itu menjadi bekal untuk menjadi  pelatih yang dimaksud.

Lalu caranya bagaimana? Yang pertama, cara menjadi pelatih hebat yang paling sederhana adalah dengan meyakini bahwa peribahasa “rajin pangkal pandai” dan “alah bisa karena biasa” itu masih berlaku. Kalau orang dulu menyingkir ke tempat-tempat yang sepi di dalam  hutan, bertapa di dalam gua keramat selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, bahkan ada yang mengubur diri, tidak makan dan minum  di dalam tanah dengan tapa pendem selama 40 hari 40 malam  untuk sekedar mendapatkan kesaktian sebagai orang hebat, maka di jaman yang serba modern ini semua laku  tapa brata itu  bisa diganti dengan tapa brata ngrame di dalam perpustakaan atau ruang-ruang pribadi maupun ruang publik. Semuanya dilakukan dengan cara belajar dan berlatih terus menerus.  Mereka harus sebanyak mungkin   menyerap ilmu dari buku, laptop, dan gadget terhubung Internet yang menyediakan ilmu pengetahuan tanpa batas. Karena membaca adalah pangkal belajar, maka kuncinya mereka harus mengurangi tidur, menyediakan tambahan waktu untuk berjaga, lalu membaca membaca dan membaca, belajar lagi dan terus mencoba lagi hal-hal yang baru.

Kedua,  cara paling efektif untuk menjadi orang hebat adalah belajar langsung dari orang-orang hebat tersebut. Jika tidak sempat bertemu dengan mereka, carilah murid-murid terhebat mereka untuk belajar. Jika tidak sempat bertemu dengan murid-murid hebat mereka maka carilah peninggalan ilmu mereka yang tertulis dalam buku-buku.  Buku-buku hasil tulisan mereka biasanya best seller dan berada di toko-toko buku ternama. Jika semuanya tidak bisa ditemui maka  carilah buku biografi tentang mereka. Jika masih tidak bisa ditemukan maka carilah orang-orang yang bisa menceritakan kehebatan dan prinsip-prinsip hidup mereka. Dan jika semuanya tidak ada  maka kita harus memulainya sendiri mengadopsi prinsip-prinsip hidup dan kehebatan-kehebatan orang-orang yang mirip dengan orang hebat yang dimaksud untuk kita ramu sendiri dan menciptakan kehebatan-kehebatan sendiri.

Ketiga,  mereka harus senantiasa meletakkan pikiran pada tataran HOTS atau Higher Order Thinking Skill. Mereka harus terus melatih kemampuan mengelola informasi yang menjadi skemata, prior knowledge, atau kompetensi dasar mereka dengan melakukan  analisa, evaluasi, dan kreasi melalui pemberdayaan critical thinking dan kreativitas-kreativitas out of the box untuk menghasilkan respon baru terhadap fenomena yang ada berupa penciptaan hal-hal baru mulai dari  ide-ide sampai produk atau karya nyata yang kreatif, inovatif, dan solutif.  Jangan pernah membiarkan otak  didominasi oleh pikiran-pikiran tingkat rendah yang mengandalkan proses recalling atau mengingat melulu. Kebiasaan berpikir tingkat rendah cenderung membuat orang mudah patah semangat, mudah komplain, dan menjadi negative  thinker.

Selain ketiga cara itu peserta TOC juga diwajibkan oleh sekjen untuk membaca buku wajib agar mereka siap menjadi pelatih yang hebat. Buku wajib tersebut diantaranya:

1. The Magic of Thinking Big atau Berpikir dan Berjiwa Besar karangan David J Scwartz

2. The Secrets karangan Ronda Byme

3.Buku-buku biografi orang-orang besar.

4. Buku-buku seri otak kanan yang motivatif dan meningkatkan cara berpikir HOTS serta kreativitas.

5. Buku-buku tentang pedagogi dan andragogi serta buku-buku yang mendukung kanal-kanal dalam TOC.

Dengan cara tersebut diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama Banjarmasin akan memiliki para pelatih guru yang handal dan bisa dikirim ke seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, bahkan bisa diekspor ke provinsi yang lain. Selain itu para calon pelatih tersebut masih memiliki kewajiban untuk menuliskan apa saja yang sudah mereka dapatkan selama pelatihan dalam bentuk tulisan bergenre narrative sepanjang minimal 800 kata. Tulisan akan dipublikasikan di website Ikatan Guru Indonesia www.igi.or.id. Waktu pengerjaan tagihan tersebut adalah empat hari.  Dengan memanfaatkan metode Menemu Baling atau menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga yang dikenakan oleh Mampuono, Sekjen IGI, maka pemenuhan tagihan tersebut menjadi jauh lebih mudah.

 

Salam pergerakan pendidikan!!

Mampuono

Sekjen IGI m

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here