IGI dan FERS Jerman Bekerjasama Kerjakan Trauma Healing Korban Gempa Sulteng

0
155

Gempa dan tsunami yang mengguncang Donggala, Palu, dan Sigi pada 28 September 2018 yang lalu masih menyisakan duka bagi warga Sulawesi Tengah. Tercatat 2.073 orang yang meninggal dunia dan lebih dari 70 ribu orang yang mengungsi. Data ini tentu masih ada kemungkinan akan bertambah, mengingat masih ada sekitar 5 ribu orang yang dimungkinkan hilang. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kerugian akibat bencana ini sekitar Rp. 10 Triliun.

Di Kabupaten Donggala, terdapat beberapa titik yang memiliki dampak yang sangat parah, antara lain di kecamatan Banawa, Banawa Tengah, Banawa Selatan, Tanantovea, Labuan, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tombusabora, Sirenja, Balaesang, dan Balaesang Tanjung.

 

 

Salah satu desa yang mengalami kerusakan yang parah adalah desa Lombonga kecamatan Balaesang kabupaten Donggala. Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah kecamatan Balaesang (10/10), menyebutkan bahwa di desa ini terdapat 490 rumah rusak berat, 12 unit fasilitas umum rusak berat, 2.287 jiwa yang mengungsi, dan 3 orang meninggal dunia.

Hal ini mengundang berbagai pihak untuk memberikan bantuan di desa tersebut, tidak terkecuali Ikatan Guru Indonesia (IGI). Pada hari Kamis (11/10), IGI yang dipimpin langsung oleh Ketua IGI Provinsi Sulawesi Tengah, Farid Bahwerets, berkunjung ke desa tersebut.

IGI hadir dengan beberapa program, di antaranya penyaluran bantuan logistik dan penanganan Traumatic Healing kepada anak korban gempa bumi. Farid Bahwerets menyatakan bahwa IGI akan melaksanakan program penanganan Traumatic Healing ini selama 3 hari di desa Lombonga kecamatan Balaesang kabupaten Donggala. Harapannya, dengan terlaksananya program ini dapat memulihkan trauma anak di desa tersebut pasca gempa yang dialaminya.

Menurut Farid, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama beberapa unsur dari Fraunde der Erziehungskunst Rudulf Steiners (FERS Jerman), IGI wil Sulteng, IGI kab Donggala, IGI kota Palu, IGI kab. Sigi dan dibantu oleh guru-guru yang berdomisili di desa tersebut, aparat TNI, mahasiswa dan pemerintah desa Lombong kec. Balaesang kab. Donggala.

“Kemarin kegiatannya diikuti oleh 467 siswa dari semua satuan pendidikan mulai dari TK sd SMA/SMK, kegiatannya akan berlansung selama 3 hari mulai dari tanggal 11 s/d 13 Oktober 2018, kegiatan berlangsung 3 jam untuk tiap harinya dilanjutkan pada sore harinya pembekalan untuk penanganan bencana dan dampak Trauma pada guru2 selama 60 menit setiap harinya.” Ungkap Farid.

Selain itu, IGI wil Sulteng juga memberikan bantuan kepada anak – anak berupa perlengkapan alat tulis menulis dan bahan bacaan,dan untuk masyarakat kamipun menyalurkan bantuan berupa pakaian, air mineral, makanan2 instan. Penyaluran bantuan ini tidak terlepas dari bantuan teman guru yang tergabung dalam IGI begitupun keluarga Kami dan sahabat-sahabat yang berada di Jerman, Swedia dan Rusia.

 

Dalam melaksanakan program ini, IGI bekerja sama dengan 10 orang relawan guru asal Jerman, guru-guru yang berdomisili di desa tersebut, TNI, mahasiswa, dan pemerintah desa Lombonga.

Rencananya pada tanggal 15 s/d 16 Oktober nanti pak Faridz dan kawan-kawan akan mengadakan kegiatan serupa di pusat gempa Kab Sigi, Sulteng.

 

Ref./Foto: Aristo Silambi, S.Pd., M.Pd (Ketua IGI Kab. Donggala) dan Farid Bahweretz (Ketua Wilayah IGI Sulteng).

 

 

 

Comments

comments