TERBUKTI GURU-GURU WANITA INI 10X LEBIH BERANI DARI GURU PRIA

0
602

Hari ini  terbukti para wanita ternyata lebih tangguh dan memiliki semangat belajar yang lebih kukuh. Mereka adalah para guru wanita Kutai Timur yang patut dibanggakan. Jumlah mereka 10 kali lipat dari jumlah guru laki-laki yang hari ini mendatangi pendopo Bupati di Bukit Pelangi. Itu artinya para guru wanita ini 10 kali lipat lebih berani daripada para guru laki-laki dalam memperbaiki kualitas diri dan berbenah lagi.

Adalah Ismunandar, seorang bupati yang dengan gigih mendukung semangat IGI. Ada harapan baru sang lurah Kutai Timur ni dalam gigihnya IGI membangun peradaban guru era baru. Di pendopo rumah dinas sang bupati inilah 10-an orang guru laki-laki dikelilingi oleh 110-an orang guru wanita sedang menempa diri. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru Sangatta. Bahkan sebagian dari mereka datang dari pelosok yang jauh, yang membutuhkan 7 sampai 8 jam perjalanan. Nama tempatnya adalah Muara Wahau dan Kong Bang.

Yang lebih hebat lagi, dua hari lalu, ketika di gelar seminar nasional IGI di bukit yang sama namun berbeda komplek, banyak peserta yang datang dari kecamatan Sandaran. Sebuah kecamatan di Kutim yang jauhnya sepanjang 14 jam perjalanan. Mereka harus membayar tiket speedboat pulang pergi sebesar Rp1.400.000 perorang! Sayang niat bergabung pada workshop hari ini harus mereka urungkan karena ada kegiatan yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Sangatta terkenal dengan sungai-sungainya yang berbahaya karena ganasnya buaya. Sangatta juga diberkahi dengan burung enggang yang kini mulai langka. Sangatta mungkin pula satu-satunya kabupaten yang memiliki IGI dengan keberanian dan nyali yang nyata. Langkah besar para pengurus yang sudah dilakukan patut dijadikan teladan. Keberhasilan IGI Sangatta di dalam menyelenggarakan seminar nasional pertama kali di Kutim yang dihadiri 1200 orang dan gratis sungguh tiada tanding! Semua tidak lepas dari perjuangan para tokoh pergerakan yang ada di sana. Ada nama-nama seperti Imam Wahyudi, Sismanto, Haramsyah, Nasrullah, Anik Yusanti dengan peran-peran besarnya tidak bisa diabaikan. Dan hari ini mereka berkumpul bersama 120 daging segar yang bersiap mengasah kemampuan literasi dalam workshop Metode Menemu Baling bersama Sekjen IGI, Mampuono.

Workshop hari ini merupakan lanjutan dari seminar nasional IGI dua hari lalu. Begitu gigihnya para peserta ini untuk menguasai ilmu Menemu Baling sehingga mereka rela hati untuk duduk diatas lantai dari pagi sampai sore. Pukul 09.00 pagi acara dimulai dan pukul 16.00 sore acara diakhiri, tetapi hampir tidak seorangpun yang bergeming. Mereka tetap dengan tekun mendengarkan penuturan dari narasumber, mempraktekkan tugas yang diberikan, dan memenuhi tagihan yang diminta dengan tepat waktu.

Dari mulai menginstal aplikasi Menemu Baling, lalu membuat kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang, sampai bekerja kelompok, tidak ada satu pun yang mengeluh. Bahkan mereka sangat menikmatinya. Kegiatan pembuatan kelompok dilakukan dengan bergembira dan tertawa tawa. Mereka bernyanyi, bergerak, berkeliling, saling berkenalan, dan mengikuti aba-aba yang ada dalam nyanyian. Mereka terlihat enjoy melakukan kegiatan dinamika kelompok tetsebut. Aktivitas itu sekaligus sebagai ice breaker yang memecah kebekuan situasi antar peserta. Dalam kelompok-kelompok itulah mereka bekerja sama sampai menghasilkan karya tulis yang siap dipublis.

Masing-masing kelompok harus memilih sebuah benda atau objek yang mereka sepakati untuk dituliskan deskripsinya. Aktivitas menulis deskriptif ini menggunakan pendekatan proses. Langkahnya dimulai dari pra penulisan, pembuatan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi.

Pada proses pra penulisan, seluruh anggota kelompok harus melakukan curah gagasan, lalu membuat daftar ide-ide yang akan ditampung dalam tulisan yang kemudian digambarkan dalam sebuah peta konsep. Peta konsep inilah yang akan mereka gunakan sebagai perdoman pada tahap berikutnya, yaitu pembuatan draft tulisan.

Narasumber hanya memberi waktu 10 menit untuk pembuatan peta konsep. Kemudian masing-masing anggota harus mengembangkan secara individual setiap cabang utama dari peta konsep tersebut untuk dijadikan sebuah paragraf.
Tahap ini adalah tahap pembuatan draft di mana aktivitas menulis cepat atau fast writing dengan Metode Menemu Baling dipraktekkan. Caranya dengan membuka tablet Sagusatab IGI dan mengklik ikon mikrofon pada mesin pencatat Color Note. Lalu mereka melakukan aktivitas menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga selama 5 menit untuk menghasilkan sebuah paragraf yang minimal terdiri 100 kata.

Tampak para peserta berhasil menggunakan waktu 5 menit tersebut untuk menuliskan masing-masing paragraf yang menjadi tugas mereka. Langkah selanjutnya adalah menggabungkan seluruh paragraf menjadi satu tulisan yang disusun secara runtut.

Seluruh kelompok kemudian bekerja sama untuk melakukan tahap revisi. Di dalam tahap ini kelompok mengelola ide-ide antar paragraf sehingga bisa mengalir secara harmonis. Gagasan-gagasan yang muncul ditulis dengan koherensi yang optimal. Kesesuaian ide antar paragraf dirangkai agar mengalir dengan dengan runtut dan lancar.

Setelah dirasa semua ide sesuai dengan tujuan awal penulisan dan antara paragraf satu dengan yang lain saling sinambung secara ber kesesuaian, setiap kelompok harus melakukan tahap penyuntingan. Pada tahap ini dilakukan pengelolaan fisik dari tulisan. Ini artinya penggunaan tanda baca, kapitalisasi huruf, pilihan kata, konsistensi penggunaan istilah, panjang pendek kalimat, besar kecil paragraf, dan lain-lain diatur sehingga kohesitas tulisan menjadi optimal. Disinilah terjadi kesesuaian bentuk pada tulisan.

Untuk lebih meyakinkan maka kelompok disarankan untuk melakukan proof reading dengan menggunakan metode Baling atau membaca dengan telinga. Semua paragraf yang sudah tertulis secara runtut di dalam mesin pencatat segera dikirim ke mesin pencatat untuk memastikan bahwa sudah terjadi koherensi dan kohesitas pada tulisan.

Selepas semuanya dirasa beres, publikasi sebagai tahap terakhir dari proses menulis bisa dilakukan. Masing-masing kelompok diminta untuk mengirimkan tulisan lewat grup WhatsApp dan panitia segera memperdengarkan tulisan yang sudah jadi tersebut kepada seluruh peserta workshop untuk dicermati bersama-sama. Narasumber merasa sangat puas karena kelompok yang selesai paling cepat berhasil mempresentasikan hasil tulisannya yang dibuat dalam waktu sekitar 15 menit dan tampil nyaris sempurna. Presentasi itu kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok yang lain yang tidak kalah apiknya.

Tulisan-tulisan yang muncul yang didominasi oleh gagasan kaum hawa ini di antaranya mengupas tentang air mineral dalam kemasan, buah pisang, prosedur pembuatan bros, tas punggung, dan lain-lain. Narasumber meminta supaya tulisan lebih disempurnakan lagi sehingga segera bisa tampil di website www.menemubaling.com. Semoga guru-guru wanita yang sudah mengikuti workshop dengan sukacita ini dikaruniai kesempatan untuk menerbitkan buku yang sudah lama mereka cita-citakan. Demikian pula untuk guru laki-lakinya.

Salam Menemu Baling!

MRT
#menemubalinglah5menit

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here