DONGENG BANGAU DAN KETAM YANG MENGINSPIRASI RATUSAN GURU IGI

0
776

Oleh: Widadi, IGI Jakarta, IGI Pusat

nun dibalik gunung dusun terkurung sunyi
sukma merenung dengar senandung serunai
sayup dendang menghimbau gita irama desaku
insan hidup rukun memupuk cinta alam di desa
(Anonim)

Pagi begitu mencekam, kabut menghalangi pandangan mata. Angin semilir di sepanjang jalan. Jalan begitu lengang tanpa debu beterbangan. Hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang. Itulah suasana Sabtu pagi di sepanjang Jalan Sudirman ketika itu. Orang-orang enggan ke luar rumah. Rasa takut masih menyelimuti benak mereka karena pada hari Jum’atnya bom meledak di pertokoan Sarinah dan sekitarnya. Namun suasana itu tak menyurutkan langkahku untuk memenuhi undangan Panitia Seminar Pendidikan IGI DKI Jakarta yang kali ini mengadakan seminar pendidikan bertempat di Gedung A, Lantai III, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tampil sebagai pembicara terakhir dalam seminar itu, panitia meminta saya untuk menyampaikan materi “Pembelajaran yang Menggairahkan Peserta Didik.” Saya mulai materi dengan menyenandungkan “Lagu Persembahan untuk Guru,” kemudian dilanjutkan dengan petikan gitar menyanyikan sebait lagu populer karya Ebiet G. Ade yang berjudul “Masih Ada Waktu,” maka mengalunlah: “bila masih mungkin kita menorehkan bakti/ atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas/ mumpung masih ada kesempatan buat kita/ mengumpulkan bekal perjalanan abadi/ ho ho ho du du du du du……” Sontak seluruh peserta seminar bergembira, larut bersama indahnya irama lagu. Sebait lagu itu sebagai pengantar dongeng kisah teladan dengan judul “Yang Pertama Masuk Surga.” Karya K.H. Abdurahman Arroisi (semoga Allah merahmatinya).

Kemudian saya lanjutkan dengan dongeng klasik berjudul “Bangau dan Ketam.” Saya awali dongeng “Bangau dan Ketam” dengan petikan gitar menyanyikan lagu berjudul “Senandung Serunai”. Maka gemuruhlah paduan suara dadakan sebagian besar peserta seminar pendidikan di ruangan yang sejuk itu: “nun dibalik gunung dusun terkurung sunyi/ sukma merenung dengar senandung serunai/ sayup dendang menghimbau gita irama desaku/ insan hidup rukun memupuk cinta alam di desa/.”
Karuan saja, peserta seminar yang berasal dari “ndeso” terutama Jogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya semua larut mengikuti irama lagu yang syahdu tersebut. Tak terasa air mata saya pun meleleh, begitu juga sebagian peserta seminar tampak berkaca-kaca. Singkat cerita Dongeng klasik “Bangau dan Ketam” mengisahkan tentang tipu daya Sang Bangau kepada ikan-ikan penghuni danau untuk dibawa terbang meninggalkan danau tersebut dengan dalih danau tersebut akan dibangun apartemen bintang tujuh. Ikan-ikan yang semula curiga akhirya menuruti ajakan Sang Bangau untuk meninggalkan danau tersebut dan mau diajak terbang tinggi melayang-layang di angkasa. Namun ternyata, Sang Bangau sangat licik. Sesampai di tengah perjalanan terbang, ikan-ikan yang dibawa terbang tersebut dijatuhkan ke bawah, sementara itu kerumunan bangau lainnya yang sedang kelaparan sudah siap untuk menyantapnya.

Gerak-gerik Sang Bangau yang mencurigakan itu dapat dibaca oleh Sang Ketam. Maka Sang Ketam memaksa Sang Bangau agar ikut diterbangkan. Dan ternyata benar firasat Sang Ketam. Ikan-ikan penghuni danau sahabatnya habis menjadi santapan teman-teman Sang Bangau yang kelaparan. Merasa telah dibohongi oleh Sang Bangau, maka Sang Ketam mencekik leher Sang Bangau dengan sekuat tenaga dan mengusir Sang Bangau pergi. Dengan langkah gontai karena kedoknya diketahui Sang Ketam, Sang Bangau akhirnya pergi jauh. Sementara itu Sang Ketam dengan susah payah harus kembali ke danau semula dan menceritakan petaka yang telah dialami teman-temannya.

Di akhir dongeng tersebut, saya bertanya: “Siapa yang ingin meniru karakter bangau?” Sebagian besar peserta seminar tertawa dan yang lainnya mesem-mesem. Saya bertanya lagi: “Siapa yang ingin meniru karakter ikan?” Tampak beberapa peserta angkat tangan tapi lebih banyak yang tertawa geli dalam diam. Saya bertanya lagi: “Siapa yang ingin meniru karakter ketam?” Hampir seluruh peserta angkat tangan meskipun malu-malu.

Ya, tentu saja para peserta seminar yang sebagian besar guru IGI tersebut tidak ada yang mau meniru karakter Sang Bangau yang licik. Sebab, apa kata dunia kalau guru-guru punya karakter penipu dan licik, pasti hancur generasi penerus bangsa ini. Mereka para bapak dan ibu guru tersebut juga nggak mau memiliki karakter seperti ikan yang manut dan mudah ditipu, mudah dibohongi. Tetapi rata-rata mereka mau memiliki karakter seperti Sang Ketam yang waspada, penolong dan bijaksana.

Semoga dalam TOC IGI berikutnya panitia berkenan memberikan kesempatan kepada trainer atau peserta pelatihan untuk menyampaikan dongeng di sela-sela mengotak-atik Samsung Galaxy Tab A 8 yang menakjubkan, meskipun hanya 5-7 menit saja. Dengan begitu suasana pelatihan bisa lebih rileks, nyantai dan mencair.

Saya yakin dengan suasana yang rileks, nyantai peserta TOC akan lebih mudah menyerap materi yang disampaikan oleh trainer. Konon kabarnya dalam suasana rileks gelombang otak bekerja antara 8-12 cps, sehingga mudah menerima informasi. Lho kok bisa, ya bisa dong ini kan hasil penelitian para pakar otak. Bukan pakar otak-otak, he… he…

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here