Berkunjung ke RSU Bersama Walikota Bontang

Sesi Menemu Baling, menulis dengan mulut, membaca dengan telinga di atas Lion Air Baliykpapan Semarang, 16-01-2017, 05.00-06.40

0
706

PP IGI. Minggu, 15-01-2017. Ada yang cukup mengejutkan pengurus pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) sore itu. Saat itu sekjen dan bendahara umum IGI diajak berkunjung ke kampung terapung paling kuno di Bontang. Namanya Kampung Bontang Kuala. Kunjungan dilakukan selepas selesainya kegiatan pelatihan Metode Menemu Baling di auditorium gedung kantor walikota. Tujuannya adalah untuk melepaskan penat sambil menikmati makan siang di sebuah venue yang eksotis. Di saat sedang menikmati makan siang sambil mengobrol tentang bagaimana memikirkan kelanjutan organisasi ke depan kami mendapat berita mengejutkan. Ibu Rasnawati Rais, S.Pd.I salah satu pengurus IGI kota Bontang yang dikenal dekat dengan Ibu walikota mengabarkan bahwa walikota sedang menunggu untuk bertemu. Kami, pengurus pusat IGI dan teman-teman IGI Bontang, diminta segera bergabung dengan ibu walikota untuk mengunjungi pasien gizi buruk di rumah sakit Bhakti Husada kota Bontang.

Bagi pengurus pusat IGI, ini adalah sebuah undangan yang istimewa. Ini berarti walikota sudah menunjukkan apresiasi dan kepeduliannya kepada IGI. IGI Bontang dilibatkan dalam meningkatkan peran sosialnya untuk berbagi kepada masyarakat. Kami tentu saja tidak berani menolak undangan tersebut. Ini adalah kesempatan emas, karena IGI sudah dipercaya dan dianggap dekat oleh pemerintah kota Bontang. Apalagi IGI sebagai organisasi belum genap berumur 3 bulan, karena IGI bontang di deklarasikan pada tanggal 24 November 2016.

Selepas menunaikan sholat Ashar di masjid tertua, kami segera meluncur ke RSU Bhakti Husada. Meski bagi yang biasa tinggal di kota besar rumah sakit tersebut bukan rumah sakit yang besar dan megah tetapi bagi warga kota Bontang. itulah rumah sakit terbesar mereka. Di sana sudah berkumpul banyak ibu-ibu yang berpakaian hitam hitam dan berjilbab merah yang menyambut kami. Mereka adalah kelompok ibu-ibu yang tergabung di dalam Persatuan Wanita Nusantara kota Bontang. Nama itu mereka gunakan karena anggotanya berasal dari berbagai suku bangsa Indonesia yang hidup bersama di kota Bontang. Mereka tampaknya banyak mensupport berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh Ibu walikota.

Kami segera dibawa untuk bertemu dengan ibu walikota. Begitu melihat kehadiran kami ibu walikota langsung menyambut dan mengalami kami satu persatu. Tampak ibu walikota menyambut kami dengan begitu ramah dan antusias. Gayanya khas mojang priangan, karena beliau adalah keturunan Sunda, walaupun sudah lama tinggal di kota Bontang. Segera beliau mengajak kami kembali ke ruang perawatan bayi yang mengalami gizi buruk tersebut.

Pasien gizi buruk

Sebenarnya ibu walikota sudah mengunjungi kamar itu sebelumnya, tetapi demi melihat kehadiran IGI, sebagai bentuk apresiasi beliau kembali masuk ke ruangan bayi yang mengalami gizi buruk tersebut dan menemani kami untuk menjenguk bayi mungil tersebut.

Kondisi bayi yang dikunjungi sungguh mengenaskan. Karena menderita gizi buruk, bayi yang sudah berusia satu setengah tahun tersebut masih kelihatan lebih kecil daripada bayi berusia tiga bulan. Terlihat tulang belulang nya menonjol dan kulitnya berkeriput serta lembek. Bayi itu menangis terus menerus seperti kesakitan. Walaupun menangis dia masih mau menelan bubur yang disuapkan oleh salah satu pengunjung yang berada di ruang perawatan tersebut. Sesekali tangis terhenti ketika mainan yang di dekatnya dihidupkan dan terdengar musik yang menghiburnya.

Bayi itu sungguh bernasib malang karena ibunya sudah meninggal enam bulan yang lalu. Sementara ini yang merawat adalah ayahnya yang masih muda dan terlihat kebingungan. Wajahnya tampak bersedih dan sesekali dia menutupi mukanya. Sepertinya dia tidak tahan melihat dan kondisi yang dialami oleh anaknya.

Kami bersepakat untuk mengiur sumbangan yang nilainya mungkin tidak seberapa. Tetapi harapannya uang hasil iuran tersebut bisa digunakan untuk sedikit membantu perawatan bagi bayi tersebut nantinya. Selebihnya kami hanya bisa menghibur untuk menguatkan hati sang ayah dan berdoa agar permasalahan yang dialami oleh keluarga tersebut segera bisa diselesaikan.

Ternyata ibu walikota yang seorang dokter ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap mereka yang sedang mengalami musibah. Buktinya kami tidak hanya diajak mengunjungi bayi yang mengalami gizi buruk saja tetapi juga diajak berkeliling untuk mengunjungi pasien-pasien yang lain. Ada pasien demam berdarah, pasien gagal ginjal, dan pasien yang masuk rumah sakit karena ditusuk oleh preman dalam sebuah percobaan pembunuhan.

Walikota mengajak kami masuk khusus ke ruang perawatan pasien yang ditusuk tersebut dan berbicara cukup lama kepada pasien. Walikota berusaha menunjukkan perhatiannya dan memberikan pesan-pesan yang membesarkan hati kepada pasien tersebut.

Pasien adalah seorang remaja laki-laki yang masih bersekolah di sebuah SMA. Akibat tusukan di dadanya, dia mengalami luka di bagian hati dan saluran yang menuju ke ginjal yang hampir merenggut jiwanya. Dia sudah di rawat inap selama 10 hari dan kondisinya sudah mulai membaik. Selain luka dalam yang membahayakan nyawanya pasien juga mengalami luka luar yang cukup serius di ujung-ujung jari kakinya. Menurut informasi dari ibu pasien, ketika kejahatan itu berlangsung, dalam kondisi pingsan akibat tusukan di dada, dia diseret di atas jalan. Akibat penyeretan itu ujung-ujung kakinya mengurus aspal sehingga melepuh dan warnanya kehitaman.

Setelah kunjungan tuntas walikota mengundang kami untuk makan malam di sebuah restoran ternama di kota Bontang. Semua pembiayaan akan diurus oleh orang-orangnya tetapi dia sekaligus memohon izin tidak bisa menemani. Dia harus beristirahat untuk mempersiapkan acara penting yang lain yang tidak bisa ditinggalkan. Kami pun juga berpamitan foto selanjutnya PP IGI akan berkunjung lagi ke Bontang pada waktu yang sudah ditentukan.
Mampuono

#menulislah5menit#

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here