MENJADI SEJARAH, LEGENDA, ATAU TIDAK MENJADI SESUATU SAMA SEKALI

0
58

Oleh: Mampuono
#menemubaling

Ada seorang teman yang dengan berapi-api bertutur bahwa dia termasuk salah seorang pahlawan reformasi. Dia adalah bagian dari sejarah runtuhnya rezim yang berkuasa saat itu. Di tahun 1998 dia turun ke jalan. Bahu-membahu, bergandeng tangan, saling menguatkan, berdemonstrasi di jalan-jalan, untuk meraih satu tujuan, REFORMASI! Bersama-sama dengan kawan-kawan BEM-nya, ditinggalkanya kampus dan bangku kuliah. Semua demi menuntut supaya pemerintah yang berkuasa pada saat itu tidak lagi serakah. Rakyat sudah terlalu lama terzalimi, krisis ekonomi dan multi dimensi terus terjadi, semua harus segera diakhiri. Jalan satu-satunya, presiden harus mundur. Dan benar, atas desakan kawan tersebut, tentu bersama jutaan mahasiswa yang turun ke jalan dari hampir seluruh kampus di Indonesia, akhirnya rezim itu ambruk.

Dengan menggebu-gebu teman tersebut bercerita bahwa kisahnya bersama teman-temannya yang berhasil menggulingkan rezim sewenang-wenang, kisah turunnya mereka ke jalan-jalan yang penuh bahaya mengancam, kisah di mana sebagian dari mereka harus terkapar di ujung senapan, kisah jiwa-jiwa rindu kebebasan yang tidak pernah lepas dari bidikan para sniper yang garang, akan dikenang oleh anak cucu mereka. Dia begitu yakin tindakan heroik yang sudah dia lakukan membuat generasi yang akan datang akan mengenangnya sebagai para pahlawan reformasi. Bahkan kisah itu harus menjadi teladan. Bahwa menjadi mahasiswa harus tanggap dengan kondisi rakyat. Manakala mereka memanggil dalam ketertidasan, sementara wakil-wakil mereka justeru bungkam, tidak ada jalan lain, parlemen jalanan yang akan mengambil tindakan.

Ceritanya menarik bukan? Tetapi ada satu premis yang saya ragukan. Benarkah dia atau kisah yang dia terlibat di dalamnya akan mejadi bagian dari sejarah? Sejarah atau legenda, atau malah bukan apa-apa sama sekali? Mari kita coba untuk menganalisa.

Sejarah itu ditandai dengan catatan peninggalan yg bisa berupa gambar, suara, video, animasi, dan tulisan bukan? Teman dalam cerita di atas menceritakan secara lisan apa yang dialaminya dan sama sekali tidak ada gambar, rekaman suara atau video maupun tulisan. Mungkin jika dia termasuk orang besar yang terpengaruh, yang memiliki peranan besar dalam perubahan yang terjadi di dalam keluarga besarnya, apa yang dia ceritakan masih akan diceritakan oleh anak cucunya secara turun-temurun. Tetapi karena ceritanya berupa pesan berantai dari generasi ke generasi kemungkinan besar cerita itu lambat-laun akan ditambah atau dikurangi, baik disengaja maupun tidak, sehingga alurnya akan bergeser. Dan akhirnya kisah itu hanya menjadi semacam legenda yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Namun jika Ia hanya orang biasa saja, maka dalam perjalanan waktu kisahnya hanyalah uap sesaat di kala senja. Terlihat sebentar, lalu hilang selamanya.

Berbeda halnya jika dia menuliskan sendiri kisah perjuangannya. Ketika dia turun ke jalan, ketika dia berdemonstrasi menentang rezim yang sedang berkuasa dengan sewenang-wenang, dan ketika akhirnya dia bersama teman-teman mahasiswanya menang, maka hampir dipastikan apa yang dia lakukan merupakan bagian dari sejarah. Ini karena ada catatan berbentuk tulisan yang mengisahkan perjalanannya. Kisah mahasiswa sejati dalam memperjuangkan reformasi. Tinggal catatan tetsebut sempat terpublikasikan dengan baik atau tidak. Publikasi yang dimaksud di sini tentu tidak harus berupa percetakan buku yang diterbitkan oleh penerbit kenamaan, tetapi cukuplah ada bukti baik soft copy, hard copy, maupun keduanya yang bisa diakses oleh khalayak minimal orang lain selain pelaku.

Maka, mau pilih mana yang terjadi dengan kisah menarik kehidupan kita? Apakah mau menjadi bagian dari sejarah yang terekam dalam bentuk tulisan, menjadi legenda dari mulut ke mulut yang kurang jelas juntrungnya, atau malah tidak menjadi sesuatu sama sekali?

Jika kita ingin kisah-kisah kehidupan kita menjadi bagian dari sejarah, padahal tidak ada foto, gambar, video, maupun rekaman suara yang menyertai kejadian yang kita alami, pilihan terakhirnya adalah dengan menuliskannya. Tetapi jangan menunggu orang lain untuk menuliskan kisah kehidupan kita, karena mungkin waktu kita akan habis di saat menunggu. Mulailah dari sekarang untuk mengukir sejarah kita sendiri dengab Menemu Baling ( menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga).

Maka yakinlah bahwa hanya ada satu cara paling efektif agar pikiran-pikiran terbaik kita, perkataan-perkataan terbaik kita, dan praktek-praktek terbaik kita dapat menjadi SEJARAH yang mengandung pelajaran berharga bagi anak cucu dan generasi penerus kita, yaitu dengan MENEMU BALING-KANNYA. Ilmu manfaat yang terus menerus diakses dari tulisan tersebut yang digunakan untuk kemaslahatan umat manusia merupakan amal tiada terputus yang menjadi keutamaan kita di akhirat.

Salatiga, 17072017 pukul 09.39 WIB. Menemubaling dalam perjalanan dari Semarang ke Wonogiri untuk mengisi Workshop SAGUSAKU IGI dengan Bis Safari

www.igi.or.id/download

Comments

comments