Zaki Guru Honorer Anggota IGI Asal Aceh, Meninggal Dalam Pengabdian Di Papua

0
2836

Kabar duka menghiasi pemberitaan di media sosial pada hari Senin, 29 Juni 2020 lalu. Muhammad Zaki pemuda kelahiran Cot Kruet, Kreung Mane, Aceh Utara pada 22 Maret 1984, meninggal dunia pada 27 Juni lalu karena sakit dan dimakamkan di Nabire, Papua.

Selama 5 tahun terakhir, dia mengabdi sebagai guru honorer di SD Mbiandoga, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Khairuddin Budiman, salah seorang fungsionaris Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) asal Aceh pun berangkat mengunjungi rumah duka, ditemani para pengurus IGI Kota Lhokseumawe lainnya.

Khairuddin Budiman menuturkan bahwa Muhammad Zaki meninggalkan kampung halamannya mengikuti tes sebagai guru terpencil lewat jalur UGM Yogyakarta. Waktu itu tes dilaksanakan di Medan. Sebelumnya Zaki adalah operator Dapodik di Sawang Aceh Utara.

Zaki sejatinya sudah boleh pulang kampung setelah program dengan UGM berakhir. Namun Ketua Adat di Nabire meminta Zaki tetap mengabdi di Papua. Bukan tidak ada niat Zaki menjadi PNS seperti yang lain, dia bertahan sambil menunggu kebijakan pengangkatan PNS lewat jalur pengabdian daerah terpencil. Dia bertahan karena darah guru sejati mengalir di tubuhnya, guru bagi siapa yang lebih membutuhkan.

Perang TNI dan OPM masih berkecamuk, namun Zaki tetap bertahan diantara binar mata anak-anak Papua yang berharap pencerahan darinya. Anak-anak yang akan menggenggam masa depan di Papua, karena mereka adalah anak-anak asli suku Papua. Kalau bukan darah nasionalisme, mana mungkin Zaki bertahan, sementara di kampungnya di Leubue sudah lama perang GAM dan RI berakhir (daerah Zaki tinggal juga zona konflik dulunya).

 

Muhammad Zaki lahir pada tahun 1984, ayahnya meninggal pada tahun 1992. Berarti dia menjadi anak yatim sejak kecil. Keluarga Zaki tidak memiliki rumah tempat tinggal. Dia hanya tinggal dirumah neneknya, yang akhirnya rumah itu pun kini sudah roboh.

Kehidupan Zaki memang berada dibawah garis kemiskinan. Zaki biasa hanya makan pisang putik yang direbus ibunya untuk sarapan pagi, namun semua dilaluinya dengan tabah hingga dia dia tinggal di Pesantren. Ketika kuliah, Zaki lalui sambil bekerja di Krueng Mane. Sepulang kuliah jam 4 sore, di terus bekerja sampai pagi. Hingga akhirnya Zaki mengikuti mengikuti tes sebagai guru terpencil dan ditempatkan di Papua.

Khairuddin mengungkapkan bahwa sebelum Zaki meninggal dunia, ia pernah berkomunikasi dengannya. Ketika itu Zaki mengungkapkan rasa senangnya menjadi anggota IGI di wilayah Papua. Bisa meningkatkan kompetensi guru dengan saling berbagi pengalaman antar guru-guru se-Indonesia.

Ketika berada di rumah duka, Khairuddin beruntung bisa menelpon ibu Since, Ketua IGI Wilayah Papua. Melalui sambungan telepon, Bu Since memberi semangat kepada Ibu Zaki yang sekarang sebatang kara.

Bu Since mengungkapkan bahwa dia bisa menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Bapak Lukas Christian Sohilait. Pak Kadis memberikan semangat dan berterimakasih atas pengabdian Zaki yang luar biasa buat Papua. Pak Lucas kemudian meminta rekening Ibunda Zaki untuk memberikan donasi sebesar 10 Juta rupiah, bantuan kemanusiaan atas pengabdian tulus Zaki dalam mencerdaskan anak-anak Papua.

Sebelum meninggal, Zaki sempat membagi kisahnya mengabdi sebagai guru kepada salah satu media di Aceh. Kisah pengabdiannya di Papua kemudian viral setelah dibagikan ke berbagai media sosial. “Menjaring Asa di Ujung Timur (Kisah Nyata Kondisi Pendidikan di Pedalaman Papua)” http://www.harianguru.com/2017/07/menjaring-asa-di-ujung-timur-kisah.html

Menjadi guru adalah sebuah pengabdian, tugasnya adalah mencerdaskan anak-anak bangsa. Sementara tugas pemerintah adalah memfasilitasinya dan memberi kesejahteraan kepada mereka. Selayaknya pemerintah memberi perhatian yang serius terhadap nasib para guru honorer di negeri ini.

 

Sharing And Growing Together

 

Comments

comments