LITERASI PRODUKTIF ALA IGI

0
1334

 

tot

Oleh : (Mira Pasolong ; Pengurus Wilayah IGI Sulbar)

Tiga hari mengikuti Training of Trainer (ToT) Nasional Literasi Produktif yang diadakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Guru Indonesia, banyak tebaran ilmu pengetahuan, pengalaman, inspirasi dan motivasi menyebar ke 150 peserta. Sebuah ghirah membangkitkan kesadaran berliterasi yang luar biasa dari sebuah organisasi yang masih berusia seumur jagung. Ini sekaligus bukti bahwa usia tidak menentukan kematangan. Kematangan IGI dalam menyelenggarakan ToT berskala Nasional ini tanpa bantuan dana dari pemerintah adalah sebuah prestasi tersendiri yang sekaligus menunjukkan militansi orang-orang di baliknya.

Saya dan delapan puluh peserta lainnya mungkin belum seberapa, karena hanya perlu bersaing untuk bisa dipanggil mengikuti pelatihan calon pelatih ini, tanpa mengeluarkan biaya serupiahpun. Transportasi, akomodasi dan konsumsi semua ditanggung PP. Namun tujuh puluh peserta lainnya sungguh luar biasa. Demi semakin melangitkan asa untuk gerakan literasi yang membumi dan demi bersama-sama belajar dan menjadi cerdas serta turut mencerdaskan guru-guru Indonesia, mereka rela merogoh kantong sendiri.

Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 6-9 Oktober ini mungkin terlalu singkat untuk mampu menghasilkan trainer-trainer handal . Namun motto sharing and growing together, dan sebagai guru pembelajar, membuat hal itu kelak akan menjadi kenyataan. Bukankah ilmu itu semakin dibagi, akan semakin bertambah? Maka setelah ToT ini, lalu para trainer melakukan tugasnya melatih para guru se-Indonesia, dari situ kemapanan ilmu dan kematangan emosional sebagai pelatih akan semakin terasah dan bertambah. Insya Allah.

Militansi para peserta, panitia hingga fasilitator tidak perlu diragukan lagi. Dengan segala kekurangan sebagai manusia, keluhan sangat jarang terdengar, pun harus menerima materi hingga larut malam. Mengantuk itu manusiawi. Apalagi saya yang sejak hari pertama di LPMP Jawa Timur, Surabaya, tempat pelaksanaan kegiatan ini, sudah terserang flu hebat. Namun semangat dan keinginan untuk menjadi lebih baik dan berbagi kebaikan seolah mengubur semua ketidaknyamanan akibat kondisi fisik yang tidak fit.

Jangan ditanya bagaimana kualitas materi yang kami, para peserta terima. Fasilitator-fasilitator IGI yang mendampingi kami adalah guru-guru kreatif yang hebat. Semakin hebat karena mereka adalah guru pintar yang suka berbagi. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bapak Moch. Ichsan, Ketua Dewan Pembina sekaligus tokoh pendiri IGI, bahwa di Indonesia ini ada empat jenis guru, yakni Guru pintar dan mau berbagi, guru tidak pintar tapi mau belajar, guru pintar tapi tidak mau berbagi dan guru tidak pintar dan tidak mau belajar. “IGI cukup fokus kepada dua jenis guru, yakni guru pintar dan mau berbagi, dan guru tidak pintar tetapi mau belajar.” Demikian penuturannya membakar semangat peserta saat menutup acara ToT.

Keseriusan Pimpinan Pusat untuk menghasilkan trainer-trainer handal semakin terasa kala para peserta dibagi ke dalam enam kanal, sesuai minat dan potensi masing-masing peserta  Kanak-kanal tersebut adalah Sagusanov; komik dan media pembelajaran; Menulis dengan Mulut, membaca dengan telinga;  Penulisan buku; Penyusunan KTI dan pembuatan intranet sekolah menuju sekolah Paperless.

Literasi produktif ala Ikatan Guru Indonesia adalah bagaimana memaknai literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana guru-guru Indonesia mampu menggunakan teknologi untuk berkreasi dan berinovasi, menghasilkan sesuatu untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Literasi diperlukan bukan semata karena termaktub dalam K13 dan dengan Peraturan Menteri. Lebih dari itu, literasi adalah pondasi untuk mampu menjadi cerdas. Sehingga ada atau tidak ada dalam kurikulum, literasi tetaplah menjadi sesuatu yang wajib bagi guru.

Literasi produktif, sebagaimaan namanya, fokus pada penciptaan sebuah karya literasi. Apabila misalnya dalam berbahasa dikenal ada empat skill, yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis, maka keempatnya dikelompokkan menjadi dua yakni menyimak dan membaca sebagai kemampuan receptive; serta berbicara dan menulis sebagai kemampuan produktif. Kaitannya dengan ToT Nasional Literasi Produktif adalah pada fokusnya, yakni produktif, di mana, para trainer diharapkan mampu berbicara dengan baik untuk menyampaikan materi pelatihan, sekaligus mampu menghasilkan karya, berupa tulisan. Cita-cita IGI untuk menghasilkan Satu Juta Guru Penulis akan diwujudkan melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh para trainer IGI ini.

Para trainer dan juga guru-guru sasaran pelatihan literasi produktif diarahkan untuk menghasilkan karya. Apapun itu, sesuai minat dan kompetensinya. Bila semua trainer pada ke enam kanal ini melakukan tugasnya dengan baik, maka cita-cita untuk menghasilkan satu juta guru penulis, sebagaimana yang selalu disebutkan Ketua Umum PP IGI, MRR, akan segera menjadi nyata. Pernyataan bertandatangan yang dibuat dan disepakati oleh semua peserta merupakan upaya serius Ikatan Guru Indonesia. Satu juta guru penulis, bahkan lebih, bukanlah sebatas mimpi.

Pelatihan tiga hari dengan durasi melebihi pelatihan pada umumnya, nyatanya masih dirasa kurang. Terutama dalam mengeksplor pemanfaatan  Samsung Tab A8 dalam pembelajaran Eksplorasi teknologi memang membutuhkan waktu lama dan ketelitian. Samsung sebagao mitra kegiatan ini turut berpartisipasi aktif dengan memberikan materi seputar Tab A8. Banyak fitur menarik dan bermanfaat untuk pembelajaran yang terdapat dalam Tab berujuran 8″ ini. Belum lagi aplikasi-aplikasi instalan lainnya. Walau pihak Samsung telah seharian penuh membagi dan menjelaskan beragam fitur tersebut, namun masih banyak fitur-fitur yang membutuhkan eksplorasi lebih jauh. Keseriusan Samsung ini juga menunjukkan bahwa Samsung peduli akan peningkatan kompetensi guru, Terima kasih, Samsung… karenamu kami bisa belajar sampai ke Surabaya.

Selepas penutupan, otak serasa penuh dijejali ilmu oleh para Pemateri, termasuk penggunaan android dalam pembelajaran. Dalam lelah yang pasti ada, senyum sumringah dan bara semangat tergambar nyata di wajah semua peserta dan tentu saja panitia dan seluruh pengurus pusat. Ungkapan terima kasih yang tak cukup hanya diucapkan beribu-ribu kali, tetapi selayaknya ucapan itu diungkapkan dengan pembuktian memelihara semangat mencerdaskan guru-guru tanpa banyak mengeluh.

Semoga segala jerih payah Pimpinan Pusat dalam menjadikan guru-guru IGI sebagai guru abad 21 berbalas indah dengan membuminya budaya literasi di kalangan guru Indonesia. Bukankah untuk mampu mencerdaskan anak bangsa, guru sebagai ujung tombak pendidikan harus terlebih dahulu menjadi cerdas??

 

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here