KENANGAN TERINDAH IGI DALAM HGN 2016

0
641

Oleh: Widadi, PP IGI

Guru adalah kita…
yang setiap waktu bernafas dalam karya
Guru adalah kita…
yang tetap gigih mendidik generasi penerus bangsa

Jakarta-IGI. Pagi yang indah. Hari Minggu yang cerah. Puluhan ribu guru tumpah ruah. Hingga kaki-kaki yang gagah sulit melangkah. Meski harus bersusah payah. Tapi wajah-wajah mereka tetap cerah dengan senyum merekah. Di Sentul Internasional Convention Center yang megah.

Sejak malam hari hingga waktu subuh waktu setempat, area di sekitar SICC tempat peringatan Hari Guru Nasional 2016 akan diselenggarakan sudah diseterilkan oleh Pasukan Pengaman Presiden. Tentara dan polisi berjaga-jaga di setiap sudut. Ribuan kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil kecil dan bus-bus besar beriringan tanpa henti. Mendekati lokasi semua kendaran terhambat karena begitu banyaknya kendaraan. Tempat parkir kendaraan penuh. Kendaraan yang tiba belakangan parkir di sepanjang pinggir jalan yang lebar dengan aspal yang mulus. Para penumpang dengan seragam batik hitam putih dan seragam baju putih turun berhamburan mendominasi pemandangan sepanjang jalan. Puluhan, ratusan bahkan ribuan guru berjalan menuju gedung SICC.

Tukang ojek hilir mudik berseliweran mencari penumpang. Di antara ribuan guru yang berjalan kaki tampak pula beberapa orang yang mencarter ojek untuk mempercepat perjalanan. Tukang ojek kebingungan mencari ruang untuk melajukan kendaraan. Sebagian guru pun berteriak lantang, “Panen Kang, panen….” Ya… hari itu, Allah melimpahkan rezekinya kepada tukang ojek yang berhamburan dan pedagang asongan di sepanjang jalan dan halaman. Para pedangan menjual aneka asesoris organisasi guru seperti kaos, baju, slayer, topi, peci, penutup kepala khas jawa barat, dan banyak lagi yang lainnya.

Sahabat guru di seluruh Indonesia, hari itu adalah Puncak Peringatan Hari Guru Nasional. Puncak Peringatan HGN diadakan di Gedung Sentul Internasional Convention Center. Maka wajar jika insan pendidik berdatangan dari berbagai penjuru tanah air hingga memenuhi gedung, sepanjang jalan dan halaman. Jalan lebar beraspal mulus yang biasanya lengang, hari itu tak tampak kelihatan karena tertutup kaki-kaki para pejuang, pejuang pendidikan.

Mendekati pintu masuk Gedung SICC, insan pendidik berjubel dalam antrean yang sangat panjang. Bau aneka parfum bercampur keringat menembus hidung hingga tulang belakang. Di depan gedung di sisi sebelah kanan pintu masuk tenda-tenda megah berjejer dengan deretan meja, kursi, panggung dan dentuman suara speaker menggelegar bersahutan.

Antrean yang memanjang memaksa sebagian guru belok kiri masuk melalui lorong-lorong gedung yang di kanan dan kirinya dipenuhi stand. Keadaannya sama saja, penuh sesak berjejalan. Apalagi sebagian guru dan tamu undangan berhenti melihat-lihat isi stand. Sesampai di stand IGI saya terkejut begitu melihat ada artis duduk di dalam stand. Begitu saya dekati dan saya amati ternyata Bu Anchi yang sekilas mirip artis Marisa Haque. Duduk di sebelahnya Bu Rose yang masih tampak kelelahan. Belakangan untuk menghibur dan mengenangya sepak terjangnya di IGI saya buatkan lagu untuknya. Semoga tidak marah, he… he… he…

Di depan stand IGI saya bertemu teman-teman lainnya, ada Pak Slamet Riyanto, Teacher Writer yang telah sukses membuat ratusan buku, hingga dapat berkeliling ke berbagai negara. Ada Pak Bambang Setiawan dari Bima, teman sekamar waktu ToC di Surabaya. Ada lagi Kang Dahli Ahmad, sosok yang saya kagumi karena kegigihannya dalam belajar dan berbagi ilmu. Kami saling lempar senyum, bertegur sapa dan berpelukan. Rasa rindu sebagai sahabat guru seolah tertumpah di kala itu hingga sebagian dari kami tak tahan menahan haru. Jadilah area di depan stand IGI menjadi ajang temu kangen reunian dan selfie-selfiean. Oh…, indahnya kebersamaan.

Nah sahabatku, itulah karakter Guru-Guru IGI, jangankan yang sudah pernah bertemu. Baru bertemu sekali saja terasa sudah menjadi saudara. Ikatan batin kami begitu kuat. Maka tak heran jika IGI di mana-mana punya guru saudara.

Sebenarnya ada yang kurang saat itu. Saya sangat merindukan MRR, Ketua Umum IGI Pusat. Namun apa hendak dikata, beliau mempunyai kesibukan yang tak mungkin ditinggalkan. Saya juga merindukan Mas Abdul Halim, Sekjen IGI Pusat, sebab ketika ToC di Surabaya saya baru mengenalnya sekilas. Saya juga merindukan Pak Joko Wahyono, penulis buku best seller “(Sekolah Kaya Sekolah Miskin)” yang memotivasi dan menggetarkan hati. Saya sangat ingin bertemu dengan Mas Abdul Kholiq (Sagusanov). Mr. Mung (Sagusablog) dan Master-master IGI Lainnya. Beruntung di dalam gedung saya bertemu dan duduk berdekatan dengan Mas Elyas yang selalu ceria. Mudah-mudahan sahabat-sahabat saya itu sempat membaca artikel ini dan syukur-syukur berkenan menuliskan komennya sebagai pengobat rindu. Sekali lagi, semoga.

Puas temu kangen, kami menuju ruang perhelatan. Sebentar kemudian kami sudah berada di ruang perhelatan. Wow…, luaaaar biasa pemandangan yang menakjubkan. Kini sebagain besar guru dan tamu undangan sudah berada di dalam ruang yang luas dan megah. Ruangan luas dan megah itu sudah dipenuhi oleh sebagian insan pendidik negeri ini dengan berbagai macam seragam kebesaran organisasi profesi tersebut. Saya masuk ketika 10 teman guru IGI berada di atas panggung membaca puisi. Dari pintu saya masuk tepat di depan panggung di sebelah kiri saya berjalan lokasi dipenuhi dengan teman-teman guru berseragam PGRI. Gemuruh suara luar biasa terdengar serasa paduan suara begitu pembaca puisi secara bergantian membaca puisi. “Guru adalah kita…..”

Kelompok paduan suara guru dari PGRI yang sesungguhnya berada di sisi sebelah kiri panggung. Kelompok paduan suara pelajar berada di sebelah kanan panggung dengan aneka seragam yang serasi. Paduan suara guru menyanyikan lagu-lagu indah, lagu kenangan yang menghibur. Paduan suara pelajar menampilkan lagu-lagu wajib nasional yang menggetarkan dada dan menerbangkan sukma tinggi mengangkasa. Tak urung seluruh anggota badan bergetar dan merinding dibuatnya. Penyanyi solo, duet dan trio ikut menyemarakkan susana. Sementara itu aneka tarian menambah gencar, semarak dan indahnya suasana.

Sebentar kemudian pembawa acara memangggil puluhan anak-anak negeri yang berprestasi. Ada guru, ada camat, bupati/wali kota dan tokoh masyarakat lainnya. Wajah mereka di atas panggung tampak berseri-seri dan berbunga-bunga, hingga saat Presiden Jokowi tiba. Mengenakan seragam batik putih hitam khas PGRI, Presiden Jokowi berjalan pelan dan menaiki panggung.

Tepuk tangan hadirin menggemu hingga menggetarkan ruangan dan panggung kehormatan. Setelah menyampaikan salam dan menyapa undangan dengan menyebutkan nama-nama organisasi guru yang hadir saat itu. Presiden Jokowi sempat bergeser ke kiri, maju beberapa langkah ke depan dan menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada para guru atas jasa dan perjuangan mereka. Tak ayal gemuruh sorak kembali membahana.

Pidato Presiden Jokowi telah usai, saya dan beberapa teman IGI masih berada di dalam ruangan. Sementara itu info dari teman-teman IGI yang menjaga stand mengabarkan bahwa Presiden Jokowi dan rombongan sempat mengunjungi stand IGI, bercengkerama dan melakukan video conference dari stand IGI ke seluruh penjuru nusantara.

Di dalam ruangan gedung kami masih duduk rapi mengikuti acara demi acara hingga dibacakannya nomor undian. Pada acara HGN tersebut panitia menyiapkan hadiah undian berupa tiket pesawat, hendphone, laptop, sepeda, dan sepeda motor dengan jumlah yang fantastis.

Satu-demi satu nomor undian dibacakan, hati sebagain besar guru berdebar-debar. Sesekali melihat ke panggung sesekali melihat nomor undian yang dipegang di tangan. Beruntung beberapa guru IGI ada yang mendapatkan undian. Ada yang mendapatkan handphone, laptop bahkan sepeda motor.

Pengumuman nomor undian berakhir. Sebagian guru dan tamu undangan keluar mengambil makanan, shalat dzuhur, dan beristirahat. Sementara yang lain antri mengambil kaos yang telah disiapkan panitia. Kaos putih indah berlogo Tut Wuri Handayani dan bertuliskan Hari Guru Nasional 2016 dan HUT PGRI Ke-71.

Sayup-sayup suara pengeras suara di panggung masih terdengar dari luar gedung. Sebagian guru dan undangan mulai menjajal kaos dan menghabiskan makanan, sementara itu stand-stand sibuk membagi-bagikan tas, brosur buku dan mainan. Guru-Guru IGI dengan langkah rapi segera menuju stand. Sesampai di stand kami duduk-duduk melepas lelah sambil ngobrol ngalor-ngidul, ketawa-ketiwi dan menikmati hidangan.

Hari menjelang sore, guru dan undangan mulai meninggalkan tempat perhelatan. Giliran penjaga stand, petugas kebersihan dan petugas panggung merapikan ruangan. Sementara itu Mas Mampuono (Sekjen IGI) dan Mas Gusti Surian (Bendum IGI) mengajak kami naik ke lantai dua untuk beristirahat sambil melakukan evaluasi. Evaluasi kegiatan. Meeting selesai, Kami pun saling berpamitan dan pulang berpencaran. Tinggallah capai terasa disekujur badan, tetapi hati puas bertemu teman dan acara akbar yang berjalan lancar.

Nah sahabatku, itulah kenangan terindah IGI dalam HGN 2016 yang tak terlupakan. Untuk mengakhiri tulisan ini ada baiknya jika saya mengajak sahabat semua untuk menyanyikan Lagu Kenangan Terindah (Samsons) berikut ini: bila yang tertulis untukku/ adalah yang terbaik untukmu/ kan ku jadikan kau/ kenangan yang terindah dalam hidupku/ namun takkan mudah bagiku/ meninggalkan jejak hidupku yang terukir abadi/ sebagai kenangan yang terindah…//.

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here