Jika Benar Berawal Dari Unifa, IGI Akan Laporkan Plt Ketum PB PGRI Itu Ke Mabes Polri

1
6169

Tampaknya upaya pemerintah untuk mempersiapkan organisasi profesi guru mendapat tantangan hebat dari PGRI. Jika ditelusuri lebih jauh, pernyataan “dari guru, oleh guru, dikelola dan dipimpin oleh guru” telah mengusik orang-orang yang selama ini BUKAN GURU tapi menunggangi organisasi guru termasuk Plt Ketua Umum PB PGRI Unifa Rosyidi dan hampir semua pengurus PB PGRI.

Hari ini telah menjadi viral serangan mereka yang menyasar ke Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud. Viral ini tersebar cepat karena menurut informasi berasal dari Plt Ketua Umum PB PGRI, Unifa Rosyidi. 

Dosen UNJ ini mungkin termasuk yang resah karena sejatinya Unifa Rosyidy bukanlah guru tapi dosen UNJ. Unifa terdaftar sebagai dosen di UNJ http://pps.unj.ac.id/sdm/dosen/

IGI memang sangat setuju dengan Kemendikbud yang bermaksud menetapkan salah satu atau beberapa organisasi guru sebagai organisasi profesi guru namun organisasi guru yang dijadikan organisasi profesi guru adalah organisasi yang berasal dari guru, dikelola dan dipimpin oleh guru.

Pemerintah pun sudah seharusnya meninjau kembali kebaradaan PGRI sebagai organisasi guru karena PGRI saat ini lebih banyak ditunggangi oleh mereka-mereka yang bukan guru. Unifa Rosyidi yang bukan guru seharusnya melepaskan jabatannya dan berhenti memperalat guru. 

Viral di media sosial hari ini menyerang pribadi Muhammad Ramli Rahim, Ketua Umum Ikatan Guru Indoensia, IGI secara organisasi, Anies Baswedan dan Juga Dirjen GTK.

Inilah viral yang beredar luas di grup-grup Medsos PGRI yang kabarnya berasal dari Unifa Rosyidi, Plt Ketua Umum PB PGRI :


“Alhamdulilah, malam ini saya mendapat informasi yg sangat bermanfaat bagi PGRI. Betapa tidak, sebut saja IGI dibawah pimpinan Muhammad ramli rahim (MRR) yg selama ini mengganggu PGRI dan selalu berjuang untuk atas nama guru, ternyata bohong.


MRR yang selama ini mengaku sebagai guru SMK kehutanan di Maros ternyata juga adalah bohong karena sekolah yg dimaksud sama sekali tidak ada


MRR itu tdk lain adalah pengusaha bimbingan belajar Ranu Prima College (RPC) yg sama sekali tdk memiliki sarana dan fasilitas belajar, termasuk tdk memiliki siswa. 
MRR merai keuntungan hanya dgn menjual nama RPC kepada pihak2 yg bersedia membuka atau mendirikan cabang. Setiap cabang MRR mendapatkan keuntungan 10 % tanpa memberikan bantuan sedikitpun kepada pihak yg membuka cabang. Karena itu model usaha RPC yg dimiliki adalah mirip dgn usaha perniagaan francais.


Usaha RPC yg berkembang kemudian membuka cabang pada hampir semua kabupaten kota di Sulsel dan merekrut pengusaha muda Utk diajak bergabung.


Perkembangan usaha RPC ini dimanfaatkan Utk membesarkan IGI karena semua cabang RPC di kabupaten kota yg telah dibentuk sekaligus ditunjuk sebagai ketua cabang IGI yg pengurusnya bukan berasal dari guru. Perkembangan IGI semakin segar setelah dipertemukan dgn Anis Baswedan yg sementara merintis/berjuang Utk mencalonkan diri sebagai Presiden RI. 
Karena itulah IGI selama ini dibackup oleh Anis Baswedan (AB) yg selama jadi menteri IGI semakin Jaya. AB juga yg menetapkan Bhw ada empat organisasi guru yg diakui oleh Pemerintah. 


Setelah AB berhenti jadi menteri, maka yg membackup IGI sekarang adalah Dirjen GTK shg dapat dipastikan Bhw kalau Dirjen GTK berhenti maka IGI pasti mati suri. 
Sebenarnya saat ini IGI sudah tdk berdaya, tetapi pencitraannya melalui media sosial sangat luar biasa, seakan akan ia selalu berjuang Utk guru, memberikan perlindungan terhadap guru, meningkatkan keprofesian terhadap guru dan berbagai kegiatan lain yg seakan rutin dilaksanakan oleh IGI, padahal itu semua adalah penuh kebohongan. 


Segala bentuk kegiatan yg dilakukan oleh IGI berorientasi pada profit. Mereka mengeksploitasi guru Utk membayar mahal pada setiap kegiatan. Termasuk kegiatan yg dilakukan bekerjasama dgn Samsung. Dia menjual program seharga 7 juta yg sesungguhnya bisa diakses sendiri oleh guru, karena promosinya bagus, maka banyak guru yg tergiur Utk membeli meskipun harus dicicil. 


Nampaknya modus bisnis terselubung ini sudah diketahui oleh sebahagian guru di Sulsel. Shg MRR hijrah ke Sulbar. Beliau menelusuri sulbar dari kabupaten ke kabupaten. Tujuannya adalah menjual program untuk mencari keuntungan.”





Hampir seluruh yang beredar ini adalah fitnah dan jauh dari kebenaran, SMKS Widya Nusantara adalah sekolah yang riel dan terdaftar di kemendikbud 

http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/sekolah/7A5E7A7A52B9FE

SMK Kehutanan Widya Nusantara adalah Boarding School, jadi berasrama

Ketum IGI memang guru yang memiliki sejumlah usaha, tentang RPC bahkan pernah dijelaskan langsung ke Mendikbud Anies Baswedan https://m.youtube.com/watch?v=rlsYs2SsnK0

Bukan cuma RPC, Muhammad Ramli Rahim bahkan memiliki perusahaan properti yang terdaftar di REI dan sedang membangun rumah subsidi dan beberapa usaha lainnya yang membuatnya terkadang membiayai sendiri perjalanannya dalam upaya mendorong kompetensi guru di daerah-daerah. 

https://m.youtube.com/watch?v=IO3RVfVNXLo

https://m.youtube.com/watch?v=uP5kNX8ylug

Berbeda dengan Unifa yang bukan Guru, MRR, Ketum IGI adalah guru yang mengajar di kelas, di sekolah, bukan di Kampus PT

MRR saat mengajar di Kelas 10 SMK Kehutanan Widya Nusantara Maros
 

Apakah MRR memanfaatkan RPC dan perusahaannya yang lain untuk membesarkan IGI, mungkin ada benarnya karena disaat IGI tak punya dana untuk mengembangkan kemampuan guru, MRR justru merogoh koceknya untuk itu.

Lalu  apakah ketua-ketua IGI adalah orang-orang RPC, sebaiknya pembuat tulisan itu mengecek kembali, mungkin bisa dicari dan ditunjukkan satu orang saja ketua IGI di Sulsel dan Sulbar yang orang RPC?

Biar kita buktikan, siapa sesungguhnya yang berbohong dan menyebar fitnah.

Apakah IGI menjual program seharga tujuh juta rupiah, kawan-kawan IGI lebih paham dengan semua ini dan jika itu betul, yakinlah, tak akan ada yang mau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan IGI.

Bagaimanan dengan pengaruh AB?

Justru terlihat setelah AB tak lagi jadi menteri, IGI bahkan jauh lebih berkembang sehingga tuduhan soal AB mengembangkan IGI juga tak beralasan.

Untuk itu IGI berkesimpulan bahwa hal ini adalah upaya pencemaran nama baik, baik pribadi MRR maupun IGI sebagai organisasi. Atas dasar kesimpulan tersebut, IGI melalui Ketua Bidang Advokasi Pengurus Pusat IGI akan melaporkan Unifa Rosyidi ke Polda Kalsel dimana Ibu Hj Noorbaety, Ketua Bidang Advokasi IGI berdomisili dan juga mempersiapkan laporan ke Mabes Polri atas kejahatan di dunia maya atau Cyber Crime jika betul viral itu berawal dari Unifa. Hal ini agar memberikan efek jera kepada Unifa Rosyidy, Dosen yang selalu mengatasnamakan guru.

Comments

comments

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here