ANAK GUNUNG MENCARI ILMU

0
1397

Drs. Armel
(SMP N 3 Canduang, Sumatera Barat)

Pengalaman berharga yang diperoleh selama mengikuti kegiatan “Training of Trainer, Literasi Produktif Berbasis IT” yang diselenggarakan IGI yang bekerjasama dengan PT. Samsung Indonesia di Balai Diklat Keagamaan Kemenag, Rawa Kuning, Jakarta Timur. Di samping mendapatkan bermacam ilmu yang memanfaatkan bermacam aplikasi IT juga mendapatkan rasa persaudaraan antarlintas suku, agama, ras. Dari sisi keilmuan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa yang semuanya diantarkan oleh master-master pelatih yang sudah speliasasi dengan bidangnya. Dari sisi persauadaraan, melebihi rasa bersaudara kandung padahal itu baru pertama kali bertemu. Selama kegiatan berlangsung, tidak ada rasa risih di antara sesama kami. Kami saling berbagi saling membantu dalam beberapa hal yang terkendala. Entah kapan kan terulang.

Hal yang saya terima selama di pelatihan tidak pernah terbayangkan saat meninggalkan pegunungan tempat saya mengajar selama ini di sebuah kabupaten. Awalnya saya merasa berat juga untuk ikut karena sekolah saya hanya sekolah kecil, sekolah yang terdiri dari tiga kelas saja (satu rombel kelas 7, satu rombel kelas 8, satu rombel kelas 9). Apa sih yang harus saya kejar, hanya akan menghabis-habiskan uang, tenaga, dan waktu saja. Apalagi di tempat pelatihan diyakini saya akan bertemu dengan guru-guru yang berasal dari sekolah-sekolah besar yang telah mapan. Tetapi, batin saya membantah meskipun berada di sekolah kecil saya mesti memberikan yang terbaik untuk siswa-siswa di sekolah. Saya harus menambah ilmu dan mencari yang baru untuk siswa saya.

Dengan peperangan batin yang kuat dalam beberapa hari, akhirnya saya putuskan untuk ikut pelatihan yang diselanggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Jakarta. Saya pun menghubungi salah seorang pengurus IGI, yaitu Bapak Danang. Beliau saya minta tolongi mendaftarkan sebagai peserta pelatihan. Belakangan dari Ibu Azizah  saya mendapat kabar bahwa ada beberapa orang rekan-rekan guru yang juga pengurus IGI Sumbar juga menjadi peserta kegiatan tersebut.

Saya pun berangkat menuju Kota Jakarta untuk mengikuti pelatihan Literasi Produktif Berbasis IT. Hari Jumat, 23 Desember 2016 kami peserta dari Sumbar berkumpul di tempat pelatihan dan sekalian bermalam di situ dengan beberapa rekan dari propinsi luar Pulau Jawa. Pertemuan malam itu saja tidak menggambarkan bahwa kami sebelumnya belum pernah bertemu sama sekali. Percakapan kami seakan memperlihatkan bahwa kami itu  itu telah lama kenal dan sudah sering bertemu, padahal tidak. Begitulah gambaran keakraban yang tak pernah terbayangkan oleh saya sebelum berangkat dari pegunungan.

Suatu hal yang mungkin orang lain tak menyangka bahwa seluruh peserta yang mengikuti pelatihan tersebut bermodalkan kemandirian. Kami hadir dalam kegiatan ini dengan biaya sendiri bahkan tak merasa berat harus mengeluarkan uang tambahan yang lumayan banyak bagi saya yang dari daerah untuk membeli Samsung Tab A8. Semuanya itu kami lakukan hanya untuk mendapatkan ilmu tambahan demi anak-anak didik kami nanti di sekolah.

Sebetulnya secara kasat mata saya tak perlu lah harus pergi mengikuti pelatihan tersebut,karena sekolah saya hanya punya 3 rombel dengan jumlah siswa yang minimal. Di tempat saya itu mau saja anak2 masuk sekolah umum sudah syukur itu karena pada umumnya anak-anak mereka masukke sekolah agama atau pesantren. Namun saya pernah berpesan pada anak-nak didik saya, “Kita boleh sekolah di atas gunung dengan sekolah kecil, tapi tidak boleh menjadi orang kecil dengan kepala kecil. Kita tidak boleh merasa kalah dengan yang bersekolah di sekolah besar”. Perkataan seperti itu hanya akan bisa sampai kepada anak kalau gurunya juga harus berani mencari yang lebih untuk anaknya walaupun sekolahnya di atas gunung. Hal itulah yang menguatkan diriku untuk terus mencari, mencari dan menambah ilmu yang bisa bermanfaat di sekolahku.

Selama mengikuti pelatihan sungguh banyak yang diperoleh dari berbagai hal. Pelatih-pelatih tak pernah merasa bosan membimbing kami para peserta apalagi orang seperti saya yang sudah mulai terkena faktor U. Tak dapat kubalas jasa para pelatih yang telah memberi aku dari tak tahu menjadi tahu dari tak bisa menjadi bisa, namun mereka semua menganggap itu semuanya adalah hal yang biasa karena kita bersama bersaudara untuk saling berbagi dan saling membantu.

Dari segi mengikuti teknologi aku termasuk yang agak lambat juga menangkapnya, yaa mungkin faktor U itu. Meski pun begitu aku tidak mau terlena dengan faktor tersebut aku tetapharus berusaha. Kalau orang lain bisa selesai satu jam, barangkali aku baru siap 3 jam. Tidak apa-apalah terlambat, tapi bisa. Motivasi seperti itulah yang tertanam dalam diriku ketika menghadapi teknologi.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) telah membawaku menjadi jauh dari ketertinggalan. IGI memberikan yang tak pernah kuperoleh selama ini dalam setiap pelatihan. Selama ini pelatihan yang kuikuti selalu hanya bergerak tentang adminstrasi pembelajaran. Jarang sekali yang bergerak memberikan inovasi pembelajaran yang menarik pada siswa dan menyenangkan pada gurunya. Hanya pada IGI lah saat ini aku peroleh walaupun belum optimal. Aku pun menyadari tantangan dan halangan sekembalinya dari TOT DKI ini. Tapi, aku yakin dan insha Allah akan membantu aku dalam menghadapi segala kendala dan tantangan tersebut. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan Maha Pemberi Petunjuk untuk menghadapi semuanya. Semuanya kan kupersembahkan untuk anak bangsa secara ikhlas.

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sururi Aziz, Ibu Rahmi, Bapak Widadi Muslim, Bapak Danang Hidayatullah, Ibu Azizah, Bapak Badrun Fuady, Bapak Syarifudin, Ibu Yuli Rachmawati, Ibu Ella, Bapak Irwan R, Bapak Ali, Ibu Jannah, Ibu Nenny, dan Seluruh Panitia Penyelenggara. Mudah-mudahan Allah memberikan balasan yang setimpal untuk semuanya. Insha Allah dilain kesempatan Allah akan mempertemukan kita kembali pada kegiatan yang sama. Salam IGIERS

Comments

comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here