Pimpin IGI Wilayah Bali, Suwirya Rancang Agenda Besar Guru

0
40

I Wayan Suwirya, S.Pd., terpilih menjabat Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Bali awal 2018, menggantikan ketua sebelumnya Dr. Md Suciani, M.Pd., yang mengundurkan diri karena dimutasi ke LPMP Provinsi Bali.

Sembari menunggu SK penetapan dari Pengurus Pusat (PP) IGI, Suwirya sudah merancang sejumlah agenda besar untuk peningkatan kompetensi guru di wilayah yang ia pimpin. Suwirya menjelaskan, setelah SK pengesahan Pengurus IGI Bali diterbitkan, pihaknya akan tancap gas dengan beraudiesnsi ke gubernur Bali, Kadisdik Provinsi Bali dan kabupaten/kota, akadimisi, pakar pendidikan, politisi, legislatif, dan seluruh ‘stakeholder’ lainnya.

“Seperti biasa yang pertama kita lakukan pasti perkenalan. Termasuk dengan orang-orang partai politik, agar mereka tahu siapa kita,” kata Suwirya di Denpasar, Rabu (7/2/2018).

Selanjutnya, masih menurut dia, IGI Bali akan fokus pada implementasi program besar PP IGI yakni ‘sharing and growing together’ melatih 1 juta guru di tahun 2018. Di Bali sendiri, dalam waktu dekat bakal digelar workshop TOT kanal SAGUSAMPI (satu guru satu multi media pembelajaran interaktif) bertempat di SMPN 5 Denpasar. Dilanjutkan secara periodik kanal-kanal lainnya yang dielaborasikan dengan narasumber berkompeten di Bali.

Menurutnya, IGI memiliki beberapa kanal yang sangat inovatif menyesuaikan dengan kemajuan teknologi pendidikan untuk menciptakan guru kreatif di dalam kelas di dalam kelas, sehingga memudahkan siswa belajar, cepat, tepat, bermakna dan menyenangkan.

“Peran guru sangatlah strategis untuk mengubah bangsa ini melalui menyiapkan masa depan anak bangsa. IGI punya 67 Kanal Pelatihan yang siap diaplikasikan di seluruh Indonesia. Tim Kemendikbud telah melihat langsung dan tim Penjamin Mutu Kanal Pelatihan IGI telah merampungkannya,” ucapnya.

Pada 2018 ini, lanjut dia, IGI akan menyebar 2 ribu pelatih dari Sabang hingga Merauke. Para pelatih itu sudah disumpah untuk siap melatih di Seluruh Indonesia baik diberi honor maupun tak diberi honor. Menurutnya ini membuktikan IGI memegang teguh komitmen mengabdi atau ‘ngayah’ untuk Bangsa Indonesia. “Bapak dan Ibu cukup menyediakan biaya transportasi dan akomodasi saja sesuai kebutuhan. Jadi tidak ada alasan lagi bagi guru untuk tidak meningkatkan kompetensinya,” pungkas dia.

(Sumber: fajarbali.com)

Comments

comments